Jambur kepar nari..
--- Rachmad M <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Saya ingin menganalisa tulisan ini yang saya ambil > dari tulisan > (Slamet Soeseno) dengan menggunakan dolar US yang 9 > 200 rupiah serta > beras yang saat ini 1 liter 8 000 rupiah. Kurs saat > itu 1 US$ = 3.88 > dan harga beras 15 sen rupiah. > > > > Saya masih di kelas 3 MLS (Middelbare Landbouw > School) Bogor di > Negara Pasundan, Repoeblik Indonesia Serikat, ketika > pada 1950 negara > itu bersama Repoeblik Indonesia dari Yogya berfusi > menjadi Repoeblik > Indonesia. Dengan begitu, uang merah Belanda di > negara Pasundan > beredar bersama-sama dengan uang putih ORI (Oeang > Repoeblik > Indonesia). > > Ketika Menteri Keuangan Meester Sjafruddin > Prawiranegara > memerintahkan agar semua uang merah Rp 5,- ke atas > digunting menjadi > dua bagian, banyak orang pingsan, setengah mati, > atau getem-getem, > tetapi tak bisa berbuat apa-apa. > > Saya sendiri tidak apa-apa karena jarang mempunyai > uang besar. Uang > saku dari orangtua hanya Rp 4,- (1 US$= Rp. 9 485) > (Dibanding harga > Beras sekarang = Rp. 213 333 ) sebulan. Selalu > receh-receh seperti > pecahan 5 sen, ketip (10 sen), atau setalen (25 sen) > dari logam yang > bentuknya bulat, sesuku (50 sen), atau kadang-kadang > Rp 1,-. Kedua > recehan terakhir itu berupa uang kertas persegi > panjang. > > Pada 1951 saya lulus sekolah dan bekerja di > Laboratorium Perikanan > Darat, Bogor, di bawah Kementerian Pertanian, dengan > gaji Rp 250,- > (65.8 US$= Rp. 605.000,-) (Dibanding harga Beras > sekarang = Rp. 13 > 333 333,33 ) sebulan. Dipotong Rp 50,- (13.15 US$= > Rp. 121.000,- ) > (Dibanding harga Beras sekarang = Rp. 2 666 666.67) > untuk bayar kos > di rumah keluarga menengah, sisa gaji saya masih > banyak. Dipakai > bersenang-senang tiap akhir pekan, beli pakaian > setiap bulan, dan > jajan sehari-hari, tetap tersisa banyak. > > Tiap Sabtu malam yang disebut "Malem Minggu", saya > berkunjung ke dan > menginap di rumah paman di Jakarta, dengan naik > oplet Bogor - Jakarta > lewat Cibinong. Tarifnya Rp 1,5,-.(0.395 US$= Rp. 3 > 652,-) (Dibanding > harga Beras sekarang = Rp. 53 333) Di "Malem Minggu" > itu saya selalu > menonton bioskop di Metropole bersama teman > istimewa. Karcisnya Rp 1,- > (0,26 US$= Rp. 2. 421) (Dibanding harga Beras > sekarang = Rp. 53 333,- > ) untuk kelas 3, baris depan), Rp 2,- (0.52 US$= Rp. > 4 842,-) > (Dibanding harga Beras sekarang = Rp. 106 666,67) > (untuk kelas 2, > tengah), Rp 3,- (0,78 US$= Rp. 7 263,-) (Dibanding > harga Beras > sekarang = Rp. 160 000) (kelas 1, belakang), dan Rp > 3,5 (0.92 US$= > Rp. 8 473,-) (Dibanding harga Beras sekarang = Rp. > 186 666,67)(untuk > balkon di atas kepala penonton kelas 1). > > Dibandingkan dengan harga beras yang 16 sen (0,042 > US$= Rp. 387,-) > (Dibanding harga Beras sekarang = Rp. 8 000) > seliter, karcis bioskop > itu mahal. Tetapi dibandingkan dengan gaji pegawai > negeri menengah > (bukan sarjana) yang ratusan rupiah, karcis itu > murah sekali. > Hari Minggu saya isi dengan pesiar bersama teman > istimewa itu ke > Pantai Zandvoort di bilangan Priok, atau ke > Cilincing di sebelah > timurnya. Anggaran bersenang-senang tiap akhir pekan > itu cuma Rp 20,- > (5.26 US$= Rp. 48 421)(Dibanding harga Beras > sekarang = Rp. > 1.066.666.67) termasuk makan bersama ami intime itu > di restoran elite > Capitol, di Pintu Air. Kalau dikalikan empat hanya > Rp 80,- (21,05 > US$= Rp. 193 000) )(Dibanding harga Beras sekarang = > Rp. 4.266.000) > sebulan. Gaji masih tersisa banyak! > > Semula saya tidak mengerti mengapa uang rupiah hasil > guntingan > Sjafruddin begitu "enak rasanya". Baru setahun > kemudian saya paham. > Pertama, jumlah uang yang dicetak hanya sedikit. > Penduduk yang > mengedarkan (memakai) uang itu pun masih sedikit. > Penduduk Jakarta > hanya 1,5 juta orang waktu itu. > > Kedua, kebutuhan hidup masih sedikit. Pesawat TV, > tape recorder, dan > radio kaset tidak ada, sehingga tidak mendorong > orang untuk > membelinya secara kreditan. Hiburan saya sehari-hari > hanya radio roti > yang harganya cuma Rp 75,-.(19,73 US$= Rp. 187.000) > (Dibanding harga > Beras sekarang = Rp. 4.000.000) Radio ini radio > juga, kecil, > bentuknya seperti roti tawar yang besar. > > Ketiga, distribusi barang lancar. Sampai ke > desa-desa di luar batas > ibukota kabupaten pun ada toko pedagang P & D > (provisien en dranken) > yang kemudian menjadi M & M (makanan dan minuman). > Sekarang orang > menyebutnya Waserba (warung serba ada) meski isinya > banyak yang tiba- > tiba tidak ada. > > Pengusaha toko P & D itu kebanyakan orang Cina, atau > orang Indonesia > keturunan. Cara mereka berdagang jujur sekali, > dengan harga eceran > yang kompetitif. Tidak ada yang menaikkan harga EZ > yang ditetapkan > pemerintah untuk melindungi rakyat konsumen. EZ > kependekan dari > Departement van Economische Zaken warisan Belanda. > Walau > kementeriannya sudah berubah menjadi Kemakmuran, > harga itu masih > disebut harga EZ. > > Tetapi menjelang Pemilu I tahun 1955, inflasi mulai > karena gejolak > politik berkepanjangan sampai memacetkan produksi > dan distribusi > barang. Perdagangan kacau, sehingga gaji rupiah saya > sebagai pegawai > negeri tidak enak lagi. (Slamet Soeseno) > > catatan : > > Harga beras di Indonesia saat ini sudah sama dengan > harga beras > dipasar internasional, maka seperti dalam tulisan > tersebut diatas > gaji baru nyaman jika bukan sarjana bisa dibayar > Rp. 13 000 000,- > sebulan atau setara dengan 1.625 liter beras dan ini > sama dengan gaji > yang 250 rupiah dengan harga beras 0.15 pada tahun > 1950 an yang > setara dengan 1.625 beras juga Angka 13 juta ini > kok sesuai dengan > survai asal-asalanya Indi Rani blognya > http://www.indrani.net/node/312 > > > Ini antara lain kenapa banyak orang Indonesia jadi > korup,lha harusnya > 13 jut cuma dapet 2 jut darima kurangnya :-) > > Salam > > RM > > > ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
