Bank Dunia Paksa RI Hapus Subsidi BBM

 
Posted in Berita Utama by Redaksi on Juli 4th, 2008 
Jakarta (SIB)
Pemerintah Indonesia didesak Bank Dunia untuk melepas harga bahan bakar minyak 
(BBM) untuk mengikuti harga pasar pada Januari 2009.
Ini akan terjadi pada Desember 2008 dan juga batas akhir subsidi BBM yang 
dilakukan pemerintah dengan merujuk perjanjian pinjaman Indonesia - Bank Dunia.
"Perjanjian antara pemerintah Indonesia dan Bank Dunia 4712-IND memberikan pagu 
pinjaman sebesar US$ 141 juta mewajibkan Indonesia tunduk pada Bank Dunia", 
kata ekonom Tim Indonesia Bangkit Ichsanuddin Noorsy di Jakarta, Kamis (3/7). 
Karenanya, apa yang diusulkan Bappenas terhadap kenaikan harga BBM secara 
bertahap sampai penghapusan subsidi merupakan konspirasi elite penguasa dan 
lembaga internasional. "Apa yang dilakukan pemerintah sekarang ini sebenarnya 
dalam rangka menjalankan perjanjian pemerintah dengan Bank Dunia", tandasnya.
Ia menambahkan perjanjian tersebut juga menegaskan pentingnya pemerintah untuk 
mendesak masyarakat agar menerima alasan kenaikan harga BBM dan sektor energi 
agar sesuai mekanisme pasar. Perjanjian itu juga akan memaksa pemerintah 
menetapkan pasokan dan distribusi listrik di Jawa-Bali menurut harga komersial.
Dengan demikian merujuk pada perjanjian tersebut dan sesuai dengan Letter of 
Intent (LoI) IMF-Indonesia 1999, anjuran USAID 3001, nasihat ADB, maka harga 
BBM dan listrik Jawa Bali akan tunduk pada hukum permintaan dan penawaran 
(mekanisme pasar).
Hal ini akan memberi dampak yang luar biasa karena bukan saja akan terjadi 
ledakan kemiskinan dan pengangguran, tetapi juga kesenjangan sosial akan makin 
menganga. Ketahanan ekonomi Indonesia pun akan semakin rapuh baik dari segi 
penyediaan kebutuhan maupun dari segi stabilisasi.
Ia menyatakan apa yang akan dilakukan pemerintah Yudhoyono-Kalla ini justru 
bertentangan dengan UUD-45, khususnya Pasal 23 Ayat 1, 27,31 33 dan 34. 
Pemerintah sebaiknya tidak mengutamakan tekanan lembaga-lembaga internasional 
dan sebaiknya memprioritaskan kepentingan masyarakat.
"Jika pemerintah memaksakan kehendaknya, ini akan menjadi badai, sosial- 
ekonomi - politik", katanya. Badai ini yang bisa menjadi katalisator 
instabilitas di Tanah Air.
Sementara itu, harga minyak menembus angka psikologis US$ 145 per barel untuk 
pertama kalinya. Kamis pagi, dengan minyak mentah Brent North Sea untuk 
pengiriman Agustus pada 145,01 dolar AS di perdagangan Asia. Kontrak naik 75 
sen dolar AS dari penutupan di London sehari sebelumnya, ketika kontrak 
melonjak hingga 144 dolar AS untuk pertama kalinya.
Kontrak berjangka minyak utama New York, minyak mentah jenis light sweet untuk 
pengiriman Agustus, naik 70 sen dolar AS menjadi 144.27 dolar AS per barel dari 
penutupan 143,57 dolar AS di New York Mercantile Exchange pada Rabu (2/7).
Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan Rabu (2/7) cadangan minyak mentahnya 
telah turun 2,0 juta barel pada pekan yang berakhir 27 Juni, mempercepat 
kenaikan di pasar berjangka. Melemahnya dolar AS juga membantu mendorong harga 
minyak naik, karena harga minyak dikutip dalam dolar AS. Dolar AS turun 
terhadap sebagian besar mata uang utama, mendorong euro menjadi 1.5883 dolar AS 
di perdagangan New York.
Phil Fiyun dari Alaron Trading mengatakan minyak terus memperoleh momentum di 
tengah kekhawatiran tentang ekonomi global, dolar AS yang melemah dan berbagai 
"penyakit" ekonomi lainnya.
Di tengah penurunan cadangan minyak AS, Sekretaris Jenderal OPEC Abdullah 
el-Badri, dalam sebuah wawancara Rabu (2/7) mengatakan otoritas AS akan 
menghentikan tekanan terhadap negara-negara anggota organisasinya untuk 
memproduksi minyak mentah lebih banyak.
"Sebagai kekuatan utama dunia, Saya ingin mereka menghentikan tekanannya 
terhadap negara-negara OPEC", kata dia kepada surat kabar Spanyol, El Pais, 
ketika ditanya tentang sebuah tindakan Kongres AS yang mengijinkan departemen 
kehakiman untuk menggugat anggota-anggota OPEC untuk konspirasi membatasi 
pasokan atau mendorong harga naik.
Ia juga menyatakan bahwa harga minyak yang setinggi langit bukan karena 
kurangnya pasokan - seperti pendapat negara-negara barat - tapi, karena 
spekulasi yang dipicu oleh krisis kredit perumahan di AS.
"Pada kenyataannya, itu semua sangat mudah dijelaskan krisis subprime pada 
musim panas lalu di Amerika Serikat telah berdampak buruk terhadap pasar-pasar 
saham. Para investor mencari produk-produk (finansial) lainnya dan komoditi 
telah menjadi pilihan menarik untuk spekulasi", kata El-Badri.
Harga minyak telah mencapai rekor tertinggi pada Senin, karena meningkatnya 
ketegangan di Iran dan Nigeria dan karena dolar AS masih terus melemah terhadap 
mata uang utama lainnya. Para pedagang pada Rabu (2/7) memandang ketegangan 
pada negara produsen minyak mentah terkemuka Iran kian memanas di tengah 
spekulasi bahwa Israel berencana melakukan serangan militer terhadap fasilitas 
nuklir Iran.
Menteri Minyak Iran Gholan Hossein Nozari mengatakan, Rabu, bahwa Iran akan 
bersaksi "dengan ganas" terhadap setiap serangan kepadanya. Ia mengingatkan 
serangan terhadap Iran akan mengakibatkan kenaikan radikal harga minyak mentah. 
(SH/c)
 


      __________________________________________________________
Låna pengar utan säkerhet. Jämför vilkor online hos Kelkoo.
http://www.kelkoo.se/c-100390123-lan-utan-sakerhet.html?partnerId=96915014

Kirim email ke