Assalamu'alaikum wr.wb Shahabatku yang baik. Bagaimana
kabar anda hari ini? Semoga selalu sehat dan mendapatkan
kemudahan-kemudahan dari Allah. Sehingga apa yang telah kita janjikan
kepada diri sendiri, terlaksana layaknya kisah novel berjalan indah.
Namun itu semua kita sadari, bahwa hanya karena bantuan Allah, apa yang
kita usahakan berhasil dan sesuai doa kita.
”I am not Motivator”.
Mungkin ada pertanyaan hadir, maksudnya apa? Atau, kalau bukan sebagai
motivator, terus apa? Note ini saya persembahkan untuk diri saya
sendiri. Bila mungkin cocok dan bermanfaat, saya persembahkan juga
Kepada shahabat muda, yang usianya seperti saya saat ini. Memiliki
keinginan sebagai publik speaker, terutama ingin ”menggelari diri” sebagai 
Motivator.
Hari
ini saya sadari. Ternyata ada kekeliruan pemikiran, pemahaman dan
penyikapan dalam diri saya, terhadap nama, profesi atau panggilan
Motivator. Saya benar-benar telah salah kaprah. (semoga kekeliruan ini,
tidak terulang lagi kepada shahabat muda yang memiliki cita-cita mulia
ini). Oh ya? Betul. Saya telah menyikapi dengan amat keliru.
Dulu pernah seorang Coach bertanya. ”Apa yang mendasarimu menjadi Motivator?” 
Disaat itu memang,  yang
membuat saya ingin menjadi pembicara yang bisa memotivasi, karena saya
merasakan semangat dan gairah yang luar biasa dalam diri saya, setelah
mengikuti training motivasi. Dalam benak saya ”Pantasan
orang-orang dijakarta memiliki semangat hidup, karena ada kegiatan
seminar / pelatihan yang membangkitkan gairah, semangat dan penuh
inspirasi. Sementara selama saya di Aceh, saya belum pernah mendapatkan
hal demikian. Oleh karena itu, saya mau menjadi Motivator”.
Selain
itu, saya dulu juga melihat kehidupan para motivator (guru-guru dan
senior). Menjalani hidup yang menggiurkan dalam hal financial (anggapan
saya sepeti itu dulunya). Dikenal oleh banyak orang. Jalan-jalan keluar
kota, bahkan luar negeri. Itupun membuat saya semakin mau menjadi
motivator.(Keliru#1 kurang jelas misi Sehingga menjadi bohong
kepada diri yaitu; selama ini kalau ditanya mengapa mau menjadi
motivator, Jawaban yang saya berikan terkesan sangat mulia ”Mau membantu orang 
lain agar mendapatkan hidup yang lebih baik”).  
Selanjutnya
saya pun mulai melakukan apa yang saya baca dibuku-buku motivasi,
bagaimana mendapatkan apa yang kita mau. Pemberanian diripun terjadi
dengan menuliskan ”Motivator” Sebagai profesi saya. Kebenaran saat itu,
saya memiliki cara pandang instant dalam diri. Itulah kenyataannya,
dengan  menganggap cukup menggunakan ilmu ATM, Amati,
Tiru dan Modifikasi. Jadilah Motivator instant. Padahal diindonesia
Cuma 2 hal yang instant; susu instan dan Mie instan he...he...(Keliru#2. 
Menggampangkan dan mengaharapkan cara-cara / proses mudah/instant).
Shahabat
Motivator muda, itulah kekeliruan saya. Yaitu MINDSET Terlalu
menggampangkan, menganggap mudah, bahkan hidup tenang serta menjadi
dikenal banyak orang, bila menjadi motivator. Guru saya pernah
mengingatkan ”Ketahuilah, dalam konteks profesi. Kamu sesungguhnya
bukanlah apa yang kau kenalkan (mengenalkan diri), tetapi dirimu
sebenarnya adalah karena dikenalkan (dikenal)”. Ini bukan persoalan salah 
ataupun benar. Tetapi lebih kepada cara pandang dan Attitude yang melekat pada 
profesi tersebut. 
Sementara
itu, yang membuat saya sadar siapa diri saya sesungguhnya, setelah
mendapatkan penjelasan dari bapak Rhenal Kasali ”Who is Motivator?”.
Penjelasan beliau sangat menyentil diri saya, sehingga sekarang saya
sadar, belum pantas mengelari diri sebagai Motivator. Karena menurut
beliau seseorang bisa dikatakan motivator bila :
Tempaan sejarah hidup.Sejarah
hidup yang telah dia lalui, memberikan inspirasi dan semangat bagi
orang lain. Proses perjalanan yang dia lalui membuat orang termotivasi.
Yaitu melalui proses cerita dan materi yang disampaikan, merupakan
sejarah real kehidupan nyata yang dia lalui. (Walk to talk)
Bingkai ilmu.Tapi
sangat naif juga, sejarah yang telah dilalui, kemudian cara-cara itu
diaplikasikan juga untuk orang lain. Sementara setiap kita berbeda.
Walaupun esensinya adalah sama. Bingkai ilmu yang dimaksud adalah
knowlegde dan skill, sehingga dengan begitu didapatlah sebuah roadmap
dan desain sesuai (congruen) yang ditiupkan oleh ruh-ruh pengalaman
kepada orang lain.
Dari
penjelasan beliau tersebut, saya berkaca diri. Untuk saat ini belumlah
pantas menyebut diri sebagai motivator. Karena masih sedikit sejarah
diri yang bisa disampaikan. Tetapi, belum adanya pengalaman bukanlah
alasan untuk tidak bertindak, karena semua itu bermula dari proses
langkah pertama. Mungkin, perkataan pak Ronny tepat, saat ketemu beliau
di Rilzt Carlton. Beliau menyebut saya sebagai Tsunami Survivor..
Akhirnya,
saya yakin, apapun nama, istilah ataupun sebutan yang saya gunakan. Itu
semua kembali kepada perilaku dan karakter yang melekat kepada diri. 
Wallahu'alam.Jakarta 23 mei 2010. 

Rahmadsyah
 Trainer&Mind-Therapist I 081511448147 I Practitioner NLP & Hypnosis
I YM ; rahmad_aceh I www.facebook.com/rahmadsyah




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke