KPUD sudah mengumumkan nama-nama calon gubsu yg akan bertarung dlm pilkada 
mendatang. Tidak ada calon orang Karo. Terkejut kah kita? Agaknya tidak. Sejak 
awal sudah bisa dilakukan hitung-hitungan. Dari nama-nama orang Karo yg pernah 
dihembus-hembuskan (kampanye), entah dihembuskan sendiri oleh ybs atau orang 
lain, bahwasanya mereka mau maju,  nampak  bahwa "nilai jual" mereka (tingkat 
Sumut) tidak memenuhi syarat bahkan dengan segala hormat, persyaratan minimum 
pun tidak. Yang dimaksud dengan "nilai jual"  mencakup kapasitas pribadi dan 
networking.
   
  Kalau begitu, untuk apa selama ini mereka melakukan manuver?  Tampaknya yg 
mereka harapkan "efek sampingan" dari manuver "mau jadi bakal-bakal calon". 
Bukankah suatu keanehan seseorang mau maju sbg calon independen, padahal UU-nya 
belum ada. Dia pun tahu persis UU itu belum disusun. Apa yg ingin dicapai dgn 
biaya kampanye yg demkian besar? Sudah kelebihan uang? Ingin melakukan 
pendidikan politik atas biaya sendiri? Ada sasaran lain?
   
  Kalaupun ada "efek sampingan" yg mereka harapkan, tampaknya ada lagi "efek 
sampingan" lain yg tidak mereka harapkan, pandangan orang Karo yg "ngupir".
   
  Lalu pelajaran apa yg bisa dipetik? Saya kira, kalau orang Karo mau tampil 
dalam pilkada gubsu berikut, harus disiapkan calon jauh-jauh hari, mulai 
sekarang. Siapa mau mengambil inisiatif utk mulai menjaring calon potensial dan 
menggalang kekuatan pendukung?
   
  Sekedar lempar ide. Penghuni Namo Rambe Cafe (Tamburakrak, Guru Khalsa, 
Perkede, Tan Beng San, Galimanta) tidak ada yg berminat dan tidak pula memenuhi 
persyaratan (sikat gigi dan mandi saja sangat jarang, apalagi masalah lain yg 
lebih serius..)
   
   
  sg
   
   
   

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke