Saya sangat menghargai pendapat Anda, namun saya punya pendekatan 
keimanan yang sedikit berbeda dari Anda !

Saya yakin kita semua sepakat bahwa Allah SWT. menciptakan segala 
galanya mulai dari diri kita (pikiran kita), orang lain (pikiran 
orang lain) dan juga musibah.

Tetapi khusus pada salah satu ciptaanNya yaitu manusia.. di beri 
WILAYAH KENDALI dan untuk itulah kita dibekali dengan yang namanya 
AKAL. Dengan AKAL manusia bisa membuat rencana rencana, menganalisa 
persoalan dan menetapkan tujuan tujuan.

Namun demikian tetap ada hal hal yang berada diluar ZONA KENDALI 
manusia.....seperti jalan pikiran orang lain dan juga musibah dsb. 
Nah untuk yang berada diluar zona kendali tersebut ataupun hal hal 
yang tidak dapat manusia ubah, tidak ada cara lain kecuali berserah 
diri kepada sang PENCIPTA.

Pada prakteknya penerapan ZONA KENDALI dan ZONA DILUAR KENDALI ini 
bersifat dinamis. 

Contoh : Musim Kemarau, bagi orang yang tidak memiliki ilmu membuat 
hujan, budget membuat hujan buatan tidak ada cara lain berserah diri 
ke Tuhan. Namun sebagai makhluk ciptaan Tuhan kita wajib memperluas 
ZONA KENDALI kita dengan memperluas / meningkatkan kemampuan berfikir 
kita (menggunakan AKAL) sehingga saat kita mampu membuat hujan buatan 
berarti kita telah memanfaatkan anugerah AKAL yang Tuhan berikan 
sebaik baiknya.  

Dengan demikian ..... jika Allah SWT ataupun Rasullullah memberikan 
CLUE yang saat ini masih belum bisa diterima oleh akal.... bisa jadi 
karena saat ini hal tersebut masih berada diluar jangkauan berfikir 
manusia........ dan sambil terus kita imani, CLUE tersebut justru 
menjadi tantangan bagi umat manusia untuk lebih meningkatkan 
kemampuan akalnya !  

Dan untuk setiap hasilpun tidak bisa disebut sebagai kesimpulan 
akhir, melainkan HIKMAH.  

Salam,

Isywara Mahendratto

--- In [email protected], uta <utsa...@...> wrote:
>
> Cibubur, 27 Feb 09
> 
> 1-2 ato tiga tahun lalu agak lupa persisnya saya sempat membaca 
email panjang dari satu milis di Indonesia mengenai sekelompok 
saudara muslim saya di Indonesia yang percaya bahwa Matahari berputar 
mengelilingi bumi, sekali lagi MATAHARI berputar MENGELILINGI BUMI 
dan bukan sebaliknya. Uniknya adalah kepercayaan tersebut berasal 
dari keimanan mereka terhadap alquran yang menurut mereka secara 
letter-lux menyebutkan seperti itu, saya tidak hendak mendetailkan 
mengenai surat apa-ayat berapa yang mereka klaim menyebutkan itu, dan 
yang jelas kalau kita kaji secara mendalam sebenarnya tidak seperti 
itu yang dimaksudkan. Saya juga tidak hendak mengkaji baik secara 
ilmu fisika ataupun ilmu agama tentang hal ini karena rasa tidak 
perlu panjang lebar saya jelaskan hal-hal yang sudah dijelaskan teman-
teman saya guru-guru EsDe. Bagian yang saya hendak saya highlight 
adalah ... Betapa bahwa sebenarnya saudara-saudara saya tersebut 
mempunyai tingkat keimanan yang
>  sedemikian tinggi, sehingga bahkan demikian tingginya tingkat 
keyakinan mereka terhadap kebenaran dari setiap kata-kata dari 
Alquran ... yang rasanya setara dengan perumpamaan seandainya di al-
quran disebutkan 1+1=3 maka mereka akan membenarkannya. Tidak 
berlebihan saya rasa perumpamaan saya tersebut, mengingat bukti-bukti 
kalau matahari yang mengelilingi bumi, eh ..sampai salah juga. bumi 
yang mengelilingi matahari bertebaran dan bisa ditelusuri pada semua 
jenjang keilmuan mulai TK sampai post-Doctoral untuk kosmologi, 
sampai lewat google atau kalau mau membuktikan langsung kalau punya 
cukup dana saya dengar sudah bisa dengan jadi turis luar angkasa .. 
keluar bumi dan silahkan amati matahari yang berputar atau bumi yang 
berputar sekali 24 jam.
> Kembali lagi ke pokok pembicaraan, jadi intinya adalah keimanan 
mereka sangat tinggi terhadap kitabullah. titik. Dan saya rasa dengan 
tingkat keimanan seperti tsb. malaikat pun tidak akan menyalahkan 
mereka bahwa pikiran mereka ttg ilmu dasar seperti yang diajarkan di 
sekolah dasar tsb salah, buat malaikat tidak penting apakah mereka 
dapat rapor merah di pelajaran IPA, cuma agama yang biru atau apapun. 
> Tapi mungkin kitalah yang seharusnya iri pada mereka (jangan salah, 
mungkin saja di akhirat nanti iri-iri-an ini benar-benar terjadi), 
sebabnya kenapa, salah satunya ini : dulu saya pernah dengar dari 
ceramah ustadz kalau selepas Nabi kita SAW  pulang dari Isra Mi'raj, 
beliau pagi harinya menceritakan pada sahabat utamanya AbuBakar RA 
bahwa semalam Beliau ada di Palestina dan selepas itu ke Langit ke 
Tujuh. Serta merta AbuBakar membenarkan, saya rasa tingkat keimanan 
kita atau sekian juta umat muslim yang beterbaran seantero jagad saat 
ini tidak (mudah-mudahan belum) mendekati seperti itu. Logika 
Abubakar sebagai Sahabat Nabi yang paling cerdas kalah oleh keimanan-
nya bahwa apapun yang dikatakan Rasul pastilah benar, kita harus 
mengingat kendaraan tercepat pada waktu itu adalah (mungkin) kuda 
yang sprint, itupun paling-paling cuma beberapa kilometer sebelum 
kudanya     lemas, ke Palestina dari Mekah paling cepat beberapa 
minggu untuk perjalanan PP
>  lewat padang pasir. Apalagi membayangkan perjalanan kelangit ke 
tujuh yang menurut ilmu mutakhir ke ujung langit dunia saja entah 
berapa milyar-tahun cahaya jaraknya.
> Tapi kalau iman sudah bicara, apalah artinya semua itu untuk Allah 
Ta'ala, yang penting adalah bekal iman disertai amal yang dibawa ke  
haribaan-Nya nanti. Tidak penting berapa jarak Mekah-Palestina, Bumi-
Langit ke Tujuh, bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya. 
> 
> Kalau iman sudah bicara - kita akan tahu bahwa bagi Allah matahari 
mengelilingi bumi tidak menjadi soal, tidak penting dan bisa di balik 
oleh Tuhan dengan mudah, Kun FayaKun.. toh sudah di jelaskan di 
Alquran bahwa concern-Nya menciptakan kita manusia beserta sarana 
pendukungnya (alam ini beserta matahari yang mengelilingi bumi) 
diciptakan hanya agar kita menyembah-Nya, mengagungkan hanya Dia, 
membenarkan kitab-Nya, meneladani Rasul dan sahabat2nya. Logika tidak 
penting dalam hal ini. Mungkin logika penting untuk mengurus dunia, 
tetapi logika bukanlah guidance yang baik terutama dalam hal 
keimanan. Saya garis bawah dan Bold: LOGIKA BUKAN GUIDANCE YANG BAIK 
UNTUK KEIMANAN  Contoh lain : Ustadz yang tadi menceritakan tentang 
Isra Mi'raj juga menceritakan pada saya juga tentang banyak perintah 
di Alquran untuk kita menginfakkan sebagian harta, agar harta yg 
tertinggal bersih, berkah dan bisa berlipat-lipat bertambahnya dengan 
zakat tersebut. Logika mana
>  dengan RUMUSAN APA yang bisa menjelaskan berlipat-lipatnya harta. 
Lagi-lagi sahabat Abubakar bertindak sebagai tauladan dalam hal ini, 
dalam salah satu kesempatan beliau menginfakan SELURUH HARTAnya untuk 
dakwah, dalam hal ini tidak ada logika yang berperan, hanya keimanan 
bahwa bagi Allah urusan harta satu orang sangat mudah untuk Dia 
gantikan, asalkan tidak perlu pikir panjang kalau urusannya harta 
kita diperlukan (bacanya dipinjamkan) untuk urusan-Nya di dunia. 
Tidak pelu pikir panjang artinya tidak perlu pakai logika-kan...
> Kalau logika masih kuat untuk urusan agama, itu artinya keimanan 
kita masih lemah .... atau perlu dipertanyakan... atau perlu olah 
raga (baca:olah iman) untuk memperkuatnya. Memang banyak bidang 
matapencaharian, atau matakuliah buat mahasiswa, matapelajaran buat 
adik2 pelajar yang membuat kita mau-tidak-mau KUAT dalam bidang 
logika, tapi rasanya kalau kita sadar bahwa logika kita terlalu kuat -
 atau terlalu dominan dalam memikirkan hidup sehari-hari terutama 
juga dalam bidang agama, maka rasanya PERLU buat kita untuk 
memperlemahnya, maaf kalau agak berlebihan 'lebai' kata anak muda 
karena LOGIKA YANG DILEMAHKAN rasanya jadi sarana agar IMAN JADI 
KUAT, bukannya Logika yang sudah lemah kita lemahkan ...atau yang 
memang logikanya lemah dari oroknya.. kayanya kalau ini perlu 
diperkuat dulu logikanya ... masuk sekolah dst sampai jadi sarjana 
sampai jadi orang sukses.. nah ini dia kalau SUDAH SUKSES dan 
LOGIKANYA TERLALU DOMINAN ... Zakat jadi Berat,Sholat
>  berat sayang waktu, Puasa berat takut sakit,kalap cari duit terus 
kaya mo nimbun harta di kuburan ... atau kalau sudah bertimbun 
tabungan dibank yakin bahwa gga bakalan hilang, ada asuransi .. 
apalah artinya toh sekarang terbukti dunia diambang depresi dan 
terbukti perusahaan atau siapapun sekuat apapun bisa kolaps dan 
bangkrut kapanpun... disini saat yang tepat untuk memperlemah logika, 
Sebenernya sih kalau kita bisa memperkuat iman untuk mengalahkan 
logika rasanya lebih bagus, tapi berhubung yang saya omongon ini 
orang-orang sibuk yang kurang waktu .. maka cobalah .. mengalahkan 
logika dan mengolah-ragakan IMAN biar kuat. biar suksesnya dunia-
akhirat.
> 
> Salam,
> 
> consultan...@...
> www.posisi.info
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke