Kimia Farma Naikkan Harga Obat
  Wednesday, 28 May 2008

JAKARTA (SINDO) - PT Kimia Farma Tbk (KAEF) akan menaikkan harga obat
bermerek (branded) sebesar 10-15% pada Juni mendatang.

Meningkatnya harga bahan baku menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak
(BBM) menjadi pemicu kenaikan harga tersebut. "Pembahasannya masih terus
kita godok.Kemungkinan Juni akan ada penyesuaian harga," kata Direktur
Keuangan Kimia Farma Rusdi Rosman seusai rapat umum pemegang saham tahunan
(RUPST) di Jakarta kemarin.

Menurut Rusdi, selain penyesuaian harga obat bermerek, perseroan juga telah
menaikkan harga obat generik sebesar 20% dengan mengacu ketetapan
pemerintah. Dia juga tidak menutup kemungkinan harga obat generik kembali
naik."Tapi itu masih menunggu pengumuman pemerintah, kami tidak bisa bicara
sekarang,"katanya.

Menurut Rusdi, kenaikan harga BBM berdampak sangat besar ke sejumlah lini
bisnis perseroan, antara lain kenaikan harga bahan baku. Kenaikan harga
bahan baku ini juga dipengaruhi tersendatnya pasokan dari China yang memasok
90% kebutuhan bahan baku perseroan. "Sejumlah pabrik bahan baku obat di
China tutup karena persoalan lingkungan menyusul diselenggarakannya
Olimpiade,"paparnya.

Kenaikan harga obat,sambung Rusdi,juga diakibatkan meningkatnya biaya
transportasi dan kenaikan harga listrik yang diperkirakan terjadi pada
kuartal II/2008. Rusdi menekankan,meski harga BBM naik, pihaknya optimistis
target pertumbuhan tahun ini tercapai dengan melakukan efisiensi biaya.
"Variabel cost-nya akan kita tekan,"tandasnya.

Tahun ini Kimia Farma menargetkan penjualan tumbuh 14% dari realisasi 2007
sebesar Rp2,635 triliun.Adapun laba bersih ditargetkan naik 18% dari tahun
lalu Rp52,189 miliar. Dihubungi secara ter-pisah, Direktur Keuangan PT
Indofarma Tbk (INAF) Deden Edi Sutrisna mengatakan, perseroan belum
berencana menaikkan harga jual farmasinya. Hal ini terkait dengan peraturan
harga obat generik yang ditetapkan Departemen Kesehatan (Depkes).

"Kami tidak menaikkan harga,terutama obat generik. Harga sudah ditetapkan
oleh Depkes dan dalam kondisi apa pun kami tidak bisa menaikkannya,"
urainya. Menurut Deden,kenaikan harga BBM memang memberi beban
tambahan.Namun dengan pengolahan yang baik serta efisiensi,perseroan bisa
menekan biaya produksi. Kendati demikian, dia tidak menampik bahwa perseroan
akan melakukan evaluasi terkait dengan peningkatan biaya yang diakibatkan
distribusi serta kenaikan harga bahan baku. (whisnu bagus/juni triyanto)

Sumber : SINDO


-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist
************************************


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke