"Jika diikuti proses penetapannya, sangat kental kepentingan tarik- menarik", Kata sejarawan Ichwan Azhari dari Universitas Negeri Medan (Unimed) Sejarawan kita ini bikin kesimpulan yang betul, karena 'tarik menariki' adalah salah satu bentuk kontradiksi dalam masyarakat dan disini adalah bukti konkret kontaradiksi dan perjuangan berbagai aliran di kota Medan Patimpus. Tidak usah jauh-jauh, Patimpus sendiri ada juga yang 'menarik' jadi Sinambela, walupun bagi yang lain jelas, prefix Pa- adalah panggilan pendahuluan bagi orang Karo,dimana diikuti oleh nama anaknya seperti Pa Timpus (anaknya bernama Timpus) atau juga nama julukan pada orang tertentu karena sifat atau pembawaan tertentu. Disini 'timpus' juga berarti bungkusan yang dibawa dengan tangan atau diatas bahu dengan menggunakan sebuah tongkat (Karo zaman dulu). Kemungkinannya adalah yang kedua karena Patimpus belum ada anak ketika itu. Patimpus datang menemuai Datuk Kota Bangun (Kota adalah nama tipical Karo dan Bangun adalah salah satu marga orang Karo). Patimpus bertemu atau dia pasti menemuinya, dan membangun kampung sendiri pada pertemuan sungai Babura dan sungai Deli, tempat mana juga cukup jauh dari Sungai Sikambing mengingat jarak zaman dulu (400 tahun lalu) tidak bisa dibandingkan bagaimana dekatnya jarak sekarang. Hanya masa depanlah yang sudah pasti, masa lalu akan selalu berubah- ubah. Ini pengalaman dunia termasuk Indonesia. Begitu juga penetapan hari jadi kota Medan Panitia lengkap sejarah kota Medan 1975 sudah menetapkan secara logis dan seksama tanggal dan tahun terbentuknya kota Medan, itulah dasar sampai sekarang. Hari atau tanggalnya memang ditetapkan begitu saja, artinya pertengahan tahun 1590. Kalau menemukan lagi nanti tanggal yang lebih tepat tentu itu yang berlaku. Mencari bukti tanggal tidak gampang, tetapi harus ada hari kepastian walaupun sementara dan 1 juli itu ditetapkan oleh panitia sejarah yang kompetent 1975. Panitia sejarah ini bukan orang Belanda dan tidak ada kepentingan kolonial disitu.
"Kalau seperti ini, kita akan kesulitan menjelaskan ketika ditanya apa dasar 1 Juli ditetapkan sebagai ulang tahunKota Medan," ujar Ichwan. Sebagai sejarawan janganlah ikut-ikutan membingungkan "generasi berikutnya" Pak Ichwan, katakanlah apa adanya, soal 'tarik-menarik' dan perjuangan sengit antar etnis di Medan, tempat pertarungan semua aliran dan juga sekali gus tempat keharmonisan semua aliran yang telah terbukti selama 400 tahun kota Medan Patimpus. Dibawah syarat-syarat yang demikianlah Medan berkembang dan maju sampai ketingkat metropolitan sekarang ini. Maju terus kota Patimpus Medan. --- In [email protected], Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/sumatera- utara/hari-jadi-kota-medan-dipertanyakan-2.html > > > Dipertanyakan hari Jadi Kota Medan > > Monday, 30 June 2008 > > > MEDAN > (SINDO) Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Medan yang diperingati > setiap 1 Juli, sejumlah kalangan justru mempertanyakan keabsahan > penentuan hari jadi itu. > > Sejarawan dari Universitas Negeri Medan (Unimed) > Ichwan Azhari menyatakan tidak ada landasan dasar tonggak sejarah dalam > penetapan hari jadi Kota Medan. "Penetapan 1 Juli itu merupakan hasil > keputusan pada tahun 1975.Dasar keputusan bersifat emosional yang tidak > menginginkan hari jadi Kota Medan dihitung berdasarkan warisan > Belanda," ujar Ketua Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) > Unimed itu kepada SINDO kemarin. Ichwan > menyebutkan,sebelumnya hari jadi tersebut ditetapkan berdasarkan > pembentukan gemeenteraad (Dewan Kota) pada tanggal 1 April 1909. Jadi 1 > Juli itu sifatnya sangat spekulatif, tanpa dasar perjalanan sejarah. > Penetapan hari jadi saat itu berdasarkan tahun pertemuan antara Guru > Patimpus yang berasal dariTanah Karo dan Datuk Kota Bangun,seperti yang > tertera dalam hikayat H a m p a r a n Perak. Hikayat > tersebut hanya men y e b u t k a n tahun meninggalnya Imam Sadik bin > Abdullah yang diyakini adalah sahabat dekat Guru Patimpus. Dari hikayat > itu hanya disebutkan tahun 1509 tanpa mencantumkan tanggal > pastinya.Tahun tersebut diyakini sebagai kepastian waktu datangnya Guru > Patimpus di Medan. Akhirnya para pakar sejarah > yang melakukan kajian ketika itu menetapkan jalan tengah secara > spekulatif pada tanggal 1 Juli. "Jadi 1 Juli itu hanya diambil > berdasarkan tanggal pertengahan tahun,"ujarnya. Padahal,menurut Ichwan, > ketika Guru Patimpus datang pertama kali ke Medan dengan menemui Datuk > Kota Bangun, Kampung Medan sudah ada saat itu di wilayah Sei Sikambing. > Di sanalah Guru Patimpus akhirnya bermukim. > Seharusnya penetapan hari jadi Kota Medan berdasarkan perjalanan > sejarah yang jelas dasarnya agar generasi penerus dapat memahami > sejarah Kota Medan secara benar. "Kalau seperti ini, kita akan > kesulitan menjelaskan ketika ditanya apa dasar 1 Juli ditetapkan > sebagai ulang tahunKotaMedan," ujarIchwan. Menurutnya, > demi kepentingan sejarah,hari jadi Kota Medan dapat direvisi dengan > mengadakan kajian ilmiah melalui seminar yang berkesinambungan untuk > menarik tonggak sejarah perjalanan Medan menjadi sebuah kota. Revisi > tersebut bukan suatu hal yang tabu.Kota Surabaya saja telah mengalami > tiga kali revisi hari jadi.Begitu juga dengan Bandung yang mengalami > dua kali perubahan. Ichwan menyebutkan, banyak > dasar sejarah yang dapat dijadikan referensi penetapan hari jadi Kota > Medan, misalnya pembukaan perkebunan Tembakau Deli. Pindahnya > Kesultanan Deli dari Labuhan ke Medan, atau kembali pada tanggal semula > ketika Medan dari daerah perkampungan biasa menjadi perkotaan dengan > pembentukan gemeenteraad. "Banyak dasar kajian > yang bisa dipelajari untuk memperkuat sejarah hari jadi Kota > Medan.,"tandas Ichwan. Ketua Fraksi PKS DPRD Medan Ikhrimah Hamidy > menyebutkan, pengkajian ulang tersebut dapat saja dilakukan. Jika > diikuti proses penetapannya, sangat kental kepentingan tarik- menarik. Selain > itu, ada kesulitan sejarah ketika Medan ingin menetapkan hari jadinya. > Jika dilihat sejarah perkembangan Kota Medan, tidak ada perlawanan > antara Belanda dan penduduk lokal.Artinya, Medan tidak memiliki > pahlawan nasional. "Belanda itu masuk ke Medan bukan dengan senjata, > tapi lewat perjanjian dengan Kesultanan Deli yang menyerahkan sebagian > lahan untuk dijadikan daerah perkebunan. Jadi wajar tidak ada > perlawanan bersenjata yang dapat dijadikan tonggak sejarah hari jadi > Kota Medan," tutur Ikhrimah. Untuk itu, sebelum > melakukan perubahan tanggal hari jadi, sebaiknya terlebih dulu > dilakukan pemahaman sejarah kota Medan di setiap jenjang > pendidikan.Tujuannya agar tidak ada lagi perubahan penetapan di > kemudian hari. "Yang terpenting pemahaman sejarahnya dulu. Mengenai > revisi hari jadi itu prioritas selanjutnya. Agar ada pemahaman bersama > dan tidak berubah lagi di kemudian hari,"ujarnya. DPRD > Medan akan bekerja sama dengan pakar sejarah untuk memberikan konsep > pendidikan sejarah, khusus kota Medan, di kurikulum pendidikan. > Tujuannya agar generasi berikutnya memiliki pemahaman yang benar > sehingga menghargai setiap cagar budaya yang ada di Medan. (m rinaldi > khair) > > Best Regarts > > www.dausmedia.cjb.net >
