Artikel: Memadukan Kekuatan Akal Dan Kelembutan Hati

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Apa yang membedakan manusia dengan mahluk lain? Kita bilang; 'akal!'. Manusia 
memiliki akal, sedangkan mahluk lain tidak. Itulah sebabnya manusia bisa 
mengklaim diri sebagai mahluk Tuhan yang paling sempurna. Sebab, dengan akalnya 
itu manusia bisa melakukan begitu banyak hal yang tidak bisa dilakukan kucing, 
kelinci, ataupun bunga melati. Sayangnya, tidak semua yang bisa dilakukan 
manusia itu digunakan untuk kebaikan sesama. Karena pada kenyataannya, akal 
kita sering digunakan untuk 'mengakal-akali' dengan cara melakukan apapun demi 
kepentingan segelintir individu atau kelompok tertentu. Oleh karena itu, banyak 
buah pahit dari hasil karya akal manusia itu.  Dengan demikian, untuk menjadi 
'mahluk sempurna' seperti klaimnya, manusia mesti memiliki piranti lain.  
Sehingga kecerdasan akalnya dapat diimbangi oleh kearifan dari dalam dirinya. 
Apakah gerangan piranti itu?

Sesekali, kita perlu memperhatikan para kura-kura.  Seekor kura-kura kalau 
hendak berjalan pastilah akan mengeluarkan kepalanya dari dalam tempurungnya.  
Dan ini adalah isyarat yang kura-kura berikan pada kita bahwa memang benar kita 
harus menggunakan kepala alias otak dan akal pikiran kita supaya kita bisa 
melakukan ini dan itu. Tanpa kepala kita tidak bisa membangun suatu hasil karya 
cipta apapun. Sebab, kepalalah pusat segala kekuatan kreatif imajinatif yang 
membantu menusia menghasilkan berbagai macam penemuan. Sehingga, kita bisa 
membangun peradaban. Itu benar.

Tetapi, mari perhatikan sang kura-kura itu sekali lagi. Dalam perjalanannya, 
dia sering berhenti. Dan ketika berhenti melangkah itu dia menarik kepalanya 
kembali masuk kedalam cangkang tempurungnya. Lalu dia berdiam diri. Pertanda 
apakah gerangan ini? Ini adalah tanda pengingat bagi kita yang terlampau 
mengutamakan akal, bahwa; sesekali kita harus menarik kekuatan akal itu ke 
belakang layar. Kemudian mendekatkan kepala kita kedada dimana didalam 
bersemayam sesuatu yang biasa kita sebut sebagai hati nurani. Sebab, kata 
kura-kura:'hati nurani itu akan membantu kita mengarahkan akal pikiran'. 

Ketika akal berjalan sendirian, maka hasil pemikiran kita hanya akan menjadi 
sebatas proses eksplorasi dan eksploitasi atas keuntungan, kemudahan, 
kenikmatan dan hal-hal serupa itu. Apakah itu mengganggu orang lain? Akal tidak 
terlampau peduli, karena fungsi utamanya adalah untuk membuat hidup kita lebih 
mudah dan indah. Soal orang lain rugi atau terganggu oleh kaidah-kaidah yang 
dihasilkannya, itu soal lain. Itulah sebabnya, mengapa banyak orang yang 
berbisnis tanpa mempedulikan moral, lingkungan, atau kepentingan orang lain. 
Orang lain bagi mereka adalah lahan untuk dieksploitasi. Itulah juga sebabnya 
mengapa banyak orang yang tidak peduli pada kepentingan tetangga hanya untuk 
memenuhi kepentingan rumah dan keluarganya belaka. Tetangga bagi mereka adalah 
objek yang boleh dikorbankan demi kepentingan dirinya sendiri.

Kata kura-kura; "Berhenti sejenak dari terlampau menggunakan akal kamu. Dan 
sesekali ajaklah dirimu untuk berkontemplasi menggunakan hati nurani."

Menakjubkan sekali. Ketika seseorang mengikuti petuah sang kura, ternyata dia 
menemukan bahwa akal itu bukanlah segala-galanya. Justru orang yang terlampau 
menggunakan akal tidak akan pernah berhasil menjadi mahluk sempurna. Karena, 
kesempurnaan manusia diperoleh dari penggunaan yang seimbang antara akal dan 
hati. Ketika seseorang hanya menggunakan hati, dia menjadi orang baik yang 
kurang produktif. Dan ketika seseorang hanya menggunakan akal, maka dia akan 
menjadi orang kompetitif yang sangat destruktif. Tetapi, ketika seseorang 
menggunakan akal dan hati dalam sebuah perpaduan harmoni, dia menjadi orang 
berprestasi tinggi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dirinya 
sendiri. 

Dan menakjubkan sekali, karena ternyata; ketika dia mengkombinasikan hatinyalah 
segala hasil karya cipta akalnya menjadi maslahat tidak hanya bagi dirinya 
sendiri. Melainkan bagi orang lain. Ketika semakin besar cakupan pengaruhnya, 
semakin luas dampak positifnya. Sehingga, boleh jadi suatu saat nanti; dia bisa 
berkontribusi kepada kepentingan seluruh umat manusia. Karena, kecanggihan akal 
pikirannya diimbangi oleh pertimbangan hati nurani untuk kemaslahatan bersama. 
Bukan semata kepentingan pribadi. Sebab, akal dan hati itu seperti dua sisi 
keping mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa akal, hati tidak bisa 
mencukupi hidup. Dan tanpa hati, akal sering membuat kerusakan. Sedangkan 
dengan akal dan hati; kita bisa saling berkontribusi.

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://www.dadangkadarusman.com/ 
Business Administration & People Development 
Business Talk Setiap Jumat: 06.30-07.30 di 103.4 FM Day Radio 

Catatan Kaki: 
Bukan sekedar akal yang menjadikan kita lebih baik dari mahluk lain. Bukan pula 
hanya hati. Melainkan keduanya.


Kirim email ke