Mjj Kita Kerina

akhirnya pilihannya gelah enggo sekolah aja atau tidak sekolah sama
sekali.

Membaca postingen kak Ita kuinget sada belas-belas dari seorang Let. Kol 
Taufiqurahman, SATGAS pembuatan kapal perang INdoneseia di Belanda.
" Kalo sudah lulus, apalagi dari luar negeri mau jadi sarjana apa??? Apa yang 
bisa anda lakukan untuk orang banyak. Apakah sekedar lulus saja dan cukup 
dengan puas aja dengan pendidikan dari Eropa??".

Tadi malam juga sedikit perbincanga dengan bang Juara Ginting. Mahasiwa 
Indonesia gundari gelah nggo lulus saja, la lit perencanaan ato motivasi untuk 
membuat sesuatu untuk membangun.

Ncage postingen kak Ita, "gelah nggo sekolah". Gelah nggo sekolah saja memang 
nggo lepak kel kita adi bage kin motivasina. Tapi la kel lit dalanta ngataken 
lepak man kade2nta si nina" gelah nggo sekolah". Situasi yang membuat kade2nta 
gelah nggo sekolah saja, tidak ada pilihan. 

Tapi bisa kita bayangkan masa depan bangsa ( khususnya karo), adi gelah nggo 
sekolah saja janah nggo lulus saja. Tragis memang nasib bangsaku. Untuk Pintar 
aja susah kali,tapi mau jadi apa bangsa tanpa generai penerus yang berkualitas 
adi gelah nggo sekolah saja.

Ea kade2, aku pe medanak denga ngenda, si  usur2 dahinta,ula kita ermedu2,,ORA 
ET LABORA. Sigegehi dahinta mbera2 i pasu2 Dibata,,,. Man banta generasi muda ( 
karo khususnya ) si ukuri ka dalanta gelah banci ras2 kita erban si erguan man 
kade2nta.
Paling tidak "LA GIA NAMPATI GELAH ULA NAMPETI".

MAJU TERUS GENERASI BANGSA!

Mjj,

Joni Hendra Tarigan-NL
Perbarung Paribun Toba.



----- Original Message ----
From: pelangiharum <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, June 22, 2008 7:35:31 AM
Subject: [tanahkaro] Re: respek dan penghargaan sesama manusia



Begini Pak Guru eh Bang Ju...Emansipasi rakyat adalah hak-hak rakyat
yang harus dihormati dan dipenuhi pemerintah. Banyak hal yang jelas
tidak menghormati hak rakyat. Misalnya gaya fasis lewat cara-cara
pemberangusan melalui intel . Tidak ada lagi hak untuk bersuara,
bersuara yang berbeda dengan maunya pemerintah. Munir misalnya, langsung
lewat tak berbekas nyaris 4 tahun kini.

Kemudian, peningkatan kecerdasan rakyat yang tidak dikerjakan dengan
serius yang hanya menguntungkan sekelompok kecil masyarakat di lapisan
atas. Buku mahal, uang sekolah mahal, tentu saja sekolah seperti mimpi
di awan.  Masih banyak contoh lain yang setiap hari membuat kita
semua makin muak. Ini menggejala (terjadi) dari pemerintah pusat hingga
daerah.

Pemerintah merasa tidak terbeban bila tidak memenuhi hak-hak rakyat
karena mereka sudah mati rasa. Mati rasa karena kuasa dan uang. Rakyat
cuma 'dicintai' saat pilkada, saat diperlukan untuk membentuk citra
bohong-bohongan alias topeng.  Pemerintah berdewa pada kekuasaan.

Semua cuma retorika, indah dibibir tak enak diperbuatan. Janjimu manis
tapi buahnya pahit. Sorry jadi emosional begini. Habis kalau bicara soal
yang beginian rasanya rusuh dalam hati. Maklum, banyak kade-kade yang
anaknya tidak tahu mau disekolahkan kemana saat ini, semuanya mahal.
akhirnya pilihannya gelah enggo sekolah aja atau tidak sekolah sama
sekali.

ita

--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "Si Laga Man" <juara_ginting@ ...>
wrote:
>
> --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "pelangiharum" iapulina@ wrote:
> "... Akibatnya yang terjadi saat ini dan bahkan semakin parah adalah
> praktek-praktek yang anti kepada emansipasi rakyat, pengurasan sumber
> daya alam, penghisapan rakyat kecil, ketidakpastian hukum, pemerintah
> bukan pelayan tetapi justru adalah tuan, bahkan diperparah legislatif
> berlomba dengan pemerintah menjadi tuan ..."
>
> Saya mau tanya sedikit, apa sebenarnya yang dimaksud dengan emansipasi
> rakyat dan mengapa pemerintah tidak merasa punya beban untuk
melakukannya?
>
> jg
>

    


      

Kirim email ke