BUDI SETIAWAN, M.PSI
KETUA PROGRAM STUDI MPPO FAKULTAS PSIKOLOGI UNAIR
Ingin Surabaya Jadi Circle of Change
Ide nyleneh dan berpikiran beda. Konsep inilah yang harus dimiliki setiap orang 
muda atau mereka yang berjiwa muda. Sebab hanya dengan menjadi berbeda maka 
perubahan bisa terjadi dan berbuah manis.
Berubah adalah kondisi yang tidak bisa dihindari. Setiap waktu dan semua sisi 
kehidupan akan mengalami perbedaan dari satu kondisi ke kondisi berikutnya. 
Bahkan untuk sesuatu yang tidak berubah sekalipun, perubahan itu terjadi. Dan 
kenyataannya, saat ini perubahan terjadi dengan begitu cepatnya. Baik kondisi 
finansial, ekonomi, industri, informasi, teknologi, sosial dan politik.
“Karena itulah, perlu sebuah manajemen atas perubahan itu sendiri. Maka 
muncullah Magister Perubahan dan Pengembangan Organisasi (MPPO) ini. 
Satu-satunya program studi yang mencoba mencetak lulusan yang mampu melakukan 
perubahan,” ujar Ketua Program Studi MPPO Fakultas Psikologi Unair Budi 
Setiawan, M.Psi.
Mengapa perubahan harus dilakukan dan penting untuk dimanajemeni? Pria yang 
sempat ikut aksi mogok tolak Soeharto tahun 1998 lalu mengungkapkan, perubahan 
yang ada di sebuah negara ternyata tidak hanya memengaruhi negara itu sendiri. 
Contoh paling mudah adalah krisis keuangan di Amerika Serikat yang ternyata 
membuat pusing para pelaku bisnis di Indonesia, termasuk di Surabaya.
Perubahan inilah yang harus disikapi oleh masyarakat dengan berbagai ide yang 
kreatif. Tujuannya agar tidak tenggelam oleh perbedaan kondisi yang ada. 
Terutama perusahaan-perusahaan yang mau tidak mau bersinggungan dengan berbagai 
kondisi yang ada di dunia.
“Tapi perubahan itu harus diarahkan pada pemikiran yang benar. Bukan sekadar 
berubah. Bukan hanya ganti orang, ganti kebijakan atau ganti strategi, ubah 
struktur seperti yang selama ini terjadi,” ujar Budi.
Budi mengatakan ada tiga dimensi yang harus ada dalam sebuah perubahan pada 
masa seperti sekarang ini. Ketiga hal itu adalah visibility, feasible dan 
desirebility. Yang pertama adalah sebuah analisa tentang kelayakan perubahan 
dari sisi bisnis. Feasible mencoba menganalisa perubahan dari kemampuan yang 
dimiliki seseorang tersebut.
Sementara yang terakhir, atau desirebility mencoba melihat perlunya sebuah 
perubahan dari nilai yang bisa didapat oleh orang lain. Ini lebih mementingkan 
perasaan atau kebutuhan orang. “Kalau ketiganya nyambung, maka arah perubahan 
akan lebih pas,” katanya.
Ini adalah kerangka berpikirnya. Namun menurut Budi, perubahan bisa dilakukan 
dengan berpikir secara beda, nyleneh. Hal ini akan membuat seseorang menjadi 
lebih kreatif dan membawa perubahan yang lebih manusiawi.
Ini telah dibuktikannya saat masih menjadi mahasiswa dan aktif di sebuah 
organisasi mahasiswa. Bersama beberapa orang temannya, ia sempat menerbitkan 
majalah ‘underground’ dari sebuah situs interaktif, sebuah koran yang sedang 
dibredel pemerintah orde baru. Pada tahun 1996 hingga saat runtuhnya rezim 
Soeharto, tiap pekan majalah yang artikelnya didapat dari internet bermodem 
pinjaman itu terbit.
Semuanya di-lay out sendiri, difotokopi sendiri, dijilid sendiri dan dijual 
sendiri ke kampus-kampus di Surabaya oleh Budi dan rekan-rekannya di LKMM 
(Latihan Kepemimpinan dan Keterampilan Manajemen Mahasiswa).
“Saat itu sebagai agitasi dan provokasi, majalah kami cukup berpengaruh. Dan 
itu membuktikan jalan menuju perubahan bisa dilakukan dengan dana yang minim 
tapi gairah yang besar,” katanya.
Menurutnya, ide membuat majalah dari sebuah situs berita yang saat itu 
terbitannya menjadi ‘penyakit’ dan tidak boleh terbit oleh pemerintah adalah 
sebuah ide nyleneh. Ia melihat kondisi informasi yang tersumbat harus disikapi 
secara berbeda.
Ide ‘berbeda’ Budi yang lain adalah munculnya situs berbahaya.org. Situs ini 
diarahkannya untuk salah satu jejaring sosial bagi para pemuda yang memiliki 
ide-ide kreatif tapi belum memiliki tempat di sekolah, kampus atau tempat 
kerjanya. Karena itu, tagline-nya adalah muda, beda dan berbahaya.
Kok berbahaya? Orang muda selalu dianggap berbahaya bila bertindak kreatif atau 
beda dengan orang-orang yang lebih dewasa. Padahal, menurutnya masa-masa ini, 
yaitu usia 19-25 tahun, umumnya memiliki kekritisan yang luar biasa.
“Orang muda selalu dibilang punya ide yang berbahaya atau melakukan hal yang 
berbahaya. Padahal kalau berbahaya itu mengarah atau bisa diarahkan pada hal 
yang positif, tentunya baik juga, kan? Nah, mereka bisa mencurahkan ide dan 
ngobrol di situs ini,” katanya.
Ide yang tidak kalah nyleneh adalah munculnya panggung teatrikal partisipatif. 
Acara yang diberi label Shared Learning MPPO (SL MPPO) jilid 1 tahun lalu dan 
segera menyusul dengan SL MPPO jilid 2 Jumat (9/4) mendatang.
Disebut partisipatif karena pelakon dari cerita yang ditampilkan bisa melakukan 
dialog dengan penonton atau sebaliknya. Mereka bisa berbagai pengalaman atau 
memelencengkan sebuah cerita.
“Sebetulnya ini adalah sebuah seminar yang dengan panggung interaktif. Kalau 
gambarannya seperti Opera Van Java yang ditayangkan di salah satu stasiun TV. 
Tapi ini tentang bagaimanan melakukan perubahan,” terang lulusan Unair yang 
sempat menikmati bangku ITS ini.
Soal mengapa ia gencar menelurkan agent of change atau agen perubahan di Kota 
Buaya. Pasalnya, menurut ayah dari Ayunda Damai Fatmarani ini, Surabaya 
memiliki potensi kader perubahan yang sangat besar. Ia melihat banyak orang 
kreatif, muda dan cukup radikal di kota ini.
Tidak jauh-jauh, grup Band Dewa dan Padi asalnya juga dari arek-arek Suroboyo. 
Mereka adalah sosok muda yang kreatif dan berani memberikan hal yang beda di 
kancah musik Indonesia saat itu. Soal kemudian mereka berkarier dan tinggal di 
Jakarta, itu persoalan lain. “Saya ingin Surabaya jadi circle of change. Biar 
Surabayalah yang jadi pusat perubahan, frame besarnya adalah perubahan 
Indonesia,” katanya. (dili eyato)
Sumber: Harian Seputar Indonesia, Rabu, 7 April 2010

Lebih jauh bisa klik di http://bukik.org



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke