Renung-renung lagi
Enggo ka seh wari Jumat, nimai ibu rumah tangga pulang dan makan bersama.
Sudah saya masakkan nasi, sedikit rebus sayur, tidak masak daging (sudah
semakin jarang makan daging) tidak pernah saya pikirkan mengapa, tetapi jelas
faktor-faktor yang ada ialah harga menjulang tinggi dan semua pembicaraan soal
kesehatan dan lingkungan. Tetapi sang ibu janjikan sambil pulang akan beli ayam
panggang jadi tak usah pikirkan lagi soal itu. Masih ada 1jam lebih saya harus
tunggu, dan saya gunakan untuk merenung ini. Sambil dengarkan lagu Pinta-pinta
Harto Tarigan, rasanya sangat memperkuat renungan ini, tidak tau kenapa.
Saya baca kembali Re: "Minyak Gendruwo" posting Alexander, dimana saya tulis
"Hukum ekonomi yang berlaku sekarang (mungkin juga dari dulu) ialah yang kuat
yang menang. Barangkali satu waktu yang lemah yang menang". Kalimat terakhir
datang spontan saja tadi, mengapa kok saya tulis gitu, apakah mungkin satu
waktu yang lemah yang menang, juga baru sekarang saya renungkan. Apakah itu
ironi atau memang begitu? Entahlah . . .
Belakangan saya memang banyak memperhatikan soal-soal ekonomi rumah tangga di
Swedia atau Eropah umumnya. Setiap kali saya ke toko makanan terlihat
orang-orang yang nasibnya sudah pasti (orang sakit,cacat, orang tua atau
pensiunan) sangat memperhatikan harga-harga yang tercantum di bungkus makanan,
hal mana tidak saya lihat atau jarang terlihat tahun lalu. Kalau saya
berkunjung ke tempat-tempat saudara atau kenalan juga terasa 'sambutan
ekonomi'nya suah berlainan. Mungkinkah akan datang perbaikan? Sangat menarik
untuk tetap diikuti.
Saya baca kembali 'debat ekonomi' kita di milis, a.l. Carlos tulis "sebenarnya
kondisi ekonomi global jaman sekarang tidak pernah terdiktum secara jelas jadi
mesti ada pemikiran baru" katanya dan menambahkan "kalau mau kapitalisme
dijalankan sebaiknya kapital tsb digunakan sbg alat untuk menstimulus ekonomi
dan pertumbuhan, misalnya menstimulir bidang riset, hitech, kesehatan dan
pendidikan di daerah tertinggal dan bukanya menggunakan kapital sbg alat untuk
spekulasi, apalagi jika spekulasi tsb dilakukan secara kolektif dan massif
(seperti subprime mortgage tsb)". Beberapa pikiran Keynes supaya pemerintah
mengatur 'kelakuan' pemodal besar ini, tetapi Keynes gagal kelihatannya, karena
apa yang terlihat sekarang adalah sebaliknya, pemerintah yang diregulasi sama
orang-orang ini. Rizal Ramli ex menko ekonomi Gus Dur, bersama dengan semua
yang tidak setuju regulasi modal asing ini mencoba koreksi gejala ini dan bikin
KBI, tapi malah sekarang mau diperiksa
polisi dan bahkan dipecat dari BUMN, dan menurut Rizal Ramli dipengaruhi oleh
SBY. Dua kekuatan ekonomi ini sedang berhadap-hadapan. Aparat negara seperti
Polri dan BIN sudah terikut. Angket BBM, pelaku rusuh DPR dan Atmajaya. Dua
kekuatan (ekonomi) berhadapan . . . antagonis? Serakah? Ah, ”Mereka hanya dapat
serakah untuk waktu yang sangat sementara” nina Shodan Purba, tah lit ka nge
payona . . . terhibur ka sitik dalam hati.
Sekiranya semua transparan, angket BBM, penjelasan seksama dan argumentasi
yang masuk akal dan meyakinkan Tali-Geni, KBI, daripada dijadikan kambing hitam
sana-sini pikirku . . . renunganku pula . . . utopi?
Dalan siapai . . .serpang siapai . . .
Time: buah nggala + panggang ayam, itu sajalah . . .hidup adalah pesta kata
orang Swedia, lit denga kin antusen sideban? 'Enda me nggeluh' salin kata Eddy
RKAG
Eak . . . kena kal pinta-pinta-ngku . . . bagem lebe, bagem lebe . . .
laguna pe enggo dung.
Selamat week end
MUG
__________________________________________________________
Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkoppling.
Sök och jämför priser hos Kelkoo.
http://www.kelkoo.se/c-100015813-bredband.html?partnerId=96914325