Teringat dengan dua quotes dari PelangiHarum/Kak Ita dan Rizal Ramli.

Pelangiharum: "Sjahrir kuanggap sebagai pejuang kemanusiaan,
berbeda dengan nasionalisme yang egois (baik dulu dan sekarang). 

RR: "Dalam sistem feodal atau neo feodalisme, kekuasaan berasal
dari hubungan biologis dan romantisme historis dan legitimasi
pencitraan semu, dimana rakyat hanya diperlukan pada saat pemilu dan
sekadar penggembira".

Konon kabarnya, berdasarkan sebuah wawancara buku sejarah , Setelah
berpuluh puluh tahun wafatnya founding father, banyak para pengikutnya
yang ternyata masih setia. Menurut nara sumber itu, di Indonesia
tercipta dua publik 'political cults' yaitu kubu "Sukarnoist" dan
"Sjahririan". 

Benar juga, kata penulis sejarah itu, tiap kali saya mewawancara nara
sumber katanya, selalu ada Nara Sumber yang mempunyai text kuno
seperti "Indonesische Overpeinzingen", Daulat Ra'jat, Our Struggle,
(mungkin juga Madilog dan Indonesia Accuses--Red) di rak rak bukunya.

Sukarnoist mewakili nasionalisme yang cenderung 'narrow minded',
kadang fasis  dan merupakan sebuah bentuk inferiority komplex sebagian
orang Indonesia terhadap penjajahan Kolonial Belanda. Ini katanya
Sjahrir. Sementara  Bung Karno menjawabnya dengan "demokrasi di
Indonesia bukanlah Demokrasi ala Barat" katanya. 

Sjahrir mewakili kubu Sosial-Demokrat yang didukung intelektual
Indonesia yang kebanyakan berasal dari Sumatra.  soekarno didukung
basis massa yang kuat di Pulau Jawa. Ujar Sjahrir (dan
Hatta), nasionalisme seharusnya bukanlah basis politik/ekonomi
Indonesia karena wilayah RI yang luas dan diversitynya. Basis yang
seharusnya dipakai di Indonesia adalah Demokrasi berlandaskan
perikemanusiaan dan perikeadilan untuk menciptakan kemakmuran rakyat.

Kubu Nasionalis menginginkan full control terhadap pemerintahan atau
"centralization of power". Kubu Demokrat menginginkan pemisahan
kekuasaan atau "decentralization of power".

kubu Nasionalis mengidam2kan persatuan/kesatuan yang manunggal. Kubu
Demokrat tidak anti terhadap Federalis atau Pemekaran Wilayah, kubu
sosial-demokrat beranggapan persatuan dan kesatuan hanya merupakan
suatu aliansi strategis  yang bersifat sementara saja.

Kubu nasionalis menggunakan agitasi massa sementara kubu demokrat 
menggunakan basis rasionalisitas dan kemampuan akal.

Secara dialektikal historis tidaklah sulit menganalisa kenapa tercipta
dua cults itu. Melalui 'weltanschauung' (pandangan hidup) para
founding father dan menggunakan dialektikal Marx yang esensinya ujar
Hatta "Sebuah transisi terjadi berdasarkan keadaan, waktu , dan tempat
; bukan berdasarkan kemauan si pelaku". Mereka berasal dari dua tempat
berbeda dimana yg satu berasal dari sebuah wilayah yang sudah tercipta
Demokratisasi bahkan sebelum kolonial-kapitalis Belanda masuk dan yang
satunya berasal dari tempat dimana ada 'kemanunggalan' dalam sebuah
sistem feodal.

Semua yg diatas berasal dari "text-text kuno", silahkan ditambahkan
atau dibantah.

bujur & mjj,



carlos

Kirim email ke