Yang jelas setelah HM Suharto meninggal di prediksi akan terjadi Inflasi di 
indonesia karna pembagian warisan yang ditinggalkan kepada anak-anaknya. 
Pemerintah harus siap untuk menerima kenyataan ini dan harus mengeluarkan jurus 
yang dapat mencegah banyaknya beredar Uang di indonesia akibat pembagian harta 
warisan yang di tinggalkan oleh Suharto, Dimana kita lihat harta yang sebagian 
besar uang negara yang selama Suharto memerintah bangsa Indonesia ini diambil 
demi untuk kepentingan diri sendiri.
   
  Dan mengenai di ajukan sebagai Pahlawan nasional sepertinya sangat Buruk bagi 
bangsa Indonesia tetapi jika itu diajukan oleh Partai politik Golkar itu 
sah-sah saja sebab memang memang yang mengasuh GOLKAR dari dulunya adalah 
Suharto, dan itu baik jika Golkar memiliki Pahlawannya.
   
  Dan saat ini GOLKAR sukses dan solit yang sudah lama diperankan oleh Suharto 
pada masa di Indonesia hanya ada Golkar, PPP dan PDI. sampai 32 tahun memimpin 
tanah air ini.  
  Begitu lamanya memerintah sehingga Kekayaan yang dimiliki oleh Suharto 
amatlah berlimpah dan menyisakan Harta yang cukub besar yang akan beredar di 
nusantara ini akibat pembagiaan Asset kepada keturunan.Salah satu eh salah 
banyak penyebab keruntuhan ekonomi Indonesia, sampe jatuh terpuruk ke paling 
rendah dibanding negara-negara asia lainnya yang sama-sama mengahadapi krisis 
ekonomi. 
  Sekarang akan berakibat patal jika harta kekayaan Suharto akan keluar dan 
mengakibattkan beredarnya uang semakin banyak akan menimbulkan harga barang 
naik dan akan lebih mempesulit perekonomian rakyat yang memang sudah MISKIN
   
   
  Bujur 
   
  

Radio Karo Online <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Setuju sekali, Amina gia Jambur ta enda jambur Budaya karo nge , 
saja sesekali gia masuk ku POLITIK me labo min masalah , Gua gia gelah na 
kerina kita ula mempokusken ke SADA  ajaren ataupun prinsip saja.  Bebaskan 
Dirimu , Perbelang pemetehta, Janahna Mbelang lah si ban pengenen mata bagepe 
Metangkes dage si ban Pembegi ta .Gia me enda ndai WARISEN BUDAYA SUHARTO, ei 
man si penganut budaya na e saja nake , ..Eaakkk...Nungkir nungkir saja ngenda 
ndai nakei, Kelang kelang rananta enda ...Uga nge kopinta ndai ...Perkede , Me 
enggo nge tasak lau na ....???
   
  MIREDO SITEPU
  Team Creative
  www.mergasilima.com
   
   
    ----- Original Message ----- 
  From: Abdi J Munthe 
  Sent: Thursday, January 31, 2008 5:26 PM
  Subject: [tanahkaro] FW: Warisan Suharto
  

    fyi....
                From: On Behalf Of Mula Harahap
Sent: Tuesday, January 29, 2008 4:02 PM


                  Warisan Suharto

Oleh: Mula Harahap

Kita sering lupa bahwa akibat berkuasa selama lebih dari 30 tahun 
itu, Suharto bukan lagi sekedar pribadi tapi dia sudah menjadi sebuah 
budaya atau sistem nilai. Sebuah budaya kepura-puraan, kepengecutan, 
keserakahan dan pengingkaran akal sehat serta hati nurani demi uang 
dan kekuasaan.

Bagaimana mungkin ratusan ribu bekas anggota PKI dibunuh, dianiaya 
atau ditahan tanpa proses peradilan, dan jutaaan anggota keluarganya 
selama 30 tahun harus menjadi anggota kasta "the untouchable" di 
masyarakat? Bagaimana mungkin selama enam kali pemilu hari 
pencoblosan tidak pernah dianggap sebagai hari libur, dan karenanya 
semua pegawai harus melakukan pencoblosan di kantor? Bagaimana 
mungkin satelit Palapa yang gagal diluncurkan dan terkatung-katung di 
ruang angkasa itu dipungut oleh Bimantara, diklaim menjadi miliknya 
lalu dijual kembali ke Indonesia ? Bagaimana mungkin siaran televisi 
pendidikan yang dimodali oleh negara di kemudian hari menjadi 
perusahaan swasta, yang mula-mula bernama PT Televisi Pendidikan 
Indonesia , lalu menjadi hanya PT. TPI? Bagaimana mungkin hanya ada 
sebuah perusahaan manufaktur mobil yang diberi pinjaman luarbiasa 
besar dan pembebasan bea masuk sampai nol prosen lalu mengimpor mobil 
built-up dari Korea dan mengklaimnya sebagai mobil nasional?

Mengapa selama 32 tahun Golkar harus disebut sebagai "golongan" dan 
PDI serta PPP harus disebut sebagai "parpol"? Mengapa utusan daerah 
dan golongan yang duduk di MPR itu selalu harus ditunjuk oleh 
Presiden? Mengapa produk persidangan MPR itu sebagian disebut 
sebagai "keputusan" dan sebagian lagi disebut "ketetapan"? Mengapa 
selama 7 kali sidang MPR kita selalu harus memilih orang yang sama 
secara aklamasi? Kemana uang hasil penjualan gas (di Sumatera dan 
Kalimantan), kayu (di Sumatera dan Kalimantan), nikel (di Sulawesi), 
emas dan tembaga (di Papua) yang disedot selama 30 tahun dan sekarang 
nyaris habis itu? Mengapa majalah Tempo harus dibredel hanya karena 
memberitakan betapa mahalnya biaya meraparasi kapal-kapal perang
rongsokan eks Jerman Timur itu?

Oh, masih banyak lagi skandal-skandal politik, ekonomi dan sosial 
yang begitu vulgar dan telanjang yang kita saksikan selama masa 32 
tahun kepemimpinan Suharto. Tapi kita diam saja. Bahkan sebagian 
orang sengaja mematikan akal sehat dan hati nuraninya lalu menghibur 
diri dengan ikut menumpuk uang serta kekuasaan sebanyak-banyaknya.
Suharto memang tidak bisa dipersalahkan sebagai satu-satunya orang 
yang bertanggung- jawab atas sistem tersebut. Dia didukung oleh orang- 
orang yang sebagian besar tampangnya bisa kita lihat di media massa 
pada akhir-akhir ini. Tapi bagaimana pun sistem atau budaya itu bisa 
terjadi karena terdapat kerjasama yang saling menguntungkan di kedua 
belah fihak.

Sistem atau budaya itu juga sedemikian kentalnya sehingga walaupun 
Suharto tidak lagi berkuasa selama hampir 10 tahun terakhir ini tapi 
sistem atau budaya itu masih mencengkeram kita. Lihatlah segala puja-
puji yang dilontarkan berbagai tokoh akhir-akhir ini. Inilah nilai-
nilai kepura-puraan, kepengecutan, keserakahan dan pengingkaran akal 
sehat serta hati nurani demi kenikmatan materi dan kekuasaan.

Kalau memang Suharto sedemikian hebat dan baiknya mengapa di tahun 
1998 kita harus menurunkannya? Lalu apa artinya kematian anak-anak 
muda kita dalam peristiwa Trisakti, Semanggi I, Semanggi II dsb. itu?

Beberapa hari ini saya mencoba memahami apa sebenarnya yang ada di 
balik pikiran beberapa tokoh yang dulu sempat terkesan berpikir 
kritis itu, tapi yang kemudian–entah karena apa–kembali beramai-ramai 
memuja Suharto tanpa tedeng aling-aling? Saya tidak berhasil 
menemukan jawaban yang memuaskan kecuali: Inilah warisan produk 
budaya Rezim Orde Baru Suharto itu. Ketololan, kebodohan dan 
maschochisme (merasa nikmat karena disakiti, dan jatuh cinta kepada 
yang menyakitinya) .

Kepergian Suharto sebagai pribadi memang harus direlakan (baca: bukan 
dimaafkan). Karena kalau tidak direlakan, yah mau diapakan lagi? Tapi 
sebagai sebuah budaya atau sistem nilai dia samasekali tidak boleh 
dilupakan, apalagi dimaafkan. Perbuatan-perbuatan kolektif yang 
mencerminkan kepura-puraan, kepengecutan, keserakahan dan 
pengingkaran akal sehat serta hati nurani itu harus terus dibicarakan 
dan diawasi agar tidak terulang lagi.

Bagi saya, hilangnya kekayaan negara akibat penyelewengan Rezim Orde 
Baru di bawah kepemimpinan Suharto memang pantas disesali. Tapi ada 
hal yang lebih penting lagi untuk disesali: Hilangnya akal sehat dan 
hati nurani di sebagian besar bangsa yang maschochis ini. Dan 
perwujudannya bisa kita lihat jelas dari fenomena berlomba-lombanya 
orang untuk nampang di RS Pertamina, Cendana dan Astana Giri Bangun, 
dan segala puja-puji yang mereka panjatkan.

Sungguh merupakan sebuah ironi: Sementara media massa luar negeri 
memberitakan kepergian Suharto dan legacy yang ditingalkannya dengan 
nada yang kritis, media massa kita justeru cenderung melupakan apa 
yang pernah terjadi selama 32 tahun terakhir ini.

Sel-sel kanker yang bernama sistem nilai Orde Baru itu ternyata belum 
habis. Dia masih hidup dan menjalar kemana-mana, dan akhir-akhir ini 
dia kembali muncul ke permukaan. Kita telah mulai lagi menjadi bangsa 
bebek, yang mengelompok lalu berjalan tak menentu kesana-kemari.

Kalau kita tidak melakukan sesuatu dengan fenomena pemunculan kembali 
nilai-nilai itu, maka percayalah dalam waktu dekat dia akan 
menggerogoti pikiran dan hati orang-orang muda kita yang praktis tak 
pernah mengalami betapa gila dan bebalnya kita selama 32 tahun Orde 
Baru itu, dan negara serta bangsa ini akan semakin terpuruk saja [.]

  



  
  

  


  



  
---------------------------------
    


  .

 



  

  

                         

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke