Artikel: Apakah Pekerjaan Ini Layak Untuk Disyukuri? 
  
Hore, 
Hari Baru! 
Teman-teman. 
  
Jika kita mengeluh tentang pekerjaan, siapa sih sesungguhnya yang rugi? 
Perusahaan jelas rugi karena kalau terlampau sering mengeluh kita tidak dapat 
berkonsentrasi kepada pekerjaan, sehingga hasil yang bisa kita berikan tidak 
sebagaimana mestinya. Ini logis, sebab tidaklah mungkin seseorang yang tengah 
mengeluh bisa berkontribusi secara optimal kepada perusahaan. Kita bisa 
mengerahkan seluruh kapasitas diri yang kita miliki jika dan hanya jika 
bersedia melayani dengan sepenuh hati. Sedangkan, hati yang sudah dipenuhi oleh 
keluhan tidak lagi memiliki ruang untuk berkontribusi. Itulah sebabnya, mengapa 
setiap orang yang sering mengeluh dikantor bukanlah orang yang berprestasi 
tinggi. 
  
Alkisah, ada seorang petani yang memiliki dua ekor kuda. Kedua kuda itu biasa 
digunakan untuk menarik pedati. Pada suatu malam, keduanya mengobrol sambil 
memandang bintang-bintang yang bertaburan. Mereka sepakat untuk saling membuka 
perasaan masing-masing. Kata kuda pertama;”Rasanya aku sebal sekali berada 
ditanah pertanian ini....” 
  
Kuda yang satu lagi menimpali;”memangnya kenapa?” katanya. 
”Aku sudah bosan dengan perlakuan petani itu kepadaku,” balasnya. 
”Memangnya apa yang dilakukan petani kepadamu?” tanya kuda kedua. 
”Yaaah...., dia memperlakukan aku seperti halnya memperlakukan dirimu....” 
jawabnya. ”Terus, bagaimana dengan kamu?” Dia segera melanjutkan kata-katanya. 
  
Si kuda kedua menjawab; ”Aku bersyukur sekali berada ditanah pertanian 
ini.....” 
Kuda yang satu lagi menimpali;”memangnya kenapa?” katanya. 
”Aku menikmati perlakuan petani itu kepadaku,” balasnya. 
”Memangnya apa yang dilakukan petani kepadamu?” tanya kuda pertama. 
”Yaaah...., dia memperlakukan aku seperti halnya memperlakukan dirimu....” 
jawabnya. 
  
Apa yang saya ceritakan itu tidak lebih dari sekedar dongeng yang saya 
karang-karang sendiri. Itulah sebabanya anda tidak pernah mendengar dongeng itu 
sebelumnya, sehingga mungkin agak janggal dibenak anda. Namun, mari perhatikan 
sekali lagi dialog yang dilakukan oleh kedua kuda tadi. Rasanya kok relevan 
sekali dengan kehidupan kita. Di kantor, mungkin kita menghadapi perlakuan yang 
sama dengan orang lain. Namun, mengapa orang lain bisa menjalani kehidupan 
kerjanya dengan senang hati, sedangkan kita penuh dengan keluhan seperti ini? 
  
Anda mungkin bilang; ”Atasan saya pilih kasih. Dia baik kepada orang-orang 
tertentu tapi tidak kepada saya.”  Perhatikan; ketika bekerja, kuda pertama 
melakukannya dengan terpaksa. Dia cemberut. Bahkan, saking kesalnya dia dengan 
sengaja meliak-liukkan pedati supaya sang petani merasa tidak nyaman. Kalau ada 
lubang dijalan, sang kuda sengaja berlari lebih kencang sehingga ketika roda 
pedati melindas lubang itu petani merasakan guncangan yang keras. Kalau sudah 
begitu, sang kuda meringkik untuk mentertawakan ketidaknyamanan penumpang 
pedatinya. Lalu, petani itu memecutnya supaya kuda itu berjalan dengan benar. 
  
Perhatikan lagi;  ketika bekerja, kuda kedua melakukannya dengan senang hati. 
Dia tersenyum. Bahkan, saking senangnya dia dengan hati-hati dan telaten 
menarik pedati  supaya sang petani merasa nyaman. Kalau ada lubang dijalan, 
sang kuda memperlambat jalannya, sehingga ketika roda pedati melindas lubang 
itu petani sama sekali tidak merasakan guncangan yang berarti. Kalau sudah 
begitu, sang kuda meringkik turut terseyum atas kenyamanan penumpang pedatinya. 
Dan karena semuanya berjalan lancar, petani itu tidak perlu menggunakan 
pecutnya karena sang kuda sudah berjalan dengan benar. 
  
Sekarang kita tahu bahwa tidak terlalu sulit untuk memahami; mengapa atasan 
kita baik kepada para karyawan teladan, dan keras kepada para karyawan yang 
asal-asalan, bukan? 
  
Pada suatu malam, kuda kedua bertanya kepada temannya;”Kalau kamu tidak lagi 
suka bekerja disini, mengapa kamu tidak pergi?” 
  
”Gila saja kamu,” kuda pertama segera menghardiknya. ”Memangnya gampang cari 
tempat lain?” katanya. 
  
”Aku rasa ada saja, kalau kamu bersedia mencarinya...” jawab kuda kedua dengan 
santai. 
”Mungkin sih, tapi kan kalau pun aku bisa menemukan majikan baru...” sergah 
kuda pertama, ”Belum tentu lebih baik dari tempat ini......” lanjutnya. 
  
”Nah, kalau kamu merasa tidak mudah untuk  mendapatkan tempat lain yang lebih 
baik, bukankah lebih baik jika kamu mensyukuri saja apa yang saat ini kamu 
miliki?” timpal kuda kedua. 
  
”Bersyukur?” sang kuda terperanjat. ”Bagaimana caramu bersyukur?” tanyanya. 
”Aku memilih untuk menikmati setiap langkahku ketika bertugas menarik pedati.” 
jawabnya. Dan benar, setiap kali petani itu menggunakannya untuk menarik 
pedati; sang kuda selalu menikmatinya. Sehingga dia dengan sukarela memberikan 
yang terbaik kepada majikannya. Oleh karenanya, dia bisa memberikan pelayanan 
yang terbaik, sehingga majikannya merasa puas atas pekerjaannya. Sebagai tanda 
terimakasih, sang petani memperlakukan kuda itu dengan istimewa, sehingga 
bertambah senang jugalah dia. Kuda itu senang bekerja, dan sang majikan senang 
dengan kinerjanya. Sekarang, kedua-duanya jadi merasa senang. Dan keduanya, 
saling menghargai. Dan saling menyayangi. 
  
Mari Berbagi Semangat! 
Dadang Kadarusman 
Natural Intelligence & Mental Fitness Learning Facilitator   
http://www.dadangkadarusman.com/   
Talk Show setiap Jumat jam 06.30-07.30 di 103.4 DFM Radio Jakarta 
  
Catatan Kaki: 
Kepuasan hidup tidak mungkin ditemukan ditempat manapun, kecuali kita 
mencarinya dengan hati yang dipenuhi oleh rasa syukur. 
  
Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul 
”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara 
GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan 
perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo 
atau gmail) lalu kirim ke [email protected] 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke