Selasa, 15/01/2008 14:15 WIB
Penghapusan Bea Masuk Kedelai Dinilai Tak Efektif
Nurul Qomariyah - detikfinance
Jakarta - Penghapusan bea masuk kedelai dinilai tak efektif menurunkan harga di
tingkat eceran. Hal ini dikarenakan harga kedelai sudah naik hingga lebih dari
200%.
"Saat ini harga kedelai naik hingga 200 persen lebih, mana mungkin dengan
menurunkan tarif impor dari 10% menjadi 0% bisa efektif menurunkan harga," kata
Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih dalam rilisnya, Selasa
(15/1/2008).
Ia menjelaskan, harga kedelai Januari 2007 telah meningkat lebih dari 200
persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya. Hingga saat ini harga
kedelai ada di kisaran Rp. 7.800/Kg, yang merupakan harga tertinggi sejak 24
tahun terakhir.
Henry menilai kenaikan harga kedelai di pasar dunia yang mencapai US$ 600 per
ton, diakibatkan oleh orientasi pembangunan yang salah. Isu biofuel yang
digembar-gemborkan selama ini dinilainya telah menyebabkan harga bahan baku
seperti kedelai dan CPO meningkat karena permintaan industri pengolahan biofuel
terhadap bahan-bahan pangan meningkat.
Padahal di Amerika Serikat, kata Henry, para petani sudah beralih dari tanaman
kedelai ke tanaman pemasok biofuel lainnya. Di AS pada tahun 2007 terjadi
penurunan luas penanaman kedelai dari 75,5 juta acre menjadi 63,7 acre atau
turun 15% yang menyebabkan produksi kedelai turub sebesar 19%.
"Dan, Indonesia sendiri sangat tergantung pada AS, 70% kebutuhan kedelai
nasional dipasok dari AS, Argentina dan China," ungkapnya.
(qom/ir)
--
---------------------------------
Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkoppling.
Sök och jämför hos Yahoo! Shopping.