Catatan Panggung Joey Bangun jelang Pawang Ternalem
Proses
Tadi sore, tiba-tiba saja darah mengalir keluar dari hidung saya. Ketika saya
sedang berdiskusi konsep kostum dengan bibi Rosida br Barus. Sore tadi saya
datang ke rumahnya di Cempaka Baru untuk membicarakan tentang konsep kostum
yang akan dipergunakan di Pawang Ternalem. Wanita yang sangat dikenal sebagai
pembuat tudung dan ose pengantian Karo terbaik di Jakarta itu menjadi
alternatif saya untuk bertanggung jawab di bidang kostum. Selain dia paham
tentang pakaian tradisional Karo, dia juga pernah bekerja di dunia film. Dia
sangat paham dengan make up karakter. Itulah makanya saya membutuhkan talenta
yang dimiliki Bibi Rosida di pertunjukan ini. Sebagai penata kostum sekaligus
penata make up.
Darah itu mengalir begitu saja dari hidung saya. Bibi Rosida memberikan tissue
pada saya. Langsung saya terbujur terlentang di lantai untuk menahan aliran
darah itu. Perbulangan Bibi Rosida minta ijin untuk mengurut sekitar wajah
saya. Saya menganggguk. Dia mengoleskan 'minyak pengalun' ke wajah saya.
Seketika itu saya merasakan aliran darah itu berhenti.
Bengkila perbulangan Bibi Rosida mengatakan pada saya kalau darah yang keluar
dari hidung saya itu disebabkan karena kecapekan. Capek di otak maupun tubuh
saya. Otak dan tubuh saya tidak sanggup lagi menerima semua yang saya tanggung.
Dia mengatakan mungkin saya terlalu memikirkan dan memporsir tenaga saya untuk
pertunjukan ini.
Tentu saja dia benar. Saya terlalu fokus dengan pertunjukan ini. Saya tidak
peduli lagi dengan kesehatan saya. Walau saya pernah beristirahat di rumah
sakit gara-gara demam berdarah itu, penyakit itu seolah tidak memberikan
peringatan apa-apa pada kinerja saya. Saya harus cepat bergerak, pikir saya.
Kalau Tuhan memberikan satu hari bukan 24 jam mungkin saya akan senang sekali.
Kalau satu hari adalah 40 jam saya akan lebih banyak mengerjakan sesuatu.
Ini adalah proses. Proses itu terkadang harus dikerjakan tunggal. Seperti
selayaknya seorang single fighter. Kalau diibaratkan, saya sedang mengarahkan
layar perahu bernama Pawang Ternalem seorang diri di tengah badai laut yang
terus memberikan 2 alternatif antara tenggelam dan selamat. Teman-teman satu
kerja di tim kreatif tidak seperti saya. Mereka tidak punya waktu 1 x 24 jam
untuk memikirkan Pawang Ternalem. Mereka punya pekerja lain yang juga harus
dipikirkan. Sedangkan saya? Tiap menit, tiap detik, saya terus memikirkan
pertunjukan ini. Tensi saya semakin tinggi. Tidur saya tidak nyenyak lagi.
Tentu saja, darah yang keluar dari hidung saya tadi sore itu sebuah bentuk
peringatan kalau tenaga yang saya keluarkan sudah melampaui batas kemampuan
saya.
Orang-orang itu mulai menggesek saya. Mereka mulai memanfaatkan pertunjukan ini
untuk kepentingan mereka. Saya berontak. Saya tidak mau. Saya tidak mau
ditunggangi dengan kepentingan pribadi, golongan, apalagi politis. Art is Art.
Seni adalah seni. Ketika saya mencurahkan kemampuan saya berkarya biarlah saya
bebas mengekspresikan. Saya tidak takut. Mereka tidak bisa menakuti saya dengan
menawarkan alternatif-alternatif yang mereka buat. Alternatif untuk membantu
kesuksesan Pawang Ternalem seperti kata-kata mereka yang manis itu.
Berbagai kejadian, godaan, cobaan, dan ujian menghentak batin dan pikiran saya.
Untung saya bisa tegar. Dan mencoba kuat menjalani. Pawang Ternalem adalah
obsesi saya. Dan tidak ada orang yang bisa mengekang saya. Saya sadar terlahir
sebagai konseptor. Itulah sebabnya saya ingin mencurahkan kemampuan saya untuk
pengembangan kebudayaan Karo ini.
Terkadang orang-orang awam mengatakan Seniman itu tidak waras. Saya yakin saya
memang sudah gila.
Gila gara-gara Pawang Ternalem. Kalau memang darah harus menjadi taruhannya,
maka dengan yakin saya katakan saya akan merelakannya.
Jakarta, 2 Juli 2008 0.36
Joey Bangun
Direktur Artistik Teater Aron