Artikel: Ketika Perjuangan Bertemu Dengan Saudara Kembarnya
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Manusia itu cenderung tidak sabaran. Bukan hanya tidak sabar untuk memencet
klakson mobil disaat jalur lalu lintas mengalami kemacetan. Atau menyerobot di
konter bioskop saat antri membeli tiket. Lebih parah lagi, manusia sering
mengharapkan untuk mendapatkan hasil yang instan. Kalau bisa memanam hari ini,
maunya panen juga hari ini. Merasa sudah berusaha dan bekerja, sehingga merasa
pantas menuntut Tuhan agar langsung memberikan imbalan. Padahal, tidak ada
panen bagus yang didapatkan secara instan.
Belum lama ini saya berbicara dengan Ayah saya melalui telepon. Setiap kali
kami berbicara, saya selalu mendapatkan penguatan terhadap jiwa. Soalnya, Ayah
memiliki sesuatu untuk dinasihatkan. Anehnya, setiap nasihat yang beliau
berikan selalu relevan dengan tantangan atau situasi yang tengah saya hadapi.
Setelah pensiun dari tugas negara sebagai Kepala Sekolah Dasar Negeri didaerah
kami, beliau ’kembali ke sawah’. Makanya, setiap kali kami berbincang selalu
ada topik tentang tanaman yang dirawatnya di lahan pertanian kami.
Pada telepon kali ini, kami membahas tentang benih padi yang baru ditanam. Jika
hari ini kami baru menebarkan benih, mungkin baru di hari kelima atau ketujuh
kami bisa melihat daun-daun mungil yang menyembul dari balik kulit biji benih
itu. Setelah itu, kami harus menjaga dan merawatnya setiap hari, menyiangi
rumput pengganggu, dan memberinya pupuk, serta mengalirinya dengan air yang
cukup. Jika sudah mulai berbuah, kami harus menjaganya agar jangan sampai
dimakan tikus dan hama lain yang tak kalah rakus. Setelah seluruh bulir padi
cukup umur, barulah kami memanennya. Seluruh rangkaian proses itu bisa
menghabiskan waktu sekitar sembilan puluh hari.
Orang-orang di ladang pertanian faham benar apa arti kerja keras dan kesabaran.
Setiap tanaman tidak mungkin memberikan hasil yang memuaskan jika seorang
petani hanya mau menanam benihnya lalu ditinggalkannya begitu saja. Dari situ
mereka mengerti makna kerja keras. Sedangkan menunggu hingga sembilan puluh
hari memberi mereka inspirasi tentang arti kata sabar. Secanggih-canggihnya
ilmu dan teknologi pertanian, belum ada yang mampu memperpendek masa tanam dan
panen padi dari sembilan puluh hari menjadi sembilan puluh menit saja. Oleh
karena itu, siapapun yang berani melakukan sesuatu mesti juga berani untuk
bersabar. Segala sesuatu juga ada masanya. Masa menanam benih. Masa memberi
pupuk, dan masa memeliharanya. Semua itu harus dilakukan terlebih dahulu.
Sedangkan masa panen baru tiba setelah semua jerih payah dan tahapan
pemeliharaan itu berlangsung.
Kita sering keliru dengan mengira kalau hal semacam itu hanya berlaku di dunia
pertanian. Tidak. Semua aspek kehidupan kita mengikuti proses yang sama.
Termasuk bisnis atau pekerjaan apapun yang sedang kita kerjakan. Hari ini Anda
baru memulai sebuah pekerjaan baru. Lalu Anda menginginkan segera mendapatkan
fasilitas menggiurkan. Ngawur jenenge. Semua imbalan yang diberikan perusahaan
harus didasarkan kepada kualitas kerja dan kontribusi yang kita kerjakan secara
konsisten. Bagaimana mungkin perusahaan memberikan langsung imbalan padahal
kemampuan anda belum benar-benar bisa dibuktikan. Ada yang seperti itu? Ada.
Seseorang direkrut oleh perusahaan besar. Lalu diberi iming-iming besar. Tidak
sampai tiga bulan kemudian, orang itu sudah keluar. Tidak sedikit lho yang
seperti itu.
Hari ini kita membangun bisnis baru, dan kita ingin memperoleh hasilnya hari
ini juga. Ngimpi ngarana. Kecuali jika kita hanya ingin memperoleh hasil sesaat
saja. Jika kita menginginkan kesinambungan, kita mesti bersedia membangun
fondasinya terlebih dahulu, sampai bisnis itu benar-benar bisa menghasilkan.
Boleh saja Anda berkilah pernah memperoleh keuntungan hanya dalam tempo yang
singkat. Bisa jadi. Tetapi sekarang tanyakan kepada diri Anda, apakah
keberhasilan itu merupakan sebuah keberuntungan atau sesuatu yang Anda rancang.
Apa ciri keberhasilan yang dihasilkan dari keberuntungan semata? Cirinya, Anda
tidak dapat mengulanginya lagi. Jika Anda memperolehnya dengan metode
terstruktur seperti proses menanam padi yang Ayah saya lakukan itu, maka pasti
Anda akan bisa melakukannya lagi dikemudian hari.
Anda boleh juga berdalih kalau kita bisa memperoleh hasil instan secara
berkesinambungan. Misalnya, membuat kue donat. Setengah jam juga selesai. Iya,
jika kita hanya berpikir tentang mengocok telur dan adonan kemudian
memasukkannya kedalam oven. Coba jika Anda memikirkan bagaimana tepung gandum
dihasilkan. Gula pasir dibuat. Telur, garam, coklat mentega dan rupa-rupa bahan
lainnya didapatkan. Ini menegaskan kenyataan tentang segala sesuatu yang hanya
bisa kita peroleh melalui sebuah perjuangan dan penantian. Berjuang saja sering
tidak cukup. Sebab untuk memperoleh hasil perjuangan itu kita harus menunggu
beberapa saat. Jadi nyata sekali, hukum kerja keras itu tidak hanya berlaku di
areal pertanian. Melainkan pada semua aspek kehidupan kita.
Kalau Anda tidak memiliki kesabaran, sebaiknya jangan coba-coba untuk berjuang.
Sebab, perjuangan yang tidak ditemani oleh kesabaran bisa sangat membahayakan.
Jika Anda sudah berjuang habis-habisan, tapi hasilnya tidak langsung kelihatan
maka Anda akan langsung berhenti. Anda memaki. Mengumpat, dan mengucapkan semua
sumpah serapah yang bisa Anda keluarkan. Lalu Anda bilang; AKU BERHENTIIIIIIII!
Padahal, hasil yang dimaki-maki itu bukannya tidak ada. Melainkan masih dalam
proses pematangan sampai tiba saatnya nanti untuk dinikmati. Ini lho yang
menyebabkan sebagian besar orang berhenti berjuang. Bukan karena mereka tidak
bisa. Bukan karena mereka tidak mampu melakukannya. Tapi karena mereka tidak
sabar menanti hasilnya. Bayangkan seandainya para petani seperti Ayah saya
tidak memiliki kesabaran seperti itu. Setiap kali mereka menanam padi, mereka
mengharapkan segera memanen gabahnya. Karena itu tidak terjadi, maka mereka
marah-marah. Karena mereka marah, mereka berhenti bertani. Jika demikian, siapa
yang akan bisa memakan hasil bumi?
Kita semua. Tidak peduli apapun profesi kita. Jika sudah memiliki komitmen
untuk memperjuangkan sesuatu, milikilah kesabaran itu. Itu jika benar kita
ingin berjuang. Jika kita hanya ingin melakukan segala sesuatu secara
asal-asalan, tidak butuh kesabaran. Sebab, segala hal yang sifatnya asal-asalan
tidak perlu terlalu dihiraukan. Tetapi, jika sesuatu yang kita perjuangkan itu
benar-benar berharga, mengapa kita tidak bersedia menunggu sampai hasilnya
kelihatan? Sabar. Sebab dengan kesabaran kita bisa mengalahkan rasa lelah
sebuah penantian. Sabar. Karena dengan kesabaran kita bisa menemukan titik
impas yang sepadan. Sabar. Sebab dengan kesabaran kita bisa merajuk kepada
Tuhan agar berkenan memberikan pertolongan. Sabar. Karena perjuangan itu
memiliki saudara kembar. Namanya, sabar.
Percayalah. Tuhan akan memberikan cahaya penunjuk jalan kepada setiap insan
yang bersedia mendengarkan panggilan jiwanya. Tuhan akan mengirimkan ilham
kepada setiap orang yang mengharapkan petunjuknya. Tuhan, akan memberikan
pertolongan kepada setiap hamba yang bersedia bekerja keras dalam lintasan
panjang perjuangannya. Tapi Tuhan ingin mengujimu dengan waktu. Yaitu, waktu
yang kita sediakan untuk menunggu. Sampai segala kejayaan yang dijanjikan-Nya
datang. Tahukah Anda dari arah mana karunia Tuhan akan datang? Dari arah yang
tidak kita sangka-sangka.
Mari Berbagi Semangat!
Dadang Kadarusman
Penulis buku: ”Ketika Kuda, Semut dan Gajah Bekerja”
www.bukudadang.com dan www.dadangkadarusman.com
--------------------------------
Buku terbaru Dadang Kadarusman "Melampaui keserakahan Seekor Nyamuk" sudah bisa
dipesan di http://www.bukudadang.com/
[Non-text portions of this message have been removed]