--- In [email protected], Joey Bangun <[EMAIL PROTECTED]> wrote: "... Kata Mamak, Bapak lagi sakit karena kecapekan di acara ultah Moria yang di Kabanjahe itu. Jadinya aku tidak bisa jumpa dengan Bapak. Nongkrong di kede kopi gang Kalihara bersama Eddy Surbakti dan kawan-kawan, aku baru tahu dari seorang teman di kede kopi itu tentang penyakit Bapak. Pantas saja Bapak tidak bisa ngobrol-ngborol denganku, pikirku. Aku berdoa untuk kesehatan bapak ..."
Bang Hendri Bangun menunjukkan sakitnya padaku di studio Djasa Tarigan (Medan) sewaktu rekaman persiapan drama masuknya Kristen ke Karo (tahun lalu). Saat itu, meski dia dalam keadaan sakit, dia terus serius menyelesaikan tugasnya mempersiapkan drama itu. Kadang aku berpikir, seniman memang 'gila'. Untung saja aku bukan seniman sekelas bang Hendri Bangun, Joey Bangun dan Sayang Bangun. Beberapa waktu lalu, bebere kami Sastroy Bangun menceritakan padaku bagaimana sakitnya bang Hendri semakin parah tapi akhirnya bisa disembuhkan oleh bang Hendri sendiri. Saat ini, aku sangat senang. Selain karena bang Hendri sudah sehat, Joey dan seninana Satroy semakin saling kenal. Sama-sama seniman, keturunan Lima Senina pula, siangkan rupanya mereka. Mainkan kalian saja gebrakan kalak Bangun itu. Kalau ada yang macam-macam, bilang saja sama aku. Terpenting adalah Karo Énda Ndai, Énda Karo Ndai. Biasanya seniman dan pejuang punya ego tinggi, termasuk aku. Aha Roha?! Até, laé Erwin? Oh, ya. Drama Pawang Ternalem yang diangkat oleh bang Hendri Bangun ke 'layar kaset' (meminjam istilah turang kami Riah Ginting/ Nd Irene), adalah kenangan masa remajaku. Kini, seorang Bangun lain mau mengangkatnya ke sebuah pertunjukan drama pentas, wow .... Sepanjang kam untuk Karo Énda Ndai, Joey, kami tetap mendukungmu. Untuk Windra Tarigan, kénén postingandu kami tangkap. Pegas saja, Gan. Ula tanggungi. Kita enggom kuakap sitandan amin lenga erkuan langsung. Juara R. Ginting
