--- In [email protected], Moses S <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Majapahit kerajaan Jawa labo kerajaan 'nasionalis'. > Mbarenda lenga bo lit kai pe. Teman saya yang Sunda > jelas alergi mendengar nama Gadjah Mada. Mbarenda > teman-teman Jawa moderat sada pe lo setuju proses > jawanisasi ala Suharto enda.. > > Persatuan oceeee tapi kesatuan? ngerti ngga sih sultan > ini arti kesatuan? heran dech euy.. > Biarkan perbedaan tumbuh karena itu merupakaan > kekayaan dan jika kita ingin duduk bersama setau saya > harus menggunakan 'topi' yang sama bukan perbedaan..
mjj betul sekali, bung hatta pada 1932 pernah menulis begini ttg pengertian "persatuan" : "Persatoean Ditjari , Per-sate-an jang Ada" Daging Sapi dan Daging Kambing memang bisa di-sate-kan bersama bersama tetapi pandangan dan perspektif tiap orang (apalagi dari latar belakang yang berbeda secara geopolitik dan kultural) dan konsep aristokrat (java) itu tidak bisa disatukan. Menyatukan semua orang/group2 itu berarti mengorbankan prinsip". > > Dan tolong hentikan istilah-istilah Jawa-Kuno itu, > ngga mesti kan yang dominan selalu dipaksakan? Owe. Istilah Djawa Kuno itu sebenarnya bagian dari pidato2 bung karno (yg dipelihara terus sampai sekarang) untuk membangkitkan semangat massa (mass agitation) dari Djawa. Tentunya karena itu dalam konteks Java, konteks ini kurang mengena di telinga dan prinsip orang luar (dari sumatra,sulawesi sampai Irian). Btw, istilah 'dominan' kam diatas itu tepat sekali. Satu hal lagi, bung hatta pernah berkata "Hentikan provokasi masa dengan dongeng2 dan ramalan-ramalan Djojoboyo itu, masa' kita percaya dengan takhayul' :-) Abis ini baca juga buku2 dari Mochtar Lubis, lebih 'mengena' lagi kenapa sering ada kata2 takhayul dalam perbendaharaan kita (dari kata2 sakti,dlsb). Bujur dan salam dari kalipornia, Carlos > Oya, sudah dekat yah pemilu :) > > Bujur, > Gadjah Mada Sitepu > >
