Moerdiono Kenapa Pak Moer Gagap? "Dulu, ada seorang pejabat tinggi yang kalau bicara, katanya gagap," ujar * Moerdiono*, 73 tahun, saat memberikan sambutannya pada peluncuran buku pasangan Noorca Massardi dan Ryani Massardi, pertengahan pekan lalu, di Jakarta. "(Anda) *Pengen* tahu kenapa, dulu itu, pejabat tinggi itu gagap?" tanya mantan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) di era Orde Baru itu, tanpa menyebutkan siapa pejabat tinggi yang dimaksud.
"Saya ungkapkan. Dulu itu gagap karena ada tanggung jawab. Pejabat tinggi itu, harus bisa dipertanggungjawabkan. Sekarang ini, kacau balau. Karena tidak banyak yang mau bertanggung jawab," ungkap Moerdiono, disambut tawa seisi aula di Gedung Film, Jakarta. Selepas acara, Moerdiono --yang akrab dipanggil Pak Moer-- pun dikerubungi wartawan, seperti di masa lalu, saat ia dimintai keterangannya seputar kebijakan-kebijakan pemerintah kala itu. Moerdiono tak menyangkal, bahwa caranya berbicara yang lamban dengan suaranya yang pelan, banyak menuai kritikan. "Saya pernah mendapat surat dari seorang anak SMA. Ibu anak itu bertanya melalui surat itu, kenapa menteri begini diangkat oleh presiden Soeharto? Menteri yang tidak cakap. Malah dia menulis, ibu saya marah! Kalau menteri ini bicara, dia matikan televisi, karena hanya menghabiskan listrik saja. Pak Moer menuturkan itu, sambil tertawa terkekeh-kekeh. "Tapi saya jelaskan, saya bicara pelan-pelan karena saya harus memberi penjelasan secara teratur dan tepat. Itu tidak gampang, karena ini tanggungjawab," papar pria yang baru berpangkat Letnan Satu di dinas militer, saat kali pertama bertemu dengan Soeharto. Kini, Moerdiono mengaku sudah plong, karena sudah tak lagi mengemban jabatan. Berat rasanya, kata Moerdiono, untuk menanggung beban menjadi salah seorang juru bicara pemerintah kala itu. "Sekarang saya bertanggung jawab pada diri saya sendiri. Di masa lampau saya mewakili pemerintah. Saya mewakili presiden saya, mewakili bangsa kita," ujarnya. Meski sudah merasa plong, namun Moerdiono tak bakal pernah melepaskan kenangannya pada sepucuk surat dari anak SMA yang diterimanya di akhir 1980-an tersebut. *[EL]* ** *sumber : gatra* -- ********************************** Memberitakan Informasi terupdate untuk Rekan Milist dari sumber terpercaya http://reportermilist.multiply.com/ ************************************ [Non-text portions of this message have been removed]
