Pengertian Kualitas Nafs 

By: Prof. Dr Achmad Mubarok MA

Al-Quran menegaskan bahwa pada dasarnya nafs diciptakan Allah SWT dalam keadaan 
sempurna. Sebagai perangkat dalam (rohani) manusia, nafs dicipta secara 
lengkap, diilhamkan kepadanya kebaikan dan keburukan agar ia dapat 
mengetahuinya.

Dan (demi) jiwa serta penyempurnaan (ciptaan-Nya), maka Allah SWT mengilhamkan 
kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah 
orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang 
mengotorinya (QS. al-Syams / 91:7-11). 

Nafs adalah al-jawhar atau substansi yang menyebabkan manusia berbeda 
kualitasnya dengan makhluk yang lain, yakni yang menyebabkan manusia maupun 
menggagas, berfikir dan merenung, kemudian dengan gagasan dan pikirannya itu 
manusia mengambil keputusan, an dengan pikirannya itu manusia juga dapat 
menangkap rambu-rambu dan simbol-simbol yang membuatnya harus memilih jalan 
mana yang harus ditempuh.

Menurut al-Quran, nafs memiliki kemerdekaan dan memiliki peluang apakah 
kemudian cenderung kepada kebaikan dan alergi kepada keburukan atau sebaliknya, 
bergantung kepada faktor-faktor yang mempngaruhinya. Faktor terpenting dalam 
hal ini adalah bagaimana manusia mengendalikan kodrat fitriahnya, tabiat 
individualnya serta daya responnya terhadap lingkungan sebelum melakukan suatu 
perbuatan.

Menurut al-Quran, nafs memiliki kemerdekaan untuk membedakan antara kebaikan 
dan keburukan, dan dengan alat bantu yang tersedia, memungkinkannya memilih 
jalan atau mengubah keputusan, sehingga suatu nafs memutuskan untuk memilih 
jalan yang menuju kepada martabat takwa, dan di waktu yang lain menyimpang ke 
jalan yang sesat.

Dalam surat al-Isra / 17:15 disebutkan:

Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah Allah SWT, maka sesungguhnya ia 
telah berbuat bagi keselamatan dirinya, dan barang siapa yang sesat, maka 
sesungguhnya ia tersesat (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa 
tidak dapat memikul dosa orang lain dan Kami tidak mengazab sebelum kami 
mengutus seorang rasul.

Sejalan dengan kemerdekaan yang diberi oleh Allah SWT, nafs juga diberi 
tanggung jawab dan otonomi. Seperti dijelaskan ayat diatas, bahwa seorang yang 
berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan Tuhan tidak akan memberi azab 
sebelum terlebih dahulu memberi rambu-rambu yang harus dipatuhi melalui 
rasulnya. Kemrdekaan dan tangung jawab nafs itu diberikan sedemikian rupa 
hingga tuhan mengingatkan bahwa Dia mengetahui sisi dalam yang disembunyikan 
manusia. Surat Qaf / 50:16 menyebutkan bahwa apa yang dibicarakan oleh nafs 
yang tidak mendengar oleh panca indra manusia, diketahui oleh Allah SWT. 
    
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikan 
oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya (QS. Qaf / 
50:16).

Kualitas nafs seseorang bisa meningkat dan bisa menurun, dan hal ini berkaitan 
dengan sistem yang melibatkan jaringan tabiat dan fitrah manusia. Kualitas nafs 
yang telah dibentuk pada seseorang membentuk sistem pengendalian oleh tiap-tiap 
individu, sehingga seseorang kuat dan yang lain ada yang lemah dalam menghadapi 
godaan yang datang dari luar. Hal ini diisyaratkan oleh al-Quran surat 
al-Naziat / 79:40-41:

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran tuhannya dan menahan diri 
dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya sorgalah tempat tingglnya. 

Surat al-Hasyr / 59:9 juga menghubungkan kualitas nafs dengan tingkat kecintaan 
kepda harta benda.
    
dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, merekalah orang-orang yang 
beruntung.

Fisik manusia, meski genetikanya sehat, tetapi proses kehamilannya, kelahiran 
dan lingkungan hidup selanjutnya mempengaruhi tingkat kesehatannya. Demikian 
juga kesehatan nafs, meskipun pada dasarnya ia ciptaan Allah SWT dalam keadaan 
sempurna seperti yang disebut dalam surat al-Syams / 91:7-8, tetapi 
pemeliharaan dan pemupukannya seperti yang diisyaratkan dalam surat al-Naiat / 
79:40, surat al-Hasyr / 59:9, dan surat al-Syams / 91:9-10 di atas, melahirkan 
tingkatan nafs yang berbeda-beda pada tiap orang. Pada orang dewasa yang  
berakal, tingkatan nafs disebut dalam al-Quran dalam beberapa tingkatan, 
seperti al-Nafs al-Ammarah, al-Nafs al-Lawwamah dan al-Nafs al-Muthmainnah. 
Sedangkan pada anak-anak yang belum mukallaf, al-Quran menyebut nafs untuk 
mereka dengan nama nafs zakiyah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia 
dengan jiwa yang suci.

sumber, http://mubarok-institute.blogspot.com

Wassalam,
agussyafii

--
Tulisan ini dalam rangka kampanye program 'Amalia Cinta Bumi (ACIBU) Minggu, 
tanggal 17 Mei 2009, di Rumah Amalia, Jl. Subagyo Blok ii 1, no.23 Komplek 
Peruri, RT 001 RW 09, Sud-Tim, Ciledug. TNG. Program 'Amalia Cinta Bumi 
(ACIBU)' mengajak. 'Mari, hindari penggunaan kantong plastik berlebihan, 
bawalah kantong belanja sendiri. Sebab Kantong plastik jenis polimer sintetik 
sulit terurai- Bila dibakar, menimbulkan senyawa dioksin yang membahayakan- 
Proses produksinya menimbulkan efek berbahaya bagi lingkungan.' Mari kirimkan 
dukungan anda pada program 'Amalia Cinta Bumi' (ACIBU) melalui 
http://agussyafii.blogspot.com atau sms 087 8777 12431 
  




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke