Banyak versi tentang cerita Pawang Ternalem. Salah satunya seperti dikutip dari
website Kafe Gaul :
http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=74737&page=14
Itulah sebabnya Tim Kreatif Teater Aron melakukan penelitian dan riset untuk
mencari kebenaran fakta dan cerita beberapa waktu lalu.
Pertektekken, daerah bau kematian
Daerah Pertektekken dikenal sangat angker. Apapun yang melintas di atasnya akan
jatuh dan mati. Kabarnya, tempat ini adalah tempat pembuangan ilmu sakti dari
seorang dukun. Konon, jatuhnya pesawat Foker di sekitar pegunungan Sibayak
disebabkan pula oleh 'keberanian' pesawat tersebut melintasi daerah keramat ini.
Jangankan pesawat, kupu-kupu atau burung yang berani terbang di atas
Pertektekken akan mati secara mengenaskan. Memang, daerah yang terletak di kaki
bukit Pertektekken di bagian Selatan dan berdekatan dengan gunung Sibayak
memiliki kisah mistik yang menyeramkan. Kisah itu berawal dari sebuah desa,
Daulu yang hanya berjarak beberapa kilometer dari tempat ini. Daulu terletak di
bagian Selatan kota Medan, kira-kira 55 kilometer.
Konon di desa Daulu ada sepasang dukun sakti yang bernama Pawang Ternalem dan
Berru Pattimar. Dikisahkan sepasang dukun tersebut sering mengembara ke
berbagai daerah untuk melakukan pengobatan dengan meninggalkan kedua anakanya.
Kabarnya ketika mereka mengembara, kedua anaknya jatuh sakit. Seorang tetangga
mengabarkan berita menyedihkan ini kepada sepasang dukun tersebut. Namun Pawang
Ternalem dan istrinya menolak pulang. Mereka berpikir, kalaupun anaknya sakit
atau sampai meninggal dunia mereka toh bisa menghidupkan lagi.
Benar, selang beberapa saat tetangganya datang lagi dan mengabarkan bahwa
anaknya telah meninggal dunia. Sepasang dukun sakti ini enggan untuk pulang.
Pasalnya, hanya dengan satu centimeter tulang yang masih tersisa mereka mampu
menghidupkan kembali anaknya.
Sial tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Ketika Pawang Ternalem pulang
ke rumah, didapati kuburan anaknya telah kosong. Kabarnya, jasad anaknya telah
dicuri oleh dukun yang lebih sakti lagi. Ia adalah Nini Kertah Ernala, penunggu
gunung Sibayak. "Bila ingin bertemu bentangkan kain putih. Ingat, jangan
menjamah anak itu karena bayangan tersebut akan lenyap," pesan Nini Kertah.
Sepasang dukun tersebut menjalankan pesan Nini Kertah. Ketika mereka
membentangkan kain putih maka wajah kedua anak itupun muncul. Karena rindu yang
begitu mendalam, Beru Pattimar memeluk kedua anaknya. Namun bayangan itupun
tiba-tiba menghilang. Pasangan tersebut sangat terpukul dengan kematian
anaknya. Apalagi mereka tak mampu menghidupkan lagi.
Rasa kecewa yang mendalam menyebabkan mereka sepakat untuk membuang ilmunya.
"Apalah artinya ilmu dan kekayaan yang kita miliki kalau anak kita tak bisa
kembali. Marilah sekarang juga kita buang semua ini," katanya sambil menuju ke
sebuah kaki bukit. Sebelum memotong alat perdukunannya, Beru Pattimar sempat
bersumpah, "Apapun yang nantinya melintas di atas kepalaku akan mati". Seketika
tempat itupun seperti meledak, menerima sumpah saktinya.
Kabarnya sumpah sakti dari Beru Pattimar benar-benar menjadi kenyataan.
Penduduk yang mencari kayu di tempat ini sering menemukan bangkai burung yang
mati. Malah mereka pun sering menemukan bangkai harimau atau beruang yang
mereka ambil kulitnya untuk membuat perhiasan. Benarkah sumpah sakti itu yang
menjadi sumbernya?