Re: Sukuisme tadinya jelek, sekarang baik 
 
"Jadi dengan perbedaan harapan saya kita bisa saling lebih menghargai
satu sama lain dan lebih memper erat lagi persatuan dan tali
persaudaraan dengan suku lain." (Boyran Ginting)
 
Mejuah-juah Boyran Ginting
Mejuah-juah kerina permilis sirulo
Saya sangat berkesan dari kalimat posting Boyran Ginting yang saya kutip 
diatas. Kalimat itu muncul dari curahan hatinya yang mendalam, dan sangatlah 
berarti banyak demi persahabatan antar-etnis dan dengan sendirinya menyangkut 
soal survival nation Indonesia sebagai negeri multi-etnis. ’Melihat perbedaan 
dan saling menghargai’, atau juga seperti yang sudah sering kita baca dimilis 
kita, mengakui, menghormati dan menghargai sesama etnis sebagai kunci keadilan, 
dan pada gilirannya keadilanlah yang akan mendatangkan kedamaian dan menjamin 
perdamaian. 
Negeri kita multi etnis, banyak berkahnya tetapi banyak juga gundahnya, perang 
etnis misalnya. Banyak berkahnya . . . dimana berkahnya. Etnis-etnis tertentu 
yang punya hegemoni kekuasaan dan mendominasi etnis lain jelas ada berkahnya, 
begitu dari dulu dan masih begitu sampai sekarang, begitu di Indonesia dan 
masih banyak begitu di seluruh dunia. Inilah yang mau diubah, dan yang mau 
mengubahnya ialah etnis-etnis minoritas yang selama ini berada dalam posisi 
ditindas atau didominasi atau dihegemoni etnis lain, berjarak jauh dari 
kekuasaan dan tak punya modal apa-apa selain perjuangannya. 
Perang adalah bentuk tertinggi penyelesaian kontradiksi dan pertentangan. 
Perang etnis adalah bentuk tertinggi revolusi kultur etnis yang mau membebaskan 
dirinya dari penindasan kultur dan juga politis dan ekonomi. Perang ini telah 
membuka mata banyak orang, yang menindas dan yang ’netral’ dan juga sebagian 
penguasa negara (tidak semua). Yang tertindas sudah duluan terbuka matanya, 
melepaskan rantai belenggunya dengan paksa. Di ex Uni Soviet dengan mendirikan 
negara nasional, begitu juga di Yugoslavia. Di Indonesia dengan jalan pemekaran 
menurut garis kultural, cara ini sangat briliant yang telah ditempuh walaupun 
masih sangat banyak yang menentang. Yang menentang terutama etnis dominan yang 
masih belum rela melepaskan kekuasaan dan hegemoni hampir ratusan tahun seperti 
di NAD (etnis Aceh atas etnis-etnis minoritas di NAD) atau sejak kemerdekaan 
seperti orang Mandailing/Tapanuli di Sumut. Karena penjajahan adalah dominasi, 
maka dominasi juga adalah
 penjajahan. Dan penjajahan adalah sumber ketidakadilan yang tak perlu 
diragukan. Dan pada gilirannya itulah pula yang bikin perang. Dulu memang 
ketidakadilan ini jalan mulus, tidak ada yang mengganggu gugat. Yang didominasi 
masih tidur nyenyak atau sebagian sudah lama sedang ngumpulkan bara dalam 
sekam. Setelah ethnic revival dunia, semua pada bangun termasuk yang 
mendominasi juga ikut bangun. Sebagian belajar dan melihat kenyataan dan 
mengikuti perkembangan seperti Sumbar dan Protap. Sebagian lagi merasa masih 
bisa bertahan seperti orang Aceh. 
Di Sumut lebih ’kondusif’, masing-masing mau bikin jalan mundur sendiri untuk 
menghindari perang tentunya, alias supaya tetap kondusif. Orang-orang Sumut 
sudah mengerti dan sudah lebih jauh memahami situasi konkrit dunia, tetapi 
Pusat masih mempertahankan kedunguannya melihat perkembangan dunia. 
Mengulur-ulur pemekaran dengan berbagai dalih. Pengetahuan-daerah pusat . . . 
type Bagir, Mardiyanto, . . dan pengetahuan globalnya . . . 
Persahabatan antar-etnis tidak bisa muncul kalau hanya dari etnis-etnis 
minoritas yang bersemangat bersahabat sedangkan yang dominan dan berkuasa 
pura-pura tidak tau saja. Persahabatan apa pula itu. Etnis-etnis diluar 
kekuasaan tidak punya apa-apa selain perjuangannya, cita-citanya yang murni 
demi keadilan, tetapi ketidakadilan datang dari mana kalau tidak dari 
kekuasaan. Karena itu struktur kekuasaan etnis-etnis harus dirombak, artinya 
dengan pemekaran menurut garis kultural, seperti yang sudah terlaksana 
dibeberapa tempat sewaktu Gus Dur jadi presiden: Babel, Banten, Gorontalo. 
Pemerataan kekuasaan adalah pemerataan keadilan. Propinsi Karo, Sumtim, Protap, 
Tabagsel, Nias, ALA, ABAS, adalah jaminan pemerataan kekuasaan dan jaminan 
pemerataan keadilan dibagian utara pulau Sumatra ini. Dan inilah yang akan 
melahirkan persahabatan dan kedamaian antar-etnis, dan dengan sendirinya juga 
persahabatan dengan pusat. 
Bujur ras mejuah-juah
MUG
 
--- In [EMAIL PROTECTED], "putrakaro" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mejuah-juah, Diskusi adalah sebuah jalan untuk mencari jawaban/mencari
pemecahan/mencari solusi demi tercapainya kemajuan atau Hal yang lebih
baik. Jadi diskusi bisa disebut proses. Diskusi bukan berarti
mencari-cari perbedaan, apalagi sampai mempertajam perbedaan.
"Khususnya diskusi kita tentang asal-usul Karo dan Batak Toba."

Saya sebagai penonton bisa merasakan banyak sekali hal-hal positif
dari diskusi ini. Termasuk perang etnis yang memang tidak pernah saya
tahu sampai saya baca tulisan dari bapa MUG ini.

Jadi dengan perbedaan harapan saya kita bisa saling lebih menghargai
satu sama lain dan lebih memper erat lagi persatuan dan tali
persaudaraan dengan suku lain. Aku bangga jadi Orang Karo, dengan
segala keterbatasan dan kekuranganku yang selalu berharap berbuat
banyak untuk tanahkaro simalem.

Mudah-mudahan tidak ada Hitler2 baru, karena dengan asumsi atau
pengertian yang salah bisa-bisa "salah kaprah" seperti Hitler yang
bangga dengan kaum/ras Arya'nya. ( in my opinion) (:

Sekarang hal2 yang perlu sekali kita diskusikan adalah apa yang bisa
kita lakukan dan kerjakan untuk kemajuan tanahkaro simalem untuk saat
ini karena.... (lagi-lagi opini pribadi), "...kecenderungan orang
karo sekarang lebih mementingkan diri sendiri". Bangga dengan ke
"karo"an nya hanya sebatas kata-kata(cakap) dan marga, dan malah sudah
ada yang menghilangkan marga dari namanya atau sering kali
menyingkatnya. Lagi-lagi salah kaprah :).

Dan banyak hal yang bisa kita jadikan contoh konkrit tanpa harus
menyebutnya satu persatu :). ====== kembali hanya di KOMUNITAS KARO :)

Ola kena merawa ya! Miliser Karo kerina.
Bujur,

BoYRaN GiNTinG


--- In [EMAIL PROTECTED], MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Sukuisme tadinya jelek, sekarang baik. 
Tahun 1946 terjadi perang etnis di Dairi, antara orang Toba dan Karo atau 
'kalak Teba ras kalak Karo' istilah orang Karo Dairi. Banyak juga korbannya 
dikedua belah pihak. Tidak ada yang berani menulis peristiwa ini, dianggap tabu 
dan karena itu juga hampir tidak ada pelajaran dari situ, mengapa terjadi, 
sebab utamanya dsb. Kalau saya ditanya, jawaban saya ialah perang etnis adalah 
perang etnis, sebab luar bisa banyak tetapi itu tetap faktor extern, faktor 
luar bisa berpengaruh kalau sudah ada faktor intern, artinya faktor-faktor yang 
tersembunyi pada tiap etnis bersangkutan. Penduduk asli di Dairi ialah orang 
Karo dan orang Pakpak, dan Pakpak merasa tidak berkepentingan ikut perang, 
berlainan dengan kalak Alas yang kemudian terlibat ikut dibeberapa tempat yang 
berhubungan langsung dengan kepentingan kalak Alas. Setelah perang itu maka di 
Dairi berduyun kalak Teba ngasak, seperti semut cari gula. Dengan demikian 
sudah cukup alasan untuk memasukkan Dairi
 ke Taput ketika itu. Dairi jadi Taput dan semakin leluasa penuh kebebasan 
kalak Teba berduyun ke Dairi. Sekarang mereka jadi mayoritas di Dairi, masih 
ada 'positif' kecilnya ialah kalak Teba atau orang Batak masih mengakui Dairi 
tanah ulayat kalak Pakpak, Karo tidak diikutkan dalam pandangan mereka, 
walaupun kenyataannya di Dairi penduduk semula adalah Karo dan Pakpak. 
'Positif' besarnya ialah Dairi didominasi oleh kalak Teba dan yang lebih 
positif lagi ialah suasana kondusif sampai sekarang masih berlaku. Situasi 
kondusif ini masih berlaku apakah karena kita sungkan membicarakan permusuhan 
alias kontradiksi antar-etnis, atau karena memang kita sudah pandai dan hebat 
semua, hebat menyembunyikan 'apa adanya' alias fakta dan kenyataan, 
ethnicgroups self-assertion and ethnicgroups struggling for power. . Bisa juga 
hebat menyembunyikan api dalam sekam. Dan ini biar bagaimanapun adalah api! 
Sepandai-pandai tupai melompat . . . Dominasi adalah penjajahan dan
 sumber ketidakadilan, contohnya seperti yang dikatakan oleh antoropolog Denis 
Dwyer: "development programmes frequently are controlled and administered at 
the higher levels by members of the politically dominant ethnic group; and most 
of the fruits of such development flow into the pockets of a tiny ethnic elite 
or at best, are distributed in a limited manner within the same ethnic group". 
Ini salah satu keuntungan politis/ekonomi bagi etnis-etnis yang memperjuangkan 
dominasi atau hegemoni. 
Kalak Teba diluar Dairi ngakunya Batak (Tobanya tidak diikutkan), begitu juga 
ada Karo yang ngaku Batak-Karo tapi Karonya diikutkan. Belanda bilang kalian 
Batak semua, seperti orang Pribumi katanya kepada semua orang coklat lainnya di 
seluruh tanah air, yang lebih hitam, Ambon katanya dan yang lebih hitam lagi, 
Papua katanya. Disini: keangkuhan + kebodohan Belanda. Dan dalam istilah Batak 
atau Batak-Karo sebagai pengganti Teba dan Karo, sudah termasuk kedalam 
pengertian intellektual yang lebih tinggi, disini tidak bisa dipisahkan dari 
'perang image' (Juara Ginting) atau apa yang sering saya sebut dengan 
'ethnicgroups self-assertion and etnicgroups struggling for power'. Disini 
berlaku sasaran dan motivasi yang sangat jelas: siapa menguntungkan siapa dalam 
jangka pendek maupun jangka panjang. Sama halnya dengan Aceh Gayo atau Aceh 
Alas atau Aceh apa saja. Antropolog Batak Amir Nadapdap malah bilang Batak Gayo 
dan Batak Alas, istilah 'aceh' diganti 'batak'
 sama dia. Sasaran dan motivasi intellektualnya jelas walupun lebih tinggi. 
Ketika ditanyakan pendapatanya soal pemekaran, gubernur Puteh mengatakan: "Saya 
sependapat dengan DPRD, tidak mungkin karena itu bertentangan dengan UU Nomor 
18 Tahun 2001," ujar Gubernur Abdullah Puteh. Gubernur juga menyatakan tidak 
ingin daerah yang disebut sebagai "Serambi Mekkah" ini dipecah-pecah dengan 
membentuk provinsi. Karena daerah ini merupakan warisan indatu dan nenek moyang 
masyarakat Aceh yang sangat kental dengan Islamnya (web TVRI). Gubernur Puteh 
tidak menjelaskan dimana warisan masyarakat Gayo, Alas dan etnis-etnis asli 
lainnya. (milis tanahkaro Fri Oct 8, 2004 12:20 pm). 
Banyak orang Karo maupun orang Teba tidak pernah mengerti existensi perang 
etnis 1946 antara kalak Karo dan kalak Teba, karena tidak pernah mendengar. 
Selalu disembunyikan seperti menyembunyikan SARA kreasi Orba Suharto. Pelajaran 
dari SARA Suharto ialah: ada yang disembunyikan atau dipaksa sembunyi dan ada 
yang secara sembunyi dijalankan. Etnis-etnis yang jauh dari kekuasaan harus 
bungkem, tapi jawanisasi jalan terus. SARA disini saya samakan dengan istilah 
sukuisme, istilah yang juga punya pengertian lain dalam perkembangan sekarang 
karena dulu sebelum Orba dan masa Orba sukuisme sangat negatif dan dipakai 
untuk menakut-nakuti etnis yang menunjukkan ke-etnisannya, yang tidak 
menunjukkan dianggap 'baik' walupun kemudian bakal jadi sebab utama kekalahan 
total etnis tersebut, seperti Karo , Alas, Gayo, Pakpak, Dayak dst. Jawanisasi 
saya maksudkan sama dengan feodalisme jawa, sistem mana telah dipaksakan 
berlaku diseluruh Indonesia ketika kekuasaan militer
 fasis-pancasilais Orba Suharto dan yang telah berakibat sangat merugikan 
adat/tradisi kehidupan otonomi dan demokratis banyak daerah seperti Sistem 
Nagari di Minang atau sistem demokrasi Runggu Rakut Sitelu pada etnis Karo, 
sistem mana telah exis dan berlaku mengatur kehidupan Minang dan Karo bahkan 
jauh sebelum feodalisme Jawa. 
Ethnic revival atau Cultural revival dunia adalah revolusi besar kebudayaan 
etnis-etnis dunia membembaskan dirinya dari penindasan kultur/budaya dan juga 
secara politis dan ekonomi. Ini terjadi secara besar-besaran di Uni Soviet, 
Yugoslavia, Irlandia Utara, Rwanda, Chapata/Mexiko, Srilangka dst, dan di 
Indonesia sendiri Kalbar, Kalteng, Maluku, Sulteng/Poso dll. 
Di Swedia berdiri Parlemen Sami + benderanya, diluar parlemen Swedia. 
Di Aceh pemekaran ALA/ABAS, di Sumut pemekaran Protap, Sumtim, propinsi Karo, 
Tabagsel, Nias. Setelah perang etnis di Indonesia kemudian dibagian lain 
dilaksanakan dengan pemekaran dan yang sudah terlaksana lebih dulu ialah 
Gorontalo, Babel, Banten, dll. 
Sukuisme sekarang baik, dan lebih baik lagi kalau dibicarakan atau memang harus 
dibicarakan apa adanya, menghindari api membara dalam sekam dan dengan 
sendirinya menghindari perang etnis, yang sudah makan korban dimana-mana 
termasuk di Indonesia. "Ngerana kita atau erperang kita" pernah kutulisken 
mbarenda. Erperang sangana ngusir penjajah seh beluhna kita, gundari ngerana, 
lanai pakai bambu runcing atau bedil. Arah ngerana enda banci nambah 
"bargaining position" (istilah si pernah ipake Rudy Pinem). Ngerana soal 
pemekaran Karo jelas bakal nambah ruang gerak politis bagepe ekonomi man Karo 
(termasuk DAU; DAK). Gundari ngerana saja lebe, gia lenga lit pemekaran tapi 
enggo itteh kalak ija posisinta, itteh kalak sura-suranta si pasti, enda pe 
enggo terakap. Kai denga ka adi pemekaran daerah-daerah otonomi (5 daerah 
otonom: Berastagi, Deli, Langkathulu, Singalorlau, Tigalingga/Tanehpinem) enggo 
terbentuk, tentu ibas Sumut enggo 5x lebih besar suara
 politikta. Kai denga ka adi berhasil kita bentuk propinsi Karo, enda enggo 
bulat suara Karo jadi sada suara ku Pusat, Karo jadi perpanjangan tangan pusat, 
lanai perlu calo. (Milis tanahkaro Tue Dec 18, 2007 9:14 pm) 
Globalisasi telah mendesak kemanusiaan kepelosok yang paling terpencil 
sekalipun, dan satu-satunya tempat bertahan bagi kemanuisaan ialah dalam grup 
'bersama' yang paling kecil yaitu etnisnya atau sukunya, yang kulturnya sama. 
"the focus is almost exclusively at ethnics and not nations" , kata Erik Lane 
dalam bukunya - Globalization and Politics: Promises and Dangers. Selanjutnya 
dia tulis: "Thus, people are so intimately connected with a culture that they 
are, so to speak, constituted by the culture in question or embedded in such a 
particular culture." 
HUT kota Medan tahun ini sangat memprihatinkan (posting Alexander). Sebabnya 
karena pemimpin kota Medan sedang dikurung, sebab ekonomi yang semakin 
mencekik, atau juga adanya 'perang image' tadi. Dan perang image ini bisa 
berhenti kalau kita semua sudah merasakan keuntungan dari kemegahan sejarah 
bersama kita. Dan ini memang perjuangan . . . perjuangan untuk keadilan bagi 
dan untuk seluruh nation Indonesia. 
Enda ka lebe
Bujur ras mejuah-juah 
MUG
--


      __________________________________________________________
Ta semester! - sök efter resor hos Kelkoo.
Jämför pris på flygbiljetter och hotellrum här:
http://www.kelkoo.se/c-169901-resor-biljetter.html?partnerId=96914052

Kirim email ke