Pikiran Rakyat, Kamis, 12 Juni 2008

Membesarkan Sastra, Membesarkan Media

PERKEMBANGAN sastra di Indonesia tentu tidak bisa dilepaskan dari adanya
peran media. Media dan sastra ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa
dipisahkan. Sejarah media (tertulis/tercetak) dimulai ketika Gutenberg
berhasil menciptakan mesin cetak. Sejak itulah mulai bermunculan
pengarang-pengarang dengan karya-karya mereka. Berbagai media yang
bermunculan turut membidani lahirnya pengarang-pengarang hebat dan
memprakarsai terbentuknya sejarah literasi, termasuk di Indonesia.

Contoh media yang turut membidani penulis/pengarang, karya sastra, dan
budaya literasi di Indonesia adalah penerbit Balai Pustaka (berdiri pada
1917-sekarang). Balai Pustaka ini melahirkan para sastrawan/pengarang
nasional seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Sutan Takdir Alisjahbana, dan
sebagainya. Bahkan, pengarang-pengarang ini kemudian menamakan diri sebagai
angkatan Balai Pustaka. Saking berpengaruhnya keberadaan Balai Pustaka
(sebagai media) terhadap pengarang-pengarang dan karya-karyanya.

Tulisan ini secara khusus menyoroti sepak terjang Forum Lingkar Pena (FLP)
yang digawangi oleh tiga wanita "perkasa" , Helvy Tiana Rosa (UI), Asma
Nadia (IPB), dan Muthmainnah (Unpad). FLP mulai lahir dari rahim kejengahan
karya sastra yang merebak. Jengah, karena ketiga pupuhu FLP ini merasakan
betul dan merindukan karya sastra yang mencerahkan.

Maka, dengan bismillah, pada 22 Februari 1997, lahirlah komunitas ini dengan
anggota awal 30 orang. Sekarang, tercatat lebih dari 100 kota di Indonesia
dan beberapa negara memiliki wilayah/cabang/ranting FLP dengan total anggota
sekitar 5000 orang, 500 orang di antaranya menjadi penulis dan telah
menerbitkan lebih dari 500 judul karya.

Kehadiran FLP membawa angin segar bagi perkembangan sastra Indonesia. Mereka
(FLP) membawa genre baru dalam ranah sastra negeri ini, yang kemudian
dilabeli sastra islami.

Lalu, apa hubungan FLP dengan media dan karya sastra? FLP ibarat tempat
pertemuan arus panas dan dingin yang menyebabkan plankton banyak berkumpul
sehingga mengundang berbagai jenis ikan berkumpul di sana. FLP yang saat itu
"berkoalisi" dengan majalah Annida, mengundang calon-calon atau
nelayan-nelayan profesional untuk mencari ikan di tempat pertemuan arus
panas dan dingin itu. Banyak generasi muda (didominasi aktivis dakwah
kampus), berbondong-bondong masuk ke dalam komunitas FLP.

"Koalisi" antara Annida dan FLP ini ibarat simbiosis mutualisme, saling
menguntungkan. FLP menjadi dikenal masyarakat luas karena media, dan Annida
juga menjelma menjadi majalah remaja yang dikenal luas oleh masyarakat. FLP
dan Annida ini kemudian turut membidani lahirnya penulis-penulis muda
berbakat semacam Jazimah Al Muhyi, Syamsa Hawa, Koko Nata Kusuma, Irfan
Hidayatullah, Habiburahman El Shirazy, serta tak ketinggalan ketiga pupuhu
FLP, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Mathmainnah.

Geliat sastra atau fiksi islami ini kemudian terendus oleh penerbit-penerbit
kecil yang juga memiliki afiliasi yang sama dengan FLP. Seperti penerbit
Zikrul Hakim. Penerbit yang semula menerbitkan kitab-kitab Yaasin dan Juz
¢Ama ini mengaku beruntung dengan booming-nya fiksi islami pada tahun 2000.
Sekarang, Zikrul Hakim telah menjelma menjadi salah satu penerbit yang
disegani di ranah penerbitan Indonesia. Kemudian diikuti oleh Gema Insani
Press (GIP), INDIVA Media Kreasi, Syamiil Bandung, dan sebagainya. Bahkan,
penerbit-penerbit besar juga tak ketinggalan meramaikan momen ini, seperti
penerbit Gramedia, Mizan, dan sebagainya.

Begitulah, Annida membesarkan FLP, FLP membesarkan Annida, kemudian lahirlah
penerbit-penerbit--awalnya penerbit kecil--besar sebagai efek dari "koalisi"
antara FLP sebagai representasi dari sastra (fiksi) dan Annida sebagai
representasi media. Seperti inilah seharusnya atmosfer literasi kita
terbangun. Dengan demikian, bukan hal yang tidak mungkin kalau bangsa kita
akan mengalami kemajuan yang signifikan.

Maka, tidaklah berlebihan jika sastrawan sekelas Taufik Ismail mengatakan,
"FLP adalah anugrah Tuhan untuk Indonesia!" Semoga demikian. (Fatih Beeman,
mahasiswa Jurusan Mankom Fikom Unpad, penulis buku "Beginilah Seharusnya
Hidup", dan bergiat di FLP Jatinangor) **

Sumber:
http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=17356

-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya
************************************Pikiran Rakyat, Kamis, 12 Juni 2008

Membesarkan Sastra, Membesarkan Media

PERKEMBANGAN sastra di Indonesia tentu tidak bisa dilepaskan dari adanya
peran media. Media dan sastra ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa
dipisahkan. Sejarah media (tertulis/tercetak) dimulai ketika Gutenberg
berhasil menciptakan mesin cetak. Sejak itulah mulai bermunculan
pengarang-pengarang dengan karya-karya mereka. Berbagai media yang
bermunculan turut membidani lahirnya pengarang-pengarang hebat dan
memprakarsai terbentuknya sejarah literasi, termasuk di Indonesia.

Contoh media yang turut membidani penulis/pengarang, karya sastra, dan
budaya literasi di Indonesia adalah penerbit Balai Pustaka (berdiri pada
1917-sekarang). Balai Pustaka ini melahirkan para sastrawan/pengarang
nasional seperti Marah Rusli, Abdul Muis, Sutan Takdir Alisjahbana, dan
sebagainya. Bahkan, pengarang-pengarang ini kemudian menamakan diri sebagai
angkatan Balai Pustaka. Saking berpengaruhnya keberadaan Balai Pustaka
(sebagai media) terhadap pengarang-pengarang dan karya-karyanya.

Tulisan ini secara khusus menyoroti sepak terjang Forum Lingkar Pena (FLP)
yang digawangi oleh tiga wanita "perkasa" , Helvy Tiana Rosa (UI), Asma
Nadia (IPB), dan Muthmainnah (Unpad). FLP mulai lahir dari rahim kejengahan
karya sastra yang merebak. Jengah, karena ketiga pupuhu FLP ini merasakan
betul dan merindukan karya sastra yang mencerahkan.

Maka, dengan bismillah, pada 22 Februari 1997, lahirlah komunitas ini dengan
anggota awal 30 orang. Sekarang, tercatat lebih dari 100 kota di Indonesia
dan beberapa negara memiliki wilayah/cabang/ranting FLP dengan total anggota
sekitar 5000 orang, 500 orang di antaranya menjadi penulis dan telah
menerbitkan lebih dari 500 judul karya.

Kehadiran FLP membawa angin segar bagi perkembangan sastra Indonesia. Mereka
(FLP) membawa genre baru dalam ranah sastra negeri ini, yang kemudian
dilabeli sastra islami.

Lalu, apa hubungan FLP dengan media dan karya sastra? FLP ibarat tempat
pertemuan arus panas dan dingin yang menyebabkan plankton banyak berkumpul
sehingga mengundang berbagai jenis ikan berkumpul di sana. FLP yang saat itu
"berkoalisi" dengan majalah Annida, mengundang calon-calon atau
nelayan-nelayan profesional untuk mencari ikan di tempat pertemuan arus
panas dan dingin itu. Banyak generasi muda (didominasi aktivis dakwah
kampus), berbondong-bondong masuk ke dalam komunitas FLP.

"Koalisi" antara Annida dan FLP ini ibarat simbiosis mutualisme, saling
menguntungkan. FLP menjadi dikenal masyarakat luas karena media, dan Annida
juga menjelma menjadi majalah remaja yang dikenal luas oleh masyarakat. FLP
dan Annida ini kemudian turut membidani lahirnya penulis-penulis muda
berbakat semacam Jazimah Al Muhyi, Syamsa Hawa, Koko Nata Kusuma, Irfan
Hidayatullah, Habiburahman El Shirazy, serta tak ketinggalan ketiga pupuhu
FLP, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Mathmainnah.

Geliat sastra atau fiksi islami ini kemudian terendus oleh penerbit-penerbit
kecil yang juga memiliki afiliasi yang sama dengan FLP. Seperti penerbit
Zikrul Hakim. Penerbit yang semula menerbitkan kitab-kitab Yaasin dan Juz
¢Ama ini mengaku beruntung dengan booming-nya fiksi islami pada tahun 2000.
Sekarang, Zikrul Hakim telah menjelma menjadi salah satu penerbit yang
disegani di ranah penerbitan Indonesia. Kemudian diikuti oleh Gema Insani
Press (GIP), INDIVA Media Kreasi, Syamiil Bandung, dan sebagainya. Bahkan,
penerbit-penerbit besar juga tak ketinggalan meramaikan momen ini, seperti
penerbit Gramedia, Mizan, dan sebagainya.

Begitulah, Annida membesarkan FLP, FLP membesarkan Annida, kemudian lahirlah
penerbit-penerbit--awalnya penerbit kecil--besar sebagai efek dari "koalisi"
antara FLP sebagai representasi dari sastra (fiksi) dan Annida sebagai
representasi media. Seperti inilah seharusnya atmosfer literasi kita
terbangun. Dengan demikian, bukan hal yang tidak mungkin kalau bangsa kita
akan mengalami kemajuan yang signifikan.

Maka, tidaklah berlebihan jika sastrawan sekelas Taufik Ismail mengatakan,
"FLP adalah anugrah Tuhan untuk Indonesia!" Semoga demikian. (Fatih Beeman,
mahasiswa Jurusan Mankom Fikom Unpad, penulis buku "Beginilah Seharusnya
Hidup", dan bergiat di FLP Jatinangor) **

Sumber:
http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=17356



-- 
**********************************
Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya
************************************


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke