Ada sebuah pertanyaan melintas apa kata sang sutradara yang mempersiapkan
penampilan pawang ternalem di bulan oktober yang akan datang.. cerita yang
di kutip dari kafe gaul adalah cerita guru penawar reme atau guru
kandibata...

Kalau mau melihat lokasinya bisa di antarkan, tapi dengan syarat buka alas
Kaki anda yah .. dan jangan pernah heran entar ada suara harimau mangaung
dan 2 orang putri...  ada juga si bisu korban kecelakaan garuda yang konon
menguasai ilmu bela diri cina.. ada wajud naga disana.. apakah anda ingin
tenggelam di sumber mata air panas yang hanya sebesar kuali (belanga kawah )
?? setelah seorang guru mengucapkan mantra..

... Bujur
Eddy Surbakti

2008/6/17 Aron on Arts <[EMAIL PROTECTED]>:

>   Banyak versi tentang cerita Pawang Ternalem. Salah satunya seperti
> dikutip dari website Kafe Gaul :
>
> http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=74737&page=14
>
> Itulah sebabnya Tim Kreatif Teater Aron melakukan penelitian dan riset
> untuk mencari kebenaran fakta dan cerita beberapa waktu lalu.
>
>
>
>
>
> *Pertektekken, daerah bau kematian*
>
> Daerah Pertektekken dikenal sangat angker. Apapun yang melintas di atasnya
> akan jatuh dan mati. Kabarnya, tempat ini adalah tempat pembuangan ilmu
> sakti dari seorang dukun. Konon, jatuhnya pesawat Foker di sekitar
> pegunungan Sibayak disebabkan pula oleh 'keberanian' pesawat tersebut
> melintasi daerah keramat ini.
>
> Jangankan pesawat, kupu-kupu atau burung yang berani terbang di atas
> Pertektekken akan mati secara mengenaskan. Memang, daerah yang terletak di
> kaki bukit Pertektekken di bagian Selatan dan berdekatan dengan gunung
> Sibayak memiliki kisah mistik yang menyeramkan. Kisah itu berawal dari
> sebuah desa, Daulu yang hanya berjarak beberapa kilometer dari tempat ini.
> Daulu terletak di bagian Selatan kota Medan, kira-kira 55 kilometer.
>
> Konon di desa Daulu ada sepasang dukun sakti yang bernama Pawang Ternalem
> dan Berru Pattimar. Dikisahkan sepasang dukun tersebut sering mengembara ke
> berbagai daerah untuk melakukan pengobatan dengan meninggalkan kedua
> anakanya.
>
> Kabarnya ketika mereka mengembara, kedua anaknya jatuh sakit. Seorang
> tetangga mengabarkan berita menyedihkan ini kepada sepasang dukun tersebut.
> Namun Pawang Ternalem dan istrinya menolak pulang. Mereka berpikir, kalaupun
> anaknya sakit atau sampai meninggal dunia mereka toh bisa menghidupkan lagi.
>
> Benar, selang beberapa saat tetangganya datang lagi dan mengabarkan bahwa
> anaknya telah meninggal dunia. Sepasang dukun sakti ini enggan untuk pulang.
> Pasalnya, hanya dengan satu centimeter tulang yang masih tersisa mereka
> mampu menghidupkan kembali anaknya.
>
> Sial tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Ketika Pawang Ternalem
> pulang ke rumah, didapati kuburan anaknya telah kosong. Kabarnya, jasad
> anaknya telah dicuri oleh dukun yang lebih sakti lagi. Ia adalah Nini Kertah
> Ernala, penunggu gunung Sibayak. "Bila ingin bertemu bentangkan kain putih.
> Ingat, jangan menjamah anak itu karena bayangan tersebut akan lenyap," pesan
> Nini Kertah.
>
> Sepasang dukun tersebut menjalankan pesan Nini Kertah. Ketika mereka
> membentangkan kain putih maka wajah kedua anak itupun muncul. Karena rindu
> yang begitu mendalam, Beru Pattimar memeluk kedua anaknya. Namun bayangan
> itupun tiba-tiba menghilang. Pasangan tersebut sangat terpukul dengan
> kematian anaknya. Apalagi mereka tak mampu menghidupkan lagi.
>
> Rasa kecewa yang mendalam menyebabkan mereka sepakat untuk membuang
> ilmunya. "Apalah artinya ilmu dan kekayaan yang kita miliki kalau anak kita
> tak bisa kembali. Marilah sekarang juga kita buang semua ini," katanya
> sambil menuju ke sebuah kaki bukit. Sebelum memotong alat perdukunannya,
> Beru Pattimar sempat bersumpah, "Apapun yang nantinya melintas di atas
> kepalaku akan mati". Seketika tempat itupun seperti meledak, menerima sumpah
> saktinya.
>
> Kabarnya sumpah sakti dari Beru Pattimar benar-benar menjadi kenyataan.
> Penduduk yang mencari kayu di tempat ini sering menemukan bangkai burung
> yang mati. Malah mereka pun sering menemukan bangkai harimau atau beruang
> yang mereka ambil kulitnya untuk membuat perhiasan. Benarkah sumpah sakti
> itu yang menjadi sumbernya?
>
>  
>

Kirim email ke