Mejuah-juah. Salut impal ngenen tulisanndu ugua adi tulisanndu enda banci i masukken ku cerita pendek bas Kolom koran tercintanta enda tentusaja Sora Mido. Bujur, Nd Melissa gtg
----- Original Message ---- From: Martin Peranginangin <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] Sent: Tuesday, July 1, 2008 7:32:50 PM Subject: [komunitaskaro] Orang Karo diantara Orang Batak Judul diatas merupakan judul buku yang pernah aku tulis tahun 2004 lalu. Lima kata itu lahir dari hasil perenungan yang cukup lama. Begini ceritanya. Tahun 2003 aku resign dari HSBC Jakarta setelah bekerja 6 tahun di sana. Hampir saja uang pesangon tak kudapatkan waktu itu. Tapi setelah 2x pertemuan dengan Muchtar Pakpahan, serta 35 orang teman ketika itu, akhirnya pesangon aku terima. Hmm, ternyata dunia ini kadang-kadang perlu juga 'gertakan' pikirku. Februari 2004 kemudian aku menikah. Bukan maksudku petua-tuaken, tapi biaya pernikahan di Jambur Namaken dibiayai dari hasil tabungan. Setelah tidak bekerja, kegiatanku lebih banyak membaca buku-buku tentang Karo. Ketertarikan mengenai sejarah terutama berhubungan dengan asal-usul orang Karo, hingga sampai satu titik aku membaca tarombonya suku bangsa Batak karya Pak Richard Sinaga. Menurut ceritanya, Nini Karo (asal mula suku Karo) berasal dari Toba. Tulisan beliau membuat aku semakin menjadi penasaran, soalnya semua penulis Karo tak ada satu pun yang memberikan kisah seperti itu. Akhirnya semakin banyak literatur yang aku baca, kebetulan seorang Karo memiliki sebuah perpustakaan pribadi yang tergolong 'lengkap'. Baik buku maupun tulisan lepas tentang sejarah dan antrhopologi Karo. Berbahasa Karo, Indonesia dan juga Inggris. Namun semakin banyak literatur yang kubaca, makin bingung pulak aku dibuatnya. Beragam pendapat dengan beragam argumen baik yang masuk akal sampai yang tergolong 'pargabus'. Akhirnya pekerjaan mission impossible itu aku tinggalkan, yakni mencari tahu asal usul orang Karo yang equivalen dengan asal usul diriku sendiri. Dengan uang pesangon kemudian aku kembali bekerja sebagai pialang di sebuah bursa di Wisma BNI 46 dimana seorang pialang pernah terjun bebas dari lantai 38. Bekerja sebagai pialang sebenarnya cukup menantang. Dengan transaksi beberapa lot saja bisa menghasilkan jutaan dalam sehari. Tapi sayang, manusia termasuk aku memang cendrung serakah alias kemaruk kata orang Betawi. Analisa teknikal dan fundamental seringkali menjadi kabur karena nafsu dan ambisi pribadi. Akibatnya permainan sering salah posisi yang berakhir cut loss. Uang dari pesangon sedikit demi sedikit digerigoti, sampai enam bulan kemudian saya harus keluar dari pasar. Cut loss! Ah, anggap saja talu erjudi, pikirku. Dibalik mendung selalu ada mentari kucoba menhibur diri. Uang hampir habis, apalagi bisa menabung. Wah jauh panggang dari api. Tapi setidak-tidaknya selama di sana aku semakin akrab dengan internet. Hampir 80% jam kerja dipergunakan dengan internet termasuk game hehehe...Banyak juga data tentang Karo aku dapat dari internet. Milis GBKP justru mulai aku kembangkan ketika masih di bursa. Weh, ada juga manfaatnya tuh! Hehehe.. Kembali menganggur kembali ke kebiasaan lama. Untung istri sudah bekerja. Membaca buku tentang Karo yang pada ujungnya muncul pikiran untuk menulis buku ttg Karo. Dari kumpulan tulisan-tulisan selama ini akhirnya aku konsep jadi buku. Kemudian aku bawa ke Gramedia Matraman, tanya punya tanya eh mereka cuma berani bayar royalti 15% dari penjualan. Bah, kejam nian pikirku. Setahun lamanya aku mengumpulkan bahan dan menulis, koq cuma dibayar segitu. Kuhitung kembali uang sisa dari bursa, namun tak cukup untuk menerbitkan sendiri. Untunglah percetakan Praninta milik seorang merga Surbakti mau mencetak dengan catatan bayar setengahnya dulu. Yah, gak apa lah yang penting 'maha karyaku' selama satu tahun akhirnya bisa terbit. Buku Orang Karo diantara Orang Batak kemudian kubawa ke Gramedia, lalu kutawarkan. "Nih buku gue yang dulu disepelein ama loe", pikirku. Untungnya lagi, penjualan bulan pertama bisa menutup utang sama Pak Surbakti. Aman blehhh..aman. ..aman! Setidakya pernah aku iklankan di Koran Tempo dan iklan baris Kompas. Wah ck ck ck... Aku kembali bekerja di Stanchart sebagai marketing KTA dan kemudian menjadi supervisor di Citibank. Dari bank ke bank. Memang kelihatannya mentereng, tapi disana pula hal-hal tak terpupuji terlakukan olehku. Untuk meloloskan kredit nasabah, suka membuat mark up gaji, membuat KTP palsu di pasar Pramuka untuk menghindari black list. Untung belum pernah malsuin rekening koran nasabah. Hahaha...parah tuh temen-temen pada bikin. Bisa dibuat lho di Pramuka. Bahkan salah seorang anggota milis Karo pernah ngajukan kredit pake slip gaji aspal disetujuin sama bank. Hahaha... Ini testimoni, sekalian mohon ampun biar dosanya ditebus. Takut berdosa lebih besar akhirnya aku keluar dari bank. Bertobat...bat. ..bat!! Yah, ini sekedar buku putih saya beberapa tahun lalu. Yang penting aku sudah pernah berbuat sesuatu. Dan mudah-mudahan, tidak seperti pohon pisang. Sekali berbuah lalu mati. Semoga. Trims.
