Terima kasih turang atas responnya.
 
Semoga sukses dan maju terus membangun komunitas karo.
 
Salam, Amey

--- On Tue, 7/1/08, Martin Peranginangin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Martin Peranginangin <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [tanahkaro] Orang Karo diantara Orang Batak
To: [email protected]
Date: Tuesday, July 1, 2008, 8:21 PM











Salam kenal juga Turang/Bibi,
Mungkin saya juga lagi ngawur kali ya. Saya juga tak mengerti. Maksud saya mau 
menulis latar belakang ditulisnya buku itu, tapi koq lari kesana kemari ya. 
Hehehe... Harap maklum ajalah, nulisnya pas tengah malam menjelang tidur. 
 
MP

--- On Tue, 7/1/08, amey karo <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: amey karo <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Re: [tanahkaro] Orang Karo diantara Orang Batak
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Tuesday, July 1, 2008, 2:44 PM









Hi Martin, salam kenal...
 
Kalau boleh tahu...setelah membaca tulisandu disini...intinya dimana yaa...
 
Terima kasih kalau bisa sempat membalas. Karena saya bingung, dari judul dan 
isi emailndu saya kurang mengerti dimana inti dan maksudnya.
 
Salam dari jauh, Amey 

--- On Tue, 7/1/08, Martin Peranginangin <perkantongsamping@ yahoo.com> wrote:

From: Martin Peranginangin <perkantongsamping@ yahoo.com>
Subject: [tanahkaro] Orang Karo diantara Orang Batak
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Cc: komunitaskaro@ yahoogroups. com, permata-gbkp@ yahoogroups. com
Date: Tuesday, July 1, 2008, 10:32 AM









Judul diatas merupakan judul buku yang pernah aku tulis tahun 2004 lalu. Lima 
kata itu lahir dari hasil perenungan yang cukup lama. Begini ceritanya. Tahun 
2003 aku resign  dari HSBC Jakarta setelah bekerja 6 tahun di sana. Hampir saja 
uang pesangon tak kudapatkan waktu itu. Tapi setelah 2x pertemuan dengan 
Muchtar Pakpahan, serta 35 orang teman ketika itu, akhirnya pesangon aku 
terima. Hmm, ternyata dunia ini kadang-kadang perlu juga 'gertakan' pikirku. 
Februari 2004 kemudian aku menikah. Bukan maksudku petua-tuaken, tapi biaya 
pernikahan di Jambur Namaken dibiayai dari hasil tabungan. 
 
Setelah tidak bekerja, kegiatanku lebih banyak membaca buku-buku tentang Karo. 
Ketertarikan mengenai sejarah terutama berhubungan dengan asal-usul orang 
Karo, hingga sampai satu titik aku membaca tarombonya suku bangsa Batak karya 
Pak Richard Sinaga. Menurut ceritanya, Nini Karo (asal mula suku Karo) berasal 
dari Toba. Tulisan beliau membuat aku semakin menjadi penasaran, soalnya semua 
penulis Karo tak ada satu pun yang memberikan kisah seperti itu. Akhirnya 
semakin banyak literatur yang aku baca, kebetulan seorang Karo memiliki sebuah 
perpustakaan pribadi yang tergolong 'lengkap'. Baik buku maupun tulisan lepas 
tentang sejarah dan antrhopologi Karo. Berbahasa Karo, Indonesia dan juga 
Inggris. Namun semakin banyak literatur yang kubaca, makin bingung pulak aku 
dibuatnya. Beragam pendapat dengan beragam argumen baik yang masuk akal sampai 
yang tergolong 'pargabus'. Akhirnya pekerjaan mission impossible itu aku 
tinggalkan, yakni mencari tahu asal usul
 orang Karo yang equivalen dengan asal usul diriku sendiri. 
 
Dengan uang pesangon kemudian aku kembali bekerja sebagai pialang di sebuah 
bursa di Wisma BNI 46 dimana seorang pialang pernah terjun bebas dari lantai 
38. Bekerja sebagai pialang sebenarnya cukup menantang. Dengan transaksi 
beberapa lot saja bisa menghasilkan jutaan dalam sehari. Tapi sayang, manusia 
termasuk aku memang cendrung serakah alias kemaruk kata orang Betawi. Analisa 
teknikal dan fundamental seringkali menjadi kabur karena nafsu dan ambisi 
pribadi. Akibatnya permainan sering salah posisi yang berakhir cut loss.  Uang 
dari pesangon sedikit demi sedikit digerigoti, sampai enam bulan kemudian saya 
harus keluar dari pasar. Cut loss!  Ah, anggap saja talu erjudi, pikirku. 
Dibalik mendung selalu ada mentari kucoba menhibur diri. Uang hampir habis, 
apalagi bisa menabung. Wah jauh panggang dari api. Tapi setidak-tidaknya selama 
di sana aku semakin akrab dengan internet. Hampir 80% jam kerja dipergunakan 
dengan internet termasuk game
 hehehe...Banyak juga data tentang Karo aku dapat dari internet. Milis GBKP 
justru mulai aku kembangkan ketika masih di bursa. Weh, ada juga manfaatnya 
tuh! Hehehe.. 
 
Kembali menganggur kembali ke kebiasaan lama. Untung istri sudah bekerja. 
Membaca buku tentang Karo yang pada ujungnya muncul pikiran untuk menulis buku 
ttg Karo. Dari kumpulan tulisan-tulisan selama ini akhirnya aku konsep jadi 
buku. Kemudian aku bawa ke Gramedia Matraman, tanya punya tanya eh mereka cuma 
berani bayar royalti 15% dari penjualan. Bah, kejam nian pikirku. Setahun 
lamanya aku mengumpulkan bahan dan menulis, koq cuma dibayar segitu. Kuhitung 
kembali uang sisa dari bursa, namun tak cukup untuk menerbitkan sendiri. 
Untunglah percetakan Praninta milik seorang merga Surbakti mau mencetak dengan 
catatan bayar setengahnya dulu. Yah, gak apa lah yang penting 'maha karyaku' 
selama satu tahun akhirnya bisa terbit. Buku Orang Karo diantara Orang Batak 
kemudian kubawa ke Gramedia, lalu kutawarkan. "Nih buku gue yang dulu 
disepelein ama loe", pikirku. Untungnya lagi, penjualan bulan pertama bisa 
menutup utang sama Pak Surbakti. Aman blehhh..aman.
 ..aman! Setidakya pernah aku iklankan di Koran Tempo dan iklan baris Kompas. 
Wah ck ck ck...
 
Aku kembali bekerja di Stanchart sebagai marketing KTA dan kemudian menjadi 
supervisor di Citibank. Dari bank ke bank. Memang kelihatannya mentereng, tapi 
disana pula hal-hal tak terpupuji terlakukan olehku. Untuk meloloskan kredit 
nasabah, suka membuat mark up gaji, membuat KTP palsu di pasar Pramuka untuk 
menghindari black list. Untung belum pernah malsuin rekening koran nasabah. 
Hahaha...parah tuh temen-temen pada bikin. Bisa dibuat lho di Pramuka. Bahkan 
salah seorang anggota milis Karo pernah ngajukan kredit pake slip gaji aspal 
disetujuin sama bank. Hahaha... Ini testimoni, sekalian mohon ampun biar 
dosanya ditebus. Takut berdosa lebih besar akhirnya aku keluar dari bank. 
Bertobat...bat. ..bat!! Yah, ini sekedar buku putih saya beberapa tahun lalu. 
Yang penting aku sudah pernah berbuat sesuatu. Dan mudah-mudahan, tidak seperti 
pohon pisang. Sekali berbuah lalu mati. Semoga. Trims.
 
 


 














      

Kirim email ke