Setuju sekali, Amina gia Jambur ta enda jambur Budaya karo nge , saja sesekali
gia masuk ku POLITIK me labo min masalah , Gua gia gelah na kerina kita ula
mempokusken ke SADA ajaren ataupun prinsip saja. Bebaskan Dirimu , Perbelang
pemetehta, Janahna Mbelang lah si ban pengenen mata bagepe Metangkes dage si
ban Pembegi ta .Gia me enda ndai WARISEN BUDAYA SUHARTO, ei man si penganut
budaya na e saja nake , ..Eaakkk...Nungkir nungkir saja ngenda ndai nakei,
Kelang kelang rananta enda ...Uga nge kopinta ndai ...Perkede , Me enggo nge
tasak lau na ....???
MIREDO SITEPU
Team Creative
www.mergasilima.com
----- Original Message -----
From: Abdi J Munthe
Sent: Thursday, January 31, 2008 5:26 PM
Subject: [tanahkaro] FW: Warisan Suharto
fyi....
From: On Behalf Of Mula Harahap
Sent: Tuesday, January 29, 2008 4:02 PM
Warisan Suharto
Oleh: Mula Harahap
Kita sering lupa bahwa akibat berkuasa selama lebih dari 30 tahun
itu, Suharto bukan lagi sekedar pribadi tapi dia sudah menjadi sebuah
budaya atau sistem nilai. Sebuah budaya kepura-puraan, kepengecutan,
keserakahan dan pengingkaran akal sehat serta hati nurani demi uang
dan kekuasaan.
Bagaimana mungkin ratusan ribu bekas anggota PKI dibunuh, dianiaya
atau ditahan tanpa proses peradilan, dan jutaaan anggota keluarganya
selama 30 tahun harus menjadi anggota kasta "the untouchable" di
masyarakat? Bagaimana mungkin selama enam kali pemilu hari
pencoblosan tidak pernah dianggap sebagai hari libur, dan karenanya
semua pegawai harus melakukan pencoblosan di kantor? Bagaimana
mungkin satelit Palapa yang gagal diluncurkan dan terkatung-katung di
ruang angkasa itu dipungut oleh Bimantara, diklaim menjadi miliknya
lalu dijual kembali ke Indonesia ? Bagaimana mungkin siaran televisi
pendidikan yang dimodali oleh negara di kemudian hari menjadi
perusahaan swasta, yang mula-mula bernama PT Televisi Pendidikan
Indonesia , lalu menjadi hanya PT. TPI? Bagaimana mungkin hanya ada
sebuah perusahaan manufaktur mobil yang diberi pinjaman luarbiasa
besar dan pembebasan bea masuk sampai nol prosen lalu mengimpor mobil
built-up dari Korea dan mengklaimnya sebagai mobil nasional?
Mengapa selama 32 tahun Golkar harus disebut sebagai "golongan" dan
PDI serta PPP harus disebut sebagai "parpol"? Mengapa utusan daerah
dan golongan yang duduk di MPR itu selalu harus ditunjuk oleh
Presiden? Mengapa produk persidangan MPR itu sebagian disebut
sebagai "keputusan" dan sebagian lagi disebut "ketetapan"? Mengapa
selama 7 kali sidang MPR kita selalu harus memilih orang yang sama
secara aklamasi? Kemana uang hasil penjualan gas (di Sumatera dan
Kalimantan), kayu (di Sumatera dan Kalimantan), nikel (di Sulawesi),
emas dan tembaga (di Papua) yang disedot selama 30 tahun dan sekarang
nyaris habis itu? Mengapa majalah Tempo harus dibredel hanya karena
memberitakan betapa mahalnya biaya meraparasi kapal-kapal perang
rongsokan eks Jerman Timur itu?
Oh, masih banyak lagi skandal-skandal politik, ekonomi dan sosial
yang begitu vulgar dan telanjang yang kita saksikan selama masa 32
tahun kepemimpinan Suharto. Tapi kita diam saja. Bahkan sebagian
orang sengaja mematikan akal sehat dan hati nuraninya lalu menghibur
diri dengan ikut menumpuk uang serta kekuasaan sebanyak-banyaknya.
Suharto memang tidak bisa dipersalahkan sebagai satu-satunya orang
yang bertanggung- jawab atas sistem tersebut. Dia didukung oleh orang-
orang yang sebagian besar tampangnya bisa kita lihat di media massa
pada akhir-akhir ini. Tapi bagaimana pun sistem atau budaya itu bisa
terjadi karena terdapat kerjasama yang saling menguntungkan di kedua
belah fihak.
Sistem atau budaya itu juga sedemikian kentalnya sehingga walaupun
Suharto tidak lagi berkuasa selama hampir 10 tahun terakhir ini tapi
sistem atau budaya itu masih mencengkeram kita. Lihatlah segala puja-
puji yang dilontarkan berbagai tokoh akhir-akhir ini. Inilah nilai-
nilai kepura-puraan, kepengecutan, keserakahan dan pengingkaran akal
sehat serta hati nurani demi kenikmatan materi dan kekuasaan.
Kalau memang Suharto sedemikian hebat dan baiknya mengapa di tahun
1998 kita harus menurunkannya? Lalu apa artinya kematian anak-anak
muda kita dalam peristiwa Trisakti, Semanggi I, Semanggi II dsb. itu?
Beberapa hari ini saya mencoba memahami apa sebenarnya yang ada di
balik pikiran beberapa tokoh yang dulu sempat terkesan berpikir
kritis itu, tapi yang kemudian–entah karena apa–kembali beramai-ramai
memuja Suharto tanpa tedeng aling-aling? Saya tidak berhasil
menemukan jawaban yang memuaskan kecuali: Inilah warisan produk
budaya Rezim Orde Baru Suharto itu. Ketololan, kebodohan dan
maschochisme (merasa nikmat karena disakiti, dan jatuh cinta kepada
yang menyakitinya) .
Kepergian Suharto sebagai pribadi memang harus direlakan (baca: bukan
dimaafkan). Karena kalau tidak direlakan, yah mau diapakan lagi? Tapi
sebagai sebuah budaya atau sistem nilai dia samasekali tidak boleh
dilupakan, apalagi dimaafkan. Perbuatan-perbuatan kolektif yang
mencerminkan kepura-puraan, kepengecutan, keserakahan dan
pengingkaran akal sehat serta hati nurani itu harus terus dibicarakan
dan diawasi agar tidak terulang lagi.
Bagi saya, hilangnya kekayaan negara akibat penyelewengan Rezim Orde
Baru di bawah kepemimpinan Suharto memang pantas disesali. Tapi ada
hal yang lebih penting lagi untuk disesali: Hilangnya akal sehat dan
hati nurani di sebagian besar bangsa yang maschochis ini. Dan
perwujudannya bisa kita lihat jelas dari fenomena berlomba-lombanya
orang untuk nampang di RS Pertamina, Cendana dan Astana Giri Bangun,
dan segala puja-puji yang mereka panjatkan.
Sungguh merupakan sebuah ironi: Sementara media massa luar negeri
memberitakan kepergian Suharto dan legacy yang ditingalkannya dengan
nada yang kritis, media massa kita justeru cenderung melupakan apa
yang pernah terjadi selama 32 tahun terakhir ini.
Sel-sel kanker yang bernama sistem nilai Orde Baru itu ternyata belum
habis. Dia masih hidup dan menjalar kemana-mana, dan akhir-akhir ini
dia kembali muncul ke permukaan. Kita telah mulai lagi menjadi bangsa
bebek, yang mengelompok lalu berjalan tak menentu kesana-kemari.
Kalau kita tidak melakukan sesuatu dengan fenomena pemunculan kembali
nilai-nilai itu, maka percayalah dalam waktu dekat dia akan
menggerogoti pikiran dan hati orang-orang muda kita yang praktis tak
pernah mengalami betapa gila dan bebalnya kita selama 32 tahun Orde
Baru itu, dan negara serta bangsa ini akan semakin terpuruk saja [.]
------------------------------------------------------------------------------
.