Dear Pak rahmad syah....

Kalau menurut saya, setelah  baca tulisan bapak sebanyak dua kali, menyebabkan 
saya jadi kurang percaya diri. seorang motivator seharusnya memberi semangat 
dan Kepercayaan diri. Tidak ada salahnya kita menggelar diri kita sebagai 
motivator, walaupun kita belum banyak pengalaman atau pun ilmu. karena kita 
adalah apa yang kita fikirkan..berfikir besarlah..niscaya kita menjadi 
besar...gantungkan cita cita setinggi bintang bintang..katanya walaupun gak 
nyampe bintang setidak tidaknya jatuh di bulan.

saya sendiri, yang masih muda ini sangat percaya diri bila digelar motivator. 
wal hasil...kepercayaan diri saya semakin lama semakin meningkat. begitu juga 
ilmu saya. bahka saya buat di kartu nama gelar saya ..supaya orang 
tersosialisai dengan gelar saya itu.

Hanya sekedar sharing....maaf kalau ada kesilapan kata.

Hormat saya,
Arant.
Leadership Motivator
Kuala Lumpur - Malaysia, 1 June 2010




________________________________
From: Rahmadsyah Mind-Therapist <[email protected]>
To: TCI <[email protected]>
Cc: Money <[email protected]>; Motivasi Indonesia 
<[email protected]>; [email protected]; HR GATE 
<[email protected]>
Sent: Tue, June 1, 2010 9:02:26 AM
Subject: <trainersclub> I am Not Motivator

  
Assalamu'alaikum wr.wb 
Shahabatku yang baik. Bagaimana kabar anda hari ini? Semoga selalu sehat dan 
mendapatkan kemudahan-kemudahan dari Allah. Sehingga apa yang telah kita 
janjikan kepada diri sendiri, terlaksana layaknya kisah novel berjalan indah. 
Namun itu semua kita sadari, bahwa hanya karena bantuan Allah, apa yang kita 
usahakan berhasil dan sesuai doa kita.

”I am not Motivator”. Mungkin ada pertanyaan hadir, maksudnya apa? Atau, kalau 
bukan sebagai motivator, terus apa? Note ini saya persembahkan untuk diri saya 
sendiri. Bila mungkin cocok dan bermanfaat, saya persembahkan juga Kepada 
shahabat muda, yang usianya seperti saya saat ini. Memiliki keinginan sebagai 
publik speaker, terutama ingin ”menggelari diri” sebagai Motivator.

Hari ini saya sadari. Ternyata ada kekeliruan pemikiran, pemahaman dan 
penyikapan dalam diri saya, terhadap nama, profesi atau panggilan Motivator. 
Saya benar-benar telah salah kaprah. (semoga kekeliruan ini, tidak terulang 
lagi kepada shahabat muda yang memiliki cita-cita mulia ini). Oh ya? Betul. 
Saya telah menyikapi dengan amat keliru.

Dulu pernah seorang Coach bertanya. ”Apa yang mendasarimu menjadi Motivator?” 
Disaat itu memang,  yang membuat saya ingin menjadi pembicara yang bisa 
memotivasi, karena saya merasakan semangat dan gairah yang luar biasa dalam 
diri saya, setelah mengikuti training motivasi. Dalam benak saya ”Pantasan 
orang-orang dijakarta memiliki semangat hidup, karena ada kegiatan seminar / 
pelatihan yang membangkitkan gairah, semangat dan penuh inspirasi. Sementara 
selama saya di Aceh, saya belum pernah mendapatkan hal demikian. Oleh karena 
itu, saya mau menjadi Motivator”.

Selain itu, saya dulu juga melihat kehidupan para motivator (guru-guru dan 
senior). Menjalani hidup yang menggiurkan dalam hal financial (anggapan saya 
sepeti itu dulunya). Dikenal oleh banyak orang. Jalan-jalan keluar kota, bahkan 
luar negeri. Itupun membuat saya semakin mau menjadi motivator.(Keliru#1 kurang 
jelas misi Sehingga menjadi bohong kepada diri yaitu; selama ini kalau ditanya 
mengapa mau menjadi motivator, Jawaban yang saya berikan terkesan sangat mulia 
”Mau membantu orang lain agar mendapatkan hidup yang lebih baik”).  

Selanjutnya saya pun mulai melakukan apa yang saya baca dibuku-buku motivasi, 
bagaimana mendapatkan apa yang kita mau. Pemberanian diripun terjadi dengan 
menuliskan ”Motivator” Sebagai profesi saya. Kebenaran saat itu, saya memiliki 
cara pandang instant dalam diri. Itulah kenyataannya, dengan  menganggap cukup 
menggunakan ilmu ATM, Amati, Tiru dan Modifikasi. Jadilah Motivator instant. 
Padahal diindonesia Cuma 2 hal yang instant; susu instan dan Mie instan 
he...he...(Keliru#2.Menggampangkan dan mengaharapkan cara-cara / proses 
mudah/instant).

Shahabat Motivator muda, itulah kekeliruan saya. Yaitu MINDSET Terlalu 
menggampangkan, menganggap mudah, bahkan hidup tenang serta menjadi dikenal 
banyak orang, bila menjadi motivator. Guru saya pernah mengingatkan 
”Ketahuilah, dalam konteks profesi. Kamu sesungguhnya bukanlah apa yang kau 
kenalkan (mengenalkan diri), tetapi dirimu sebenarnya adalah karena dikenalkan 
(dikenal)”. Ini bukan persoalan salah ataupun benar. Tetapi lebih kepada cara 
pandang dan Attitude yang melekat pada profesi tersebut. 

Sementara itu, yang membuat saya sadar siapa diri saya sesungguhnya, setelah 
mendapatkan penjelasan dari bapak Rhenal Kasali ”Who is Motivator?”. Penjelasan 
beliau sangat menyentil diri saya, sehingga sekarang saya sadar, belum pantas 
mengelari diri sebagai Motivator. Karena menurut beliau seseorang bisa 
dikatakan motivator bila :

Tempaan sejarah hidup.
Sejarah hidup yang telah dia lalui, memberikan inspirasi dan semangat bagi 
orang lain. Proses perjalanan yang dia lalui membuat orang termotivasi. Yaitu 
melalui proses cerita dan materi yang disampaikan, merupakan sejarah real 
kehidupan nyata yang dia lalui. (Walk to talk)

Bingkai ilmu.
Tapi sangat naif juga, sejarah yang telah dilalui, kemudian cara-cara itu 
diaplikasikan juga untuk orang lain. Sementara setiap kita berbeda. Walaupun 
esensinya adalah sama. Bingkai ilmu yang dimaksud adalah knowlegde dan skill, 
sehingga dengan begitu didapatlah sebuah roadmap dan desain sesuai (congruen) 
yang ditiupkan oleh ruh-ruh pengalaman kepada orang lain.

Dari penjelasan beliau tersebut, saya berkaca diri. Untuk saat ini belumlah 
pantas menyebut diri sebagai motivator. Karena masih sedikit sejarah diri yang 
bisa disampaikan. Tetapi, belum adanya pengalaman bukanlah alasan untuk tidak 
bertindak, karena semua itu bermula dari proses langkah pertama. Mungkin, 
perkataan pak Ronny tepat, saat ketemu beliau di Rilzt Carlton. Beliau menyebut 
saya sebagai Tsunami Survivor..

Akhirnya, saya yakin, apapun nama, istilah ataupun sebutan yang saya gunakan. 
Itu semua kembali kepada perilaku dan karakter yang melekat kepada diri. 
Wallahu'alam.Jakarta 23 mei 2010. 


________________________________
Rahmadsyah
Trainer&Mind-Therapist I081511448147 I Practitioner NLP & Hypnosis
I YM ; rahmad_aceh I www.facebook. com/rahmadsyah

________________________________

 




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke