YHWH dan Différance

Oleh:
Audifax
Penulis buku "Mite Harry Potter" (2005), "Imagining Lara Croft"
(2006) dan "Semiotika Tuhan" (2007)


Kisah Menara Babel adalah salah satu kisah mitologis yang
terkenal. Kisah ini bahkan menjadi salah satu kisah dalam Alkitab.
Kisah tentang ambisi manusia menyatu dalam satu `rumah' yang sama.
Alih-alih ambisi ini berhasil, YHWH justru turun ke bumi dan
menghancurkan rencana itu dengan cara membuat manusia-manusia yang
tengah berkumpul membangun menara itu menjadi tak paham bahasa
mereka satu sama lain. Totalitas punah oleh kehadiran YANG-LAIN atau
LIYAN yang tak terantisipasi. Manusia terserak ke berbagai penjuru.


Kehancuran Menara Babel barangkali hanya mite dan tak ada dalam
sejarah. Namun, pesan dari petafor kehancuran itu terasa begitu
kuat. Kita tak mungkin membangun suatu totalitas utuh selain
mengakui perbedaan dan hadirnya Liyan di sela-sela keberbedaan itu.
Melalui metafor inilah kita bisa memahami lebih jauh dekonstruksi
dan transformasi. Dekonstruksi selalu membongkar, menggeledah dan
mempreteli apapun yang mencoba mengutuhkan diri menjadi pusat.


Berangkat dari Dekonstruksilah kita bisa memahami Transformasi.
Dekonstruksi mengingatkan adanya différance yang selalu lolos dari
upaya penaklukan. Kenapa? Karena dalam différance terkandung
diferensialitas sekaligus referensialitas. Seperti akhir kisah
Menara Babel, yang ada tak hanya perbedaan tapi juga sekaligus
keberserakan ke segala penjuru. Itulah gambaran diferensialitas dan
referensialitas, bukan hanya perbedaan yang terjadi tapi juga
rujukan ke segala arah.


Dalam perbedaan-perbedaan yang menyebar dan tak tertampung oleh
totalitas itu, tak mungkin ada satu sistem pemikiran yang mencoba
menunggalkan manusia dalam satu penjelasan. Jika ada sebuah
pemikiran yang berambisi merengkuh segala manusia ke dalam
pengetahuan tunggal, seketika akan terbentur berbagai perubahan.
Dalam suasana sengkarut ini, `pembacaan' menjadi penting karena
pembacaan bisa mengakomodasi pluralitas. Ketika `pembacaan' menjadi
penting, maka segalanya mesti bisa `dibaca' atau diperlakukan
sebagai teks.


Teks adalah universum tanpa batas. Bila buku punya pengantar dan
penutup, teks lebih merupa bentangan pemaknaan yang menghampar,
bertaut tanpa akhir, jalin-menjalin, melimpah-ruah ke segala
penjuru, terus-menerus mengalir tanpa henti. Apa yang tergambar
dalam teks adalah gerak tak berarah yang bergulir dari satu medan
pemaknaan menuju medan pemaknaan lain.


Inilah mengapa segala konstruksi pengutuhan diri entah
sebagai `penguasa' atau `lawan dari penguasa' selalu rontok di
hadapan dekonstruksi. Misalnya, orang yang mencoba mengutuhkan diri
melalui gelar akademis maupun yang mencoba mengutuhkan diri melalui
perlawanan terhadap pemilik gelar akademis, dua-duanya sama-sama
dengan mudah didekonstruksi.


Baik `penguasa' ataupun `lawan-penguasa' , ketika keduanya
berhadapan diametral, seketika mereka menjadi sesuatu yang tekstual
dan bisa dibaca dalam struktur pemahaman yang kultural. Persis
ketika ia merupa teks maka ia bisa didekonstruksi. Segala sesuatu
sejauh bisa diperlakukan dan dipahami sebagai teks, maka sejauh itu
pula ia terbuka untuk dibaca, dibongkar, dan ditafsirkan ulang
secara tak berhingga.


Memahami Pluralitas, Liyan dan Teks
Dalam mite Menara Babel, YHWH adalah LIYAN yang lolos dari
pelafalan verbal namun tertangkap dalam pembacaan teks. Seperti
huruf `a' dalam différance yang dalam lafal Perancis tak tercandra
ujaran karena baik `difference' maupun `différance' sama-sama
berbunyi "diffrong", YHWH juga tak bisa dilafalkan karena terdiri
dari empat huruf mati (tetragrammaton) . Tapi, sama
dengan `différance', YHWH hadir dalam tulisan, sehingga ia hadir
(hanya) dalam pembacaan.


Tepatnya, `différance' dan `YHWH', keduanya hadir sebagai Liyan
yang tak tercandra oleh pelafalan namun hadir dalam tulisan. Di
sinilah kita bisa menengok kembali apa yang dikatakan Hélène Cixous.
Menurutnya, dekonstruksi derridean akan menjadi peringatan etiko-
politis terbesar dari masa kita. "Peringatan" , sebab kita perlu
terhindar dari keyakinan yang jumawa akan kemampuan kita
mengendalikan bahasa. "Etik", karena menyangkut
bagaimana `keyakinan' akan selalu berhubungan dengan
Liyan. "Politik", karena dekonstruksi adalah keadilan bagi Yang-Lain
dan Yang-Berbeda. Dalam `kelainan' dan `keberbedaan' , mereka harus
tetap dicatat dan memperoleh tempat.


Jadi, ketika dalam sebuah ruang yang plural kita hendak bicara
kesatian, maka apa yang satu itu pun tak boleh menjadi penyamaan
yang menyingkirkan keberbedaan. Orang boleh berbeda satu sama lain
dan tahu sama tahu akan perbedaan itu, namun tak boleh kehilangan
tempatnya sebagai warga dalam ruang itu. Yang-Lain dan Yang-Berbeda
adalah Liyan yang harus tetap dicatat dan memperoleh tempat. Inilah
filosofi yang (juga) ada pada ruang bernama `milis Psikologi
Transformatif' . Ruang ini memberi tempat pada keberbedaan, pada
Liyan yang tak terpahami namun hadir dalam `tulisan'.


Dekonstruksi adalah omong kosong besar jika orang masih bicara
pusat yang menstabilkan, menempatkan diri sebagai penguasa yang
petentang-petenteng menghukum atau menyuruh resign yang tak mau
searah dengannya. Dekonstruksi selalu beriring dengan transformasi.
Sebuah perubahan yang bergerak dan mengakomodasi diferensialitas dan
referensialitas. Di sinilah kita bisa bicara pluralitas bukan
sebagai sekedar `karnaval' melainkan dalam esensi hadirnya
keberbedaan sebagai warga dalam ruang yang sama.

Kirim email ke