Rerporter Milist: Entah bagaimana nalarnya buat makan susah, buat rokok
selalu ada


Kamis, 12 Juni 2008
Nasional Konsumsi Rokok Rakyat Miskin Tinggi

*JAKARTA* -- Ketua Tobacco Control Support Center-Ikatan Ahli Kesehatan
Masyarakat Indonesia Widyastuti Soerojo mengatakan dua dari tiga penerima
bantuan langsung tunai mengkonsumsi rokok lebih besar daripada nilai bantuan
yang mereka terima itu.

Dia menjelaskan, dari penelitian yang dilakukan, diketahui belanja rokok
penerima bantuan tunai itu mencapai 12 persen dari seluruh pengeluaran
bulanan. Penerima bantuan tunai setiap harinya mengkonsumsi 10 batang rokok
dengan harga per batang Rp 500. "Mereka setiap hari menghabiskan Rp 15 ribu.
Ini seperti membakar uang," katanya kemarin.

Widyastuti mengakui industri rokok Indonesia jeli mencari pasar yang paling
rawan. Yang mereka sasar adalah kelompok miskin, mereka yang berpendidikan
rendah, dan remaja. Apalagi perokok tidak punya kebebasan memilih karena zat
adiktif (nikotin) memaksa perokok mengkonsumsinya terus-menerus. "Akibatnya,
perokok tidak bisa mengalihkan pengeluarannya untuk memenuhi kebutuhan rumah
tangga," ujarnya

Widyastuti menyarankan pemerintah meningkatkan harga rokok untuk mengurangi
akses pengguna. Sebab, tidak semua perokok itu adiktif dan, ketika ada
kecenderungan harga naik, mereka akan menghentikan pemakaian.

Peneliti Lembaga Demografi Universitas Indonesia, Abdilah Ahsan, juga
menawarkan pilihan kenaikan cukai rokok untuk mengurangi pemakai. Menurut
dia, kenaikan cukai 100 persen (dari tarif cukai 31 persen menjadi 62
persen) akan berdampak positif terhadap *output* perekonomian, pendapatan
masyarakat, dan lapangan pekerjaan. "Harga akan naik 25 persen dan
permintaan turun sekitar 9 persen," katanya. *DIANING SARI *

Sumber : koran tempo


-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist
************************************


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke