enin, 26 Mei 2008, *Habis BBM, Terbitlah BLT, lalu? * Oleh Banyu Biru Djarot
Secara kasat mata, pemandangan dan kata "antrean" menjadi hal yang paling populer di Indonesia sekarang. Yang miskin antre pembagian hak BLT mereka dan yang sedikit berduit antre untuk kewajiban membeli BBM demi kelanjutan hidup mereka. Subsidi silang masif ala pemerintahan SBY memang ada baiknya. Namun, ada hal yang membedakan program di atas untuk jangka panjangnya, yaitu multiplier effect yang mengikuti. Suasana Awal Pada malam kenaikan harga BBM, terlihat masyarakat "antusias" melakukan penghematan terakhir atas kenaikan harga BBM di berbagai SPBU. Lalu, beberapa hari kemudian kita juga dapat menyaksikan rakyat kebanyakan yang terlihat "antusias" mengambil jatah BLT yang menjadi hak mereka. Rekam jejak minggu-minggu terakhir di Indonesia inilah yang merupakan realisasi dari kebijakan politik ekonomi yang diambil pemerintahan. Kesusahan ekonomi riil dan kemiskinan menjadi kata-kata yang tepat untuk diposisikan sebagai kesimpulan akan landasan dan dampak yang dihasilkan lemahnya sistem perekonomian kita sebagai bangsa. Lalu, apakah program-program yang diambil pemerintah itu merupakan suatu kebijakan ekonomi yang integrated (terpadu) dan akhirnya memberikan solusi berkesinambungan dalam jangka panjang? Rasanya, pertanyaan itu susah dijawab. Mengapa? Sebab, kebijakan mengenai BBM dan BLT, jika dilihat dari anatomi struktur ekonomi, sebenarnya hanya mempunyai korelasi praktis yang bersifat temporer secara ekonomi alias hanya sementara. Struktur BBM dan BLT Jika dilihat sekilas, faktor inflasi dan daya beli menjadi jargon ekonomi yang menggerogoti nilai rupiah yang dibagikan dalam bentuk BLT tersebut. Andai per gakin (warga miskin) diberi Rp 100.000, kenaikan harga BBM sebesar 28,7% sudah mengurangi nilai tersebut melalui anticipated inflation (kenaikan harga lebih dulu) Rp 28.700. Lalu, karena Ibu Sri Mulyani (menteri keuangan) mengatakan akan ada kenaikan sekitar 2% sebagai dampak awal kenaikan harga BBM, bisa diartikan 2% dari Rp 100 ribu itu menjadi pengurangan tambahan Rp 2.000. Terus, Ibu Mari Pangestu (menteri perdagangan) mengatakan bahwa kenaikan sembako berada di kisaran 1-5% dan tidak akan melebihi 25% karena akan dilakukan operasi pasar, jika mengambil (skenario terburuk) worst case scenario, nilai maksimum bisa mencapai Rp 25 ribu. Dengan demikian, nilai par value yang Rp 100 ribu itu belum apa-apa sebenarnya sudah tergerus kira-kira Rp 55.700 yang menyisakan riil purchasing power Rp 44.300, walaupun dampak inflasi masih lama akan terasa. Pemerintahan SBY yang disertai kerja keras para menterinya sudah selayaknya diberi penghormatan. Sebab, memang pada dasarnya jalan pintas menuju kesejahteraan rakyat secara menyeluruh itu susah dan membutuhkan waktu. Subsidi silang dengan relokasi Rp 14 triliun kepada 19,1 juta RTS (rumah tangga sasaran) memang merupakan target yang mumpuni. Sebab, pastinya mereka yang diberi BLT tidak mempunyai sarana transportasi yang merupakan penyerap terbesar dari subsidi BBM selama ini. Tetapi, di sisi lain, penyaluran yang hingga kini hanya baru diumumkan untuk beberapa bulan ke depan rasanya belum mencukupi untuk meng-cover spiral kenaikan harga dan perbedaan harga yang mungkin terjadi di berbagai market di Indonesia. Singkat kata, jika BLT hanya mempunyai efektivitas kurang dari 50% purchasing power dan hanya untuk beberapa bulan alias short term effect, sebaliknya kenaikan BBM mempunyai pengaruh untuk long term effect, yaitu rantai ekonomi: biaya produksi, transportasi, dan harga barang di tempat (tentunya berbeda-beda bergantung pada faktor lokasi. Contoh: warung, pasar, supermarket) dan ini mengambil waktu lama. Solusinya? Langkah apa yang harus kita jalankan? Secara umum, pemerintah bisa mempunyai dua program berskala nasional. Di bidang energi, pemerintah bisa melaksanakan integrated program untuk green energy economy sebagai alternatif utama. Kerja sama regulator dengan industri otomotif dengan prioritasisasi mobil hibrida, pengembangan sektor energi alternatif (geothermal, biofuels, tenaga angin, tenaga solar panel matahari, tenaga air, tenaga ombak, atau bahkan blue energy) yang didukung pemerintah sebagaimana Tiongkok dan Rusia mengembangkan industri mereka. Dengan Indonesia yang memang berbasis agraris dan maritim serta dipenuhi pegunungan berapi, rasanya energi alternatif menjadi sasaran yang sangat potensial untuk diutamakan. Dengan begitu, ketika harga BBM nanti harus naik lagi karena tekanan harga minyak dunia dan APBN, rakyat sudah memiliki pilihan energi. Di bidang ekonomi kerakyatan, selain memberikan parasetamol program seperti BLT, mungkin pemerintah bisa membuat bank atau institusi di bawah Depkeu atau lembaga yang langsung dipimpin presiden yang terdedikasi sebagai pararel dan/atau parsial dari BLT dengan revolving fund (penempatan dana yang berputar) seperti yang dilakukan Grammen Muhammad Yunus melalui Grammeen Bank. Bukankah Grameen Bank sukses menyediakan kredit tanpa jaminan untuk masyarakat miskin, berdiri di 2.431 cabang yang menyediakan kredit bagi 7,2 juta rakyat miskin di 78.659 desa di Bangladesh untuk wiraswasta bagi rakyat miskin di pedesaan, terutama kaum perempuan miskin? Nah, bedanya, jika pendanaan mikro memberikan suku bunga 18-60% (jauh lebih rendah dibandingkan dengan rentenir yang di kisaran 120-300%), mengapa lembaga ini tidak memberikan pinjaman dengan suku bunga yang sangat rendah atau bahkan nol persen (subsidi minimum dana rakyat mandiri sebagai alternatif subdisi maksimum melalui BBM)? Toh, kenyataannya BLT yang triliunan itu juga merupakan dana habis (sinking fund). Hanya, poin plus yang mungkin bisa diciptakan bahwa Grameen Bank ala Indonesia ini membutuhkan injeksi dana yang interval waktunya jauh lebih lama daripada BLT dan bersifat menurun. Usul yang naif? Mungkin saja. Tetapi, kenyataannya dari sisi energi banyak negara yang melakukan swasembada energi dengan fusi energi fosil dengan energi terbarukan. Demikian juga, kewirausahawan ekonomi seperti Bangladesh. Banyu Biru Djarot, aktivis pemuda di Jakarta Sumber : Jawapos -- ********************************** Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist ************************************ [Non-text portions of this message have been removed]
