Mejuah Juah

Mengenai kisah pawang ternalem yang tertulis di forum kafegaul (bukan di situs 
resminya kafe gaul) tidak bisa dianggap suatu kenyataaan yang benar, meskipun 
tulisan tersebut tertulis dalam satu nama domain kafegaul, namun kalau 
tertulisnya berada di web forum, itu biasanya diluar tanggung jawab daripada 
pengelola website.

Misalkan seperti keberadaan mailing list resmi komunitaskaro yang notebene 
dapat dikatakan sebagai official resmi dari pada website tanahkaro.com , namun 
keberadaan milis yang terdiri dari banyak orang yang bergabung dan dapat 
memosting berbagai artikel, maka kesemuanya itu diluar dari tanggung jawab 
pengelola tanahkaro.com , dan demikian juga dengan keberadaan tulisan di sebuah 
forum, dimana forum dapat dikatakan adalah perluasan dari sebuah metode mailing 
list (milist).

Enda kam lebe sitik bas aku nari bang, janah tetap semangat untuk membuat yang 
terbaik untuk Tanah Karo Simalem.

Bujur

Best Regarts

www.dausmedia.cjb.net


--- On Wed, 6/18/08, Joey Bangun <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Joey Bangun <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [tanahkaro] pawang ternalem tak ada hubungan dgn deleng pertekteken
To: [email protected], [EMAIL PROTECTED]
Date: Wednesday, June 18, 2008, 12:46 PM










    
            Mejuah-juah Senina,

Aku berterima kasih sekali untuk kisah cerita Guru Pertawar Remai demi 
pelurusan cerita Pawang Ternalem versi Kafe Gaul ini. Kadang-kadang aku 
berpikir kok orang asal-asal saja menulis cerita rakyat di website yang 
berstandar Nasional. Alhasil masyarakat luas akan menganggap cerita rakyat Karo 
seperti itu. 

Cerita Pawang Ternalem di daerah Langkat mempunyai bukti-bukti kuat. Beberapa 
situs sejarah seperti Uruk Berteng (bekas pohon Tualang Si Mande Angin yang 
tumbang yang kini menjadi bukit) dan juga Telaga Pitu (tempat permandian Beru 
Patimar yang keramat itu) menjadi bukti. Belum lagi waktu aku mewawancara 
Pengulu Jenggi Kemawar di teras rumahnya. Konon di teras aku duduk itu, Beru
 Patimar pernah berdiri dan menolak Pawang Ternalem karena rupanya sangat 
jelek. Merinding juga kemarin waktu memegang kamera sambil mewawancara Pengulu 
itu.

Waktu aku di Kabanjahe awal November kemarin, aku udah nelpon rumahndu. Yang 
ngangkat Mamak. Aku bilang ke Mamak kalau aku mau mewawancara Bapak soal Pawang 
Ternalem karena dia pernah mengangkat cerita itu. Kata Mamak, Bapak lagi sakit 
karena kecapekan di acara ultah Moria yang di Kabanjahe itu. Jadinya aku tidak 
bisa jumpa dengan Bapak. Nongkrong di kede kopi gang Kalihara bersama Eddy 
Surbakti dan kawan-kawan, aku baru tahu dari seorang teman di kede kopi itu 
tentang penyakit Bapak. Pantas saja Bapak tidak bisa ngobrol-ngborol denganku, 
pikirku. Aku berdoa untuk kesehatan bapak.

Bulan Juli nanti, aku ada rencana pulang ke Medan. Mungkin barangkali nanti aku 
bisa ngobrol banyak dengan Bapak tentang Pawang Ternalem ini. 

Pelukis unik (tidak bertangan) Sayang Bangun juga akan
 memamerkan lukisan Pawang Ternalem karyanya yang pernah diberikannya pada 
walikota Abdillah di pertunjukan nanti. Aku jadi berpikir tentang banyaknya 
Tambar Malem Bangun mergana yang banyak bermain-main di kesenian Karo ini. 
Jadinya aku berpikir tentang pasu-pasu urung lima senina itu...hehehe. ...

Bujur ras Mejuah-juah

Seninandu


Joey Bangun



----- Original Message ----
From: leif ria <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Cc: info karo <[EMAIL PROTECTED] s.com>
Sent: Wednesday, June 18, 2008 10:09:43 PM
Subject: [tanahkaro] pawang ternalem tak ada hubungan dgn deleng pertekteken

MJJ..Ersentabi kel aq man bandu kerina.go ndekah kel aq la ercakap-cakep i bas 
jambur enda.bas sekalenda, ijin ken kena aq ngerana. sebab tertarik kel aq 
mbahas masalah pawang ternalem.Sitik saja kel ateku bere masuken. gelah si 
nggeduk banci silurusken. Sekedar informasi. yang menuliskan cerita di cafe 
gaul itu, sepertinya sangat keliru. Karena cerita pawang ternalem itu di daerah 
langkat, bahorok.Seperti yang di teliti seninaku Joy Bangun, itu ada 
benarnya. Sementara cerita, rakyat  tentang dukun sakti yang memperpeltep 
ketangkan kendi-kendinya di lokasi deleng pertektekken itu bukan cerita pawang 
ternalem dan beru patimar. Tetapi itu cerita guru sakti, yang namanya guru 
pertawar remai. kuburannya
 sampai sekarang masih ada, yaitu di desa kandibata. Lokasinya persis lewat 
titi l.au biang desa kandibata. lit kari tekongan jalan ke kiri, ada suatu 
bukit kecil. di bukit kecil itu ada kuburan tua. Pusarannya bersih, dan tidak 
pernah ditumbuhi rerumputan.Daerahny a angker, itulah kuburan guru pertawar 
remai, yang konon karena saktinya guru mbelin itu bisa menghidupkan dua 
putrinya yakni tandang suasa dan tandang kumerlap, walau pun nanti tulang 
belulangnya hanya tersisa sebesar sisir. Mendengar keangkuhan dan 
kesombongan guru petawar remai ini, keramat lau biang bernama Rahmat, 
melaporkan hal tersebut ke keramat deleng sibayak. e me i kataken nini 
kertah.ernala Lalu dicurilah tulang belulang dua puteri
 ini. singkat cerita, saat pulang guru petawar remai tadi dari kuta kalak, 
tulang belulang dua putrinya itu hilang dari kuburan. saat ayahnya mau 
menghidupkan kedua putrinya itu kembali. Sampai akhirnya guru mbelin itu 
melakukan upacara raleng tendi (memanggil roh).Disitulah nini kertah memberi 
kesempatan terakhir kepada guru petawar remai itu, untuk bicara dengan dua 
putrinya melalui kain dagangen (kain kapan). Dengan percakapan terakhir anaknya 
berkata: "regan akapndu emas perak asangkan suasa bapa. Regan akapndu herta 
asangken anakndu bapa," begitulah penggalan katanya lalu guru
 pertawar remai itu, merigep alias menerkam kain dagangen ah ndai, i je me 
lausna tendi anaknya. merasa sia-sia semua kesaktiannya. yang konon jimatnya 
itu disimpan di dalam kendi-kendi, maka dengan sumpahnya di sebuah bukit dekat 
kaki gunung sibayak, mengatakan, " gundari kuperpeltep ketangkan nge kandi enda 
ras aq i jenda. adi kune pepagi ersada ketang enda enca kutektek, e maka ersada 
mulihi aq ras anakku. Dengan kecewa dan emosi, i tektekna me ketang ndai i je 
ras kendina. Ketang ndai pe retap, kendi-kendi si isina jimat entah pe adi 
isitlah guru mbelin pupuk ndai, pe pecah
 merap marpar la terpumahi. Ban i je ingan perpadanan entah pe sumpah guru 
mbelin pertawar remai, jenari me ikatakan gelarna deleng pertektekken. Je nari 
berangkat kita, ku gelar kuta kandi bata ingan guru pertawar remai ndai i 
kuburken. Kandi bata berasal dari kata kandi-kandi dibata. Yang artinya, karena 
begitu hebatnya jimat guru pertawar remai yang disimpannya di kendinya dan bisa 
menghidupkan orang mati, maka disebut kandi-kandi dibata. dan akhirnya desa itu 
pun bernama Kandibata sampai sekarang. sementara cerita pawang ternalem, memang 
benar sudah pernah dibuat dan direkam bapak
 di kaset drama era tahun 80-an. Adi orang tuanta, pasti nge ingetna kaset 
drama tersebut. sibar em lebe.  Bujur Sastroy Bangun  ----- Original Message 
----
From: S.Jawak <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Sent: Wednesday, June 18, 2008
 6:49:10 AM
Subject: Re: [tanahkaro] Fwd: Re: Pawang Ternalem versi Kafe Gaul

Kalau ku tidak salah , Bapak Hendri Bangun pernah mengangkat cerita ini ke 
layar Casette,( tahun 80-an bad yang lalu dan di putar bersambung di Radio 
Penerangan Kabanjahe. saya yakin di juga telah menelusuri ceritanya terlebih 
dahulu sebelum mengangkatnya menjadi cerita drama.  Cuba sungkun  ia kade-kade.

2008/6/17 tariganw <[EMAIL PROTECTED] co.id>:
Kadang-kadang kita bingung mau ngikutin cerita yang mana yang bener 
tentang Pawang Ternalem.

Tiba - tiba banyak sekali
 temen-temen berpartisipasi dan angkat 
bicara tentang cikal bakal Pawang Ternalem, dan semuanya merasa 
paling bener dan tau tengtang cerita tsb...Tapi pada perakteknya 
sampai saat ini tidak satu orangpun yang bisa mengangkat kisah 
tersebut kepermukaan masya, hanya banyak omong doang,Terlepas bener 
atau tidaknya cerita itu. 

Seharusnya kalaulah kita sadar bahwa kita ini hidup bukan dizaman 
Pawang Ternalem..yach sangatlah wajar apabila kisah yang kita angkat 
sedikit banyaknya pasti ada distorsi..apalagi untuk saat ini tidak 
ada orang yang menjadi saksi hidup, namun kesempurnaan kebenaran 
cerita ini tetap diupayakan.Kita seharusnya sangat berterima kasih 
kepada temen kita JOEY BANGUN karena niatnya untuk mengangkat 
kembali cerita/kisah Pawang Ternalem ketengah masyarakat
 melalui 
media Teatherical.

Untuk itu sebagai rasa keingin tau masyarakat, kiranya event ini 
segera diwujudkan dan jangan ditunda-tunda lagi...yakinlah bahwa 
masih banyak orang akan mendukung dan menunggu-nunggu kapan saatnya 
akan dipentaskan kisah Pawang Ternalem ini.Show must go on..Bujur

--- In senimankaro@ yahoogroups. com, Aron on Arts <arontainment@> 
wrote: 

>
> Banyak versi tentang cerita Pawang Ternalem. Salah satunya seperti 
dikutip dari website Kafe Gaul : 
> http://forum. kafegaul. com/showthread. php?t=74737&page=14
> Itulah sebabnya Tim Kreatif Teater Aron melakukan penelitian dan 
riset untuk mencari kebenaran fakta dan cerita beberapa waktu lalu.
> Pertektekken, daerah bau kematian
> 
> Daerah Pertektekken dikenal sangat angker. Apapun yang melintas di 
atasnya akan jatuh dan mati. Kabarnya, tempat ini adalah tempat 
pembuangan ilmu sakti dari seorang dukun. Konon, jatuhnya pesawat 
Foker di sekitar pegunungan Sibayak disebabkan pula 
oleh 'keberanian' pesawat tersebut melintasi daerah keramat ini.
> 
> Jangankan pesawat, kupu-kupu atau burung yang berani terbang di 
atas
 Pertektekken akan mati secara
 mengenaskan. Memang, daerah yang 
terletak di kaki bukit Pertektekken di bagian Selatan dan berdekatan 
dengan gunung Sibayak memiliki kisah mistik yang menyeramkan. Kisah 
itu berawal dari sebuah desa, Daulu yang hanya berjarak beberapa 
kilometer dari tempat ini. Daulu terletak di bagian Selatan kota 
Medan, kira-kira 55 kilometer.
> 
> Konon di desa Daulu ada sepasang dukun sakti yang bernama Pawang 
Ternalem dan Berru Pattimar. Dikisahkan sepasang dukun tersebut 
sering mengembara ke berbagai daerah untuk melakukan pengobatan 
dengan meninggalkan kedua anakanya.
> 
> Kabarnya ketika mereka mengembara, kedua anaknya jatuh sakit. 
Seorang tetangga mengabarkan berita menyedihkan ini kepada sepasang 
dukun tersebut. Namun Pawang Ternalem dan istrinya menolak pulang. 
Mereka berpikir, kalaupun anaknya sakit atau sampai meninggal dunia 
mereka toh bisa menghidupkan lagi.
> 
> Benar,
 selang beberapa saat tetangganya datang lagi dan 
mengabarkan bahwa anaknya telah meninggal dunia. Sepasang dukun 
sakti ini enggan untuk pulang. Pasalnya, hanya dengan satu 
centimeter tulang yang masih tersisa mereka mampu menghidupkan 
kembali anaknya.
> 
> Sial tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Ketika Pawang 
Ternalem pulang ke rumah, didapati kuburan anaknya telah kosong. 
Kabarnya, jasad anaknya telah dicuri oleh dukun yang lebih sakti 
lagi. Ia adalah Nini Kertah Ernala, penunggu gunung Sibayak. "Bila 
ingin bertemu bentangkan kain putih. Ingat, jangan menjamah anak itu 
karena bayangan tersebut akan lenyap," pesan Nini Kertah.
> 
> Sepasang dukun tersebut menjalankan pesan Nini Kertah. Ketika 
mereka membentangkan kain putih maka wajah kedua anak itupun muncul. 
Karena rindu yang begitu mendalam, Beru Pattimar memeluk kedua 
anaknya. Namun bayangan itupun tiba-tiba menghilang.
 Pasangan 
tersebut sangat terpukul dengan kematian anaknya. Apalagi mereka tak 
mampu menghidupkan lagi.
> 
> Rasa kecewa yang mendalam menyebabkan mereka sepakat untuk 
membuang ilmunya. "Apalah artinya ilmu dan kekayaan yang kita miliki 
kalau anak kita tak bisa kembali. Marilah sekarang juga kita buang 
semua ini," katanya sambil menuju ke sebuah kaki bukit. Sebelum 
memotong alat perdukunannya, Beru Pattimar sempat bersumpah, "Apapun 
yang nantinya melintas di atas kepalaku akan mati". Seketika tempat 
itupun seperti meledak, menerima sumpah saktinya.
> 
> Kabarnya sumpah sakti dari Beru Pattimar benar-benar menjadi 
kenyataan. Penduduk yang mencari kayu di tempat ini sering menemukan 
bangkai burung yang mati. Malah mereka pun sering menemukan bangkai 
harimau atau beruang yang mereka ambil kulitnya untuk membuat 
perhiasan. Benarkah sumpah sakti itu yang menjadi
 sumbernya?
>

--- End forwarded message ---






      
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke