Memang agak membingungkan sejarah Karo & Batak ini. yang menjadi pertanyaan sekarang... Mengapa gereja disebutkan Geraja Batak Karo Protestan? Ada yang bisa menjelaskan asal muasal nama gereja GBKP ini?
Bujur Abdi J.Munthe 2008/7/2 Martin Peranginangin <[EMAIL PROTECTED]>: > Mjj Pak Ginting, > > Cerita tentang sejarah suku Batak (Toba) dan Karo pasti akan sulit > menemukan titik akhir, karena beragam pemikiran dan argumen. Kalau di Toba > (umumnya) sangat meyakini berasal dari satu keturunan dari awalnya di > Sianjur Mula-mula, sementara di Karo tidak mengenal asal usul tunggal. Karo > lebih banyak mengisahkan asal usul merga. Sembiring dikatakan dari India, > Tarigan ada dari Pak-pak (tung-tung batu rsd) dan seterusnya merga yang > lain. Hanya Kol. Sempa Sitepu yang menceritakan bahwa asal Nini Karo > berasal dari India yang memiliki anak seorang bernama Meherga kemudian yang > dikenal menjadi Merga. Merga kemudian memiliki lima anak laki-laki yang > kemudian menjadi merga si lima. Itu menurut sejarah lisan, katanya. > Sementara Neumann dalam yang lebih awal mencari tau tentang asal usul ini, > lebih cendrung dirunut berdasarkan sejarah merga-merga itu tadi. Kalau > begitu kan masih abu-abu saya kira, sehingga sulit mencari kesimpulan. Ya, > mungkin si meteh surat bisa menguraikan hal ini. Sewaktu menulis buku, saya > sempat mendatangi Prof. Bangun, namun karena kesibukan belum sempat beliau > memberi komentar bukunya sudah terbit. Jadi, apa yang saya tulis menurut apa > yang saya baca. Begitu saja. Dan kesimpulan saya, bahwa suku Karo itu bukan > berasal dari keturunan tunggal seperti di Toba. > > > > Endam lebe, bujur > > > > MP > > --- On *Tue, 7/1/08, Gintings <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > From: Gintings <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: Re: [tanahkaro] Orang Karo diantara Orang Batak > To: [email protected] > Date: Tuesday, July 1, 2008, 11:49 PM > > Mjj...... > > Kesimpulannya, apakah Karo adalah sub etnik dari Suku Batak..... > > Aku sebagai orang awam sedikit bingung juga,....... > > Apa kam si banci mbere pencerahan.. ...... > > Bujur,.... > Andre Ginting > > > amey karo wrote: > > Hi Martin, salam kenal... > > > > Kalau boleh tahu...setelah membaca tulisandu disini...intinya dimana yaa... > > > > Terima kasih kalau bisa sempat membalas. Karena saya bingung, dari judul > dan isi emailndu saya kurang mengerti dimana inti dan maksudnya. > > > > Salam dari jauh, Amey > > --- On *Tue, 7/1/08, Martin Peranginangin <perkantongsamping@ > yahoo.com>*wrote: > > From: Martin Peranginangin <perkantongsamping@ yahoo.com> > Subject: [tanahkaro] Orang Karo diantara Orang Batak > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com > Cc: komunitaskaro@ yahoogroups. com, permata-gbkp@ yahoogroups. com > Date: Tuesday, July 1, 2008, 10:32 AM > > Judul diatas merupakan judul buku yang pernah aku tulis tahun 2004 > lalu. Lima kata itu lahir dari hasil perenungan yang cukup lama. Begini > ceritanya. Tahun 2003 aku *resign* dari HSBC Jakarta setelah bekerja 6 > tahun di sana. Hampir saja uang pesangon tak kudapatkan waktu itu. Tapi > setelah 2x pertemuan dengan Muchtar Pakpahan, serta 35 orang teman ketika > itu, akhirnya pesangon aku terima. Hmm, ternyata dunia ini kadang-kadang > perlu juga 'gertakan' pikirku. Februari 2004 kemudian aku menikah. Bukan > maksudku *petua-tuaken*, tapi biaya pernikahan di Jambur Namaken dibiayai > dari hasil tabungan. > > > > Setelah tidak bekerja, kegiatanku lebih banyak membaca buku-buku tentang > Karo. Ketertarikan mengenai sejarah terutama berhubungan dengan asal-usul > orang Karo, hingga sampai satu titik aku membaca tarombonya suku bangsa > Batak karya Pak Richard Sinaga. Menurut ceritanya, Nini Karo (asal mula suku > Karo) berasal dari Toba. Tulisan beliau membuat aku semakin menjadi > penasaran, soalnya semua penulis Karo tak ada satu pun yang memberikan kisah > seperti itu. Akhirnya semakin banyak literatur yang aku baca, kebetulan > seorang Karo memiliki sebuah perpustakaan pribadi yang tergolong 'lengkap'. > Baik buku maupun tulisan lepas tentang sejarah dan antrhopologi Karo. > Berbahasa Karo, Indonesia dan juga Inggris. Namun semakin banyak literatur > yang kubaca, makin bingung pulak aku dibuatnya. Beragam pendapat dengan > beragam argumen baik yang masuk akal sampai yang tergolong 'pargabus'. > Akhirnya pekerjaan *mission impossible* itu aku tinggalkan, yakni mencari > tahu asal usul orang Karo yang equivalen dengan asal usul diriku sendiri. > > > > Dengan uang pesangon kemudian aku kembali bekerja sebagai pialang di sebuah > bursa di Wisma BNI 46 dimana seorang pialang pernah terjun bebas dari lantai > 38. Bekerja sebagai pialang sebenarnya cukup menantang. Dengan transaksi > beberapa lot saja bisa menghasilkan jutaan dalam sehari. Tapi sayang, > manusia termasuk aku memang cendrung serakah alias *kemaruk* kata orang > Betawi. Analisa teknikal dan fundamental seringkali menjadi kabur karena > nafsu dan ambisi pribadi. Akibatnya permainan sering salah posisi yang > berakhir *cut loss.* Uang dari pesangon sedikit demi sedikit digerigoti, > sampai enam bulan kemudian saya harus keluar dari pasar. *Cut loss!* Ah, > anggap saja *talu erjudi,* pikirku. Dibalik mendung selalu ada mentari > kucoba menhibur diri. Uang hampir habis, apalagi bisa menabung. Wah jauh > panggang dari api. Tapi setidak-tidaknya selama di sana aku semakin akrab > dengan internet. Hampir 80% jam kerja dipergunakan dengan internet termasuk > game hehehe...Banyak juga data tentang Karo aku dapat dari internet. Milis > GBKP justru mulai aku kembangkan ketika masih di bursa. Weh, ada juga > manfaatnya tuh! Hehehe.. > > > > Kembali menganggur kembali ke kebiasaan lama. Untung istri sudah bekerja. > Membaca buku tentang Karo yang pada ujungnya muncul pikiran untuk menulis > buku ttg Karo. Dari kumpulan tulisan-tulisan selama ini akhirnya aku konsep > jadi buku. Kemudian aku bawa ke Gramedia Matraman, tanya punya tanya eh > mereka cuma berani bayar royalti 15% dari penjualan. Bah, kejam nian > pikirku. Setahun lamanya aku mengumpulkan bahan dan menulis, koq cuma > dibayar segitu. Kuhitung kembali uang sisa dari bursa, namun tak cukup untuk > menerbitkan sendiri. Untunglah percetakan Praninta milik seorang merga > Surbakti mau mencetak dengan catatan bayar setengahnya dulu. Yah, gak apa > lah yang penting 'maha karyaku' selama satu tahun akhirnya bisa terbit. Buku > Orang Karo diantara Orang Batak kemudian kubawa ke Gramedia, lalu > kutawarkan. "*Nih buku gue yang dulu disepelein ama loe"*, pikirku. > Untungnya lagi, penjualan bulan pertama bisa menutup utang sama Pak > Surbakti. Aman blehhh..aman. ..aman! Setidakya pernah aku iklankan di Koran > Tempo dan iklan baris Kompas. Wah ck ck ck... > > > > Aku kembali bekerja di Stanchart sebagai marketing KTA dan kemudian menjadi > supervisor di Citibank. Dari bank ke bank. Memang kelihatannya mentereng, > tapi disana pula hal-hal tak terpupuji terlakukan olehku. Untuk meloloskan > kredit nasabah, suka membuat mark up gaji, membuat KTP palsu di pasar > Pramuka untuk menghindari *black list*. Untung belum pernah malsuin > rekening koran nasabah. Hahaha...parah tuh temen-temen pada bikin. Bisa > dibuat lho di Pramuka. Bahkan salah seorang anggota milis Karo pernah > ngajukan kredit pake slip gaji aspal disetujuin sama bank. Hahaha... Ini > testimoni, sekalian mohon ampun biar dosanya ditebus. Takut berdosa lebih > besar akhirnya aku keluar dari bank. Bertobat...bat. ..bat!! Yah, ini > sekedar buku putih saya beberapa tahun lalu. Yang penting aku sudah pernah > berbuat sesuatu. Dan mudah-mudahan, tidak seperti pohon pisang. Sekali > berbuah lalu mati. Semoga. Trims. > > > > > > > > > >
