Tambahan :

Tentang HIKMAH perintah sholat, berpuasa ataupun berzakat saat ini 
sudah banyak tehnik tehnik pemrograman diri mulai membuktikan bahwa :

1. Hikmah Sholat : Otak manusia memerlukan "jeda" untuk bisa berfikir 
lebih efisien dan efektif. Saat seseorang melakukan sholat dengan 
benar.... maka orang tersebut akan berada pada keadaan "gelombang 
Alfa". Secara fisik.....saat sujud ... otak memperoleh asupan oksigen 
lebih baik.... karena darah lebih optimal sampai ke otak.

2. Hikmah Puasa : Dengan puasa organ organ fungsi beristirahat 
sejenak... Ibarat pabrik.... mesin mesin mengalami overhaul / turun 
mesin, ibarat komputer di boot ulang.

3. Hikmah Berzakat : Keikhlasan seseorang saat melakukan zakat ... 
menimbulkan efek psikologis berupa RASA LAPANG (PLONG), RASA LEBIH 
MAMPU, RASA BERSYUKUR dan hal tersebut membuat seseorang menjadi jauh 
lebih produktif, jauh lebih kreatif, jauh lebih efisien dalam BEKERJA 
atau MENGHASILKAN. Orang Barat menyebutnya dengan HUKUM KEBERLIMPAHAN 
semakin banyak yang diberi justru semakin banyak yang diperoleh.    

Demikian pula Hukum LOA (Law of Attraction) yang baru baru ini 
dipopulerkan oleh Barat sebetulnya sudah dikenal sejak jaman NABI 
NABI. Cuma bedanya kalau Barat yang menganut faham Kapitalis hal 
tersebut disebut Keberuntungan (ingat paman GOBER : terhadap hal hal 
yang berada diluar zona kendali dia serahkan keputusannya pada koin 
keberuntungan) sementara kalau dalam Islam untuk hal hal yang berada 
di luar zona kendali disebut memasrahkan diri dalam "pemeliharaan" 
Allah SWT (baca : tawakkal). 

Demikian pula dengan pentingnya KEUNIKAN dalam Ilmu Marketing .... 
sudah dikenal sejak jaman Nabi Sulaiman .... Ingat Doa nabi Sulaiman 
yang terjemahan bebasnya lebih kurang ...:"Ya Tuhan, Anugerahkanlah 
kepadaku Kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorangpun sesudahku"

dsb. dsb. 

Dengan demikian IMANI terlebih dahulu sambil teruslah MENGAMBIL 
HIKMAH (baca : menggunakan AKAL!).

Salam,

Isywara Mahendratto

--- In [email protected], "Isywara Mahendratto" 
<isywaramahendra...@...> wrote:
>
> Saya sangat menghargai pendapat Anda, namun saya punya pendekatan 
> keimanan yang sedikit berbeda dari Anda !
> 
> Saya yakin kita semua sepakat bahwa Allah SWT. menciptakan segala 
> galanya mulai dari diri kita (pikiran kita), orang lain (pikiran 
> orang lain) dan juga musibah.
> 
> Tetapi khusus pada salah satu ciptaanNya yaitu manusia.. di beri 
> WILAYAH KENDALI dan untuk itulah kita dibekali dengan yang namanya 
> AKAL. Dengan AKAL manusia bisa membuat rencana rencana, menganalisa 
> persoalan dan menetapkan tujuan tujuan.
> 
> Namun demikian tetap ada hal hal yang berada diluar ZONA KENDALI 
> manusia.....seperti jalan pikiran orang lain dan juga musibah dsb. 
> Nah untuk yang berada diluar zona kendali tersebut ataupun hal hal 
> yang tidak dapat manusia ubah, tidak ada cara lain kecuali berserah 
> diri kepada sang PENCIPTA.
> 
> Pada prakteknya penerapan ZONA KENDALI dan ZONA DILUAR KENDALI ini 
> bersifat dinamis. 
> 
> Contoh : Musim Kemarau, bagi orang yang tidak memiliki ilmu membuat 
> hujan, budget membuat hujan buatan tidak ada cara lain berserah 
diri 
> ke Tuhan. Namun sebagai makhluk ciptaan Tuhan kita wajib memperluas 
> ZONA KENDALI kita dengan memperluas / meningkatkan kemampuan 
berfikir 
> kita (menggunakan AKAL) sehingga saat kita mampu membuat hujan 
buatan 
> berarti kita telah memanfaatkan anugerah AKAL yang Tuhan berikan 
> sebaik baiknya.  
> 
> Dengan demikian ..... jika Allah SWT ataupun Rasullullah memberikan 
> CLUE yang saat ini masih belum bisa diterima oleh akal.... bisa 
jadi 
> karena saat ini hal tersebut masih berada diluar jangkauan berfikir 
> manusia........ dan sambil terus kita imani, CLUE tersebut justru 
> menjadi tantangan bagi umat manusia untuk lebih meningkatkan 
> kemampuan akalnya !  
> 
> Dan untuk setiap hasilpun tidak bisa disebut sebagai kesimpulan 
> akhir, melainkan HIKMAH.  
> 
> Salam,
> 
> Isywara Mahendratto
> 
> --- In [email protected], uta <utsania@> wrote:
> >
> > Cibubur, 27 Feb 09
> > 
> > 1-2 ato tiga tahun lalu agak lupa persisnya saya sempat membaca 
> email panjang dari satu milis di Indonesia mengenai sekelompok 
> saudara muslim saya di Indonesia yang percaya bahwa Matahari 
berputar 
> mengelilingi bumi, sekali lagi MATAHARI berputar MENGELILINGI BUMI 
> dan bukan sebaliknya. Uniknya adalah kepercayaan tersebut berasal 
> dari keimanan mereka terhadap alquran yang menurut mereka secara 
> letter-lux menyebutkan seperti itu, saya tidak hendak mendetailkan 
> mengenai surat apa-ayat berapa yang mereka klaim menyebutkan itu, 
dan 
> yang jelas kalau kita kaji secara mendalam sebenarnya tidak seperti 
> itu yang dimaksudkan. Saya juga tidak hendak mengkaji baik secara 
> ilmu fisika ataupun ilmu agama tentang hal ini karena rasa tidak 
> perlu panjang lebar saya jelaskan hal-hal yang sudah dijelaskan 
teman-
> teman saya guru-guru EsDe. Bagian yang saya hendak saya highlight 
> adalah ... Betapa bahwa sebenarnya saudara-saudara saya tersebut 
> mempunyai tingkat keimanan yang
> >  sedemikian tinggi, sehingga bahkan demikian tingginya tingkat 
> keyakinan mereka terhadap kebenaran dari setiap kata-kata dari 
> Alquran ... yang rasanya setara dengan perumpamaan seandainya di al-
> quran disebutkan 1+1=3 maka mereka akan membenarkannya. Tidak 
> berlebihan saya rasa perumpamaan saya tersebut, mengingat bukti-
bukti 
> kalau matahari yang mengelilingi bumi, eh ..sampai salah juga. bumi 
> yang mengelilingi matahari bertebaran dan bisa ditelusuri pada 
semua 
> jenjang keilmuan mulai TK sampai post-Doctoral untuk kosmologi, 
> sampai lewat google atau kalau mau membuktikan langsung kalau punya 
> cukup dana saya dengar sudah bisa dengan jadi turis luar angkasa .. 
> keluar bumi dan silahkan amati matahari yang berputar atau bumi 
yang 
> berputar sekali 24 jam.
> > Kembali lagi ke pokok pembicaraan, jadi intinya adalah keimanan 
> mereka sangat tinggi terhadap kitabullah. titik. Dan saya rasa 
dengan 
> tingkat keimanan seperti tsb. malaikat pun tidak akan menyalahkan 
> mereka bahwa pikiran mereka ttg ilmu dasar seperti yang diajarkan 
di 
> sekolah dasar tsb salah, buat malaikat tidak penting apakah mereka 
> dapat rapor merah di pelajaran IPA, cuma agama yang biru atau 
apapun. 
> > Tapi mungkin kitalah yang seharusnya iri pada mereka (jangan 
salah, 
> mungkin saja di akhirat nanti iri-iri-an ini benar-benar terjadi), 
> sebabnya kenapa, salah satunya ini : dulu saya pernah dengar dari 
> ceramah ustadz kalau selepas Nabi kita SAW  pulang dari Isra 
Mi'raj, 
> beliau pagi harinya menceritakan pada sahabat utamanya AbuBakar RA 
> bahwa semalam Beliau ada di Palestina dan selepas itu ke Langit ke 
> Tujuh. Serta merta AbuBakar membenarkan, saya rasa tingkat keimanan 
> kita atau sekian juta umat muslim yang beterbaran seantero jagad 
saat 
> ini tidak (mudah-mudahan belum) mendekati seperti itu. Logika 
> Abubakar sebagai Sahabat Nabi yang paling cerdas kalah oleh 
keimanan-
> nya bahwa apapun yang dikatakan Rasul pastilah benar, kita harus 
> mengingat kendaraan tercepat pada waktu itu adalah (mungkin) kuda 
> yang sprint, itupun paling-paling cuma beberapa kilometer sebelum 
> kudanya     lemas, ke Palestina dari Mekah paling cepat beberapa 
> minggu untuk perjalanan PP
> >  lewat padang pasir. Apalagi membayangkan perjalanan kelangit ke 
> tujuh yang menurut ilmu mutakhir ke ujung langit dunia saja entah 
> berapa milyar-tahun cahaya jaraknya.
> > Tapi kalau iman sudah bicara, apalah artinya semua itu untuk 
Allah 
> Ta'ala, yang penting adalah bekal iman disertai amal yang dibawa 
ke  
> haribaan-Nya nanti. Tidak penting berapa jarak Mekah-Palestina, 
Bumi-
> Langit ke Tujuh, bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya. 
> > 
> > Kalau iman sudah bicara - kita akan tahu bahwa bagi Allah 
matahari 
> mengelilingi bumi tidak menjadi soal, tidak penting dan bisa di 
balik 
> oleh Tuhan dengan mudah, Kun FayaKun.. toh sudah di jelaskan di 
> Alquran bahwa concern-Nya menciptakan kita manusia beserta sarana 
> pendukungnya (alam ini beserta matahari yang mengelilingi bumi) 
> diciptakan hanya agar kita menyembah-Nya, mengagungkan hanya Dia, 
> membenarkan kitab-Nya, meneladani Rasul dan sahabat2nya. Logika 
tidak 
> penting dalam hal ini. Mungkin logika penting untuk mengurus dunia, 
> tetapi logika bukanlah guidance yang baik terutama dalam hal 
> keimanan. Saya garis bawah dan Bold: LOGIKA BUKAN GUIDANCE YANG 
BAIK 
> UNTUK KEIMANAN  Contoh lain : Ustadz yang tadi menceritakan tentang 
> Isra Mi'raj juga menceritakan pada saya juga tentang banyak 
perintah 
> di Alquran untuk kita menginfakkan sebagian harta, agar harta yg 
> tertinggal bersih, berkah dan bisa berlipat-lipat bertambahnya 
dengan 
> zakat tersebut. Logika mana
> >  dengan RUMUSAN APA yang bisa menjelaskan berlipat-lipatnya 
harta. 
> Lagi-lagi sahabat Abubakar bertindak sebagai tauladan dalam hal 
ini, 
> dalam salah satu kesempatan beliau menginfakan SELURUH HARTAnya 
untuk 
> dakwah, dalam hal ini tidak ada logika yang berperan, hanya 
keimanan 
> bahwa bagi Allah urusan harta satu orang sangat mudah untuk Dia 
> gantikan, asalkan tidak perlu pikir panjang kalau urusannya harta 
> kita diperlukan (bacanya dipinjamkan) untuk urusan-Nya di dunia. 
> Tidak pelu pikir panjang artinya tidak perlu pakai logika-kan...
> > Kalau logika masih kuat untuk urusan agama, itu artinya keimanan 
> kita masih lemah .... atau perlu dipertanyakan... atau perlu olah 
> raga (baca:olah iman) untuk memperkuatnya. Memang banyak bidang 
> matapencaharian, atau matakuliah buat mahasiswa, matapelajaran buat 
> adik2 pelajar yang membuat kita mau-tidak-mau KUAT dalam bidang 
> logika, tapi rasanya kalau kita sadar bahwa logika kita terlalu 
kuat -
>  atau terlalu dominan dalam memikirkan hidup sehari-hari terutama 
> juga dalam bidang agama, maka rasanya PERLU buat kita untuk 
> memperlemahnya, maaf kalau agak berlebihan 'lebai' kata anak muda 
> karena LOGIKA YANG DILEMAHKAN rasanya jadi sarana agar IMAN JADI 
> KUAT, bukannya Logika yang sudah lemah kita lemahkan ...atau yang 
> memang logikanya lemah dari oroknya.. kayanya kalau ini perlu 
> diperkuat dulu logikanya ... masuk sekolah dst sampai jadi sarjana 
> sampai jadi orang sukses.. nah ini dia kalau SUDAH SUKSES dan 
> LOGIKANYA TERLALU DOMINAN ... Zakat jadi Berat,Sholat
> >  berat sayang waktu, Puasa berat takut sakit,kalap cari duit 
terus 
> kaya mo nimbun harta di kuburan ... atau kalau sudah bertimbun 
> tabungan dibank yakin bahwa gga bakalan hilang, ada asuransi .. 
> apalah artinya toh sekarang terbukti dunia diambang depresi dan 
> terbukti perusahaan atau siapapun sekuat apapun bisa kolaps dan 
> bangkrut kapanpun... disini saat yang tepat untuk memperlemah 
logika, 
> Sebenernya sih kalau kita bisa memperkuat iman untuk mengalahkan 
> logika rasanya lebih bagus, tapi berhubung yang saya omongon ini 
> orang-orang sibuk yang kurang waktu .. maka cobalah .. mengalahkan 
> logika dan mengolah-ragakan IMAN biar kuat. biar suksesnya dunia-
> akhirat.
> > 
> > Salam,
> > 
> > CONSULTANT03@
> > www.posisi.info
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>


Kirim email ke