Bagian I: Uis Julu
Ini adalah keadaan semasa prekolonial, kolonial dan beberapa kampung
Karo masih mempertahakannya hingga 1960an, bahwa di setiap kampung
Karo (kuta) ada 2 kelompok aron: Aron Sepuluwaluh dan Aron Duapuluh.
Masing-masing kelompok ini mungkin terdiri dari beberapa sub kelompok
lagi. Seseorang yang merasa kurang gennah di satu kelompok aron
(karena ada si mehangke atau karena pertikaian) boleh pindah ke
kelompok aron lainnya.

Satu diantara  2 kelompok aron menjadi aron si mantek gendang pada
perayaan kerja tahun. Kalau salah satunya mengatakan berkeingingan
menjadi si mantek gendang dan yang lain tidak, maka yang berkeinginan
akan menjadi si mantek gendang. Persoalan akan muncul bila kedua
kelompok aron bersikukuh hendak mantek gendang.

Sebagaimana dituturkan banyak informan kepada saya di berbagai kampung
Karo, bila itu terjadi, salah satu kelompok dipersilahkan menegakkan
tiang bambu di dekat kerabangen dengan mengikatkan uis julu di
puncaknya (mirip bendera). Kalau kelompok lain betul-betul ngotot
juga, silahkan memanjat tiang, menurunkan uis julu dan menggantinya
dengan uis julu mereka sendiri untuk berkibar di puncak. Pemilik uis
julu yang terakhir berkibar di puncak akan menjadi aron si mantek gendang.

Sedikit selingan, mungkin ada pembaca yang bisa membantu,  apakah
perbedaan uis julu gatip sepuluwaluh dengan uis julu gatip duapuluh
ada hubungannya dengan perbedaan aron sepuluwaluh dengan aron
duapuluh? Saya menduga ada hubungan, tapi sampai saat ini, saya belum
bisa membuktikannya.

Bagian II: Si Mantek vs Si Anceng
Guro-guro aron biasanya diiringi gendang lima sendalanen dengan
menampilkan aron beru si lima (berpasangan dengan impalna). Diberi
kesempatan menari kepada Pengulu Si Lebe Merdang, Pengulu Kuta,
Pengulu Kesain, Perbapan Kuta dan lain-lain. Kadang ada juga dengan
perkolong-kolong (Kalau mau puas menari/ menyanyi di guro-guro aron,
silahkan ke Langkat Hulu. Di tahun 1982 saya pernah ikut guro-guro
aron di sana diiringi gendang jahe, wow .... sampai angkat tangan
menolak menari karena sudah kecapaian  banyak menari).

Secara keseluruhan, gendang guro-guro aron adalah acara mehamat dan
mehaga. Inilah yang biasanya dipakai orang-orang Karo menjadi model
kebudayannya sekarang ini, mehamat dan mehaga. Padahal kebudayaan
tradisional Karo tidak terbatas pada mehamat dan mehaga.

Tidak selalu kelompok aron yang tidak mantek gendang menerima begitu
saja kekalahan mereka. Katakanlah Aron Duapuluh menjadi si mantek
gendang, bisa jadi Aron Sepuluwaluh mengadakan gerakan Aron Anceng
dengan mengikuti jalur budaya. Mereka mengadakan berbagai permainan
untuk menarik perhatian warga kampung agar meninggalkan acara
mehamat-mehaga yang dilakukan aron si mantek gendang.

Permainan yang paling sering dimainkan oleh Aron Anceng adalah
tembut-tembut. Ini bisa jadi dengan mengundang (bayaran) kelompok
Tembut-tembut Seberaya atau yang lainnya untuk mengadakan ritual
tembut-tembut. Sering juga dilakukan oleh Aron Anceng sendiri dengan
membuat topeng dari pelepah kelapa dan melukis tubuh mereka (tanpa
baju) dengan berbagai gambar reptil (ular wawah, biawak, kadal dll).
Ada yang menjadikan tikar tua yang sudah koyak dan usang sebagai
pakaian. Ada juga dengan melakonkan drama seorang miskin pencari
kemenyan dengan pakaian yang jelek sejelek-jeleknya, buruk
seburuk-buruknya.

Masih banyak permainan lain yang mungkin mereka lakukan. Tapi,
intinya, semua adalah anti-thesis dari acara Aron Simantek.
Mehamat-mehaga vs Mejin-mesera.

Bagian III: Sampah Kampung
Dalam memulai permainannya, Aron Anceng berangkat dari salah satu
gerbang kampung yang disebut bakal (kontras dari gerbang utama kampung
yang disebut kerabangen). Dari situ, mereka mengelilingi pinggir
kampung mengikuti garis bide kuta sambil mempertunjukkan karya-karya
seni mereka yang mempresentasekan dunia mejin-mesera. 

Mengapa bakal? Bakal adalah tempat pembuangan kotoran dalam artian
ritual. Tumbuh-tumbuhan yang dirangkai menjadi perbasbas dalam ritual
mengusir roh-roh jahat dari sebuah rumah, misalnya, dibuang ke bakal
selesai ritual. Kadang-kadang ke sana juga dibuang buluh/galuh
persilihi (selain ke jurang atau ombakken ku jahen tapin).

Aron Anceng mengekspresikan dirinya sebagai orang-orang terbuang,
orang-orang yang kalah, sampah masyarakat dan pokoknya penuh penderitaan.

Bagian IV: Both
Kebudayaan Karo bukan hanya merangkul hal-hal mehamat-mehaga, tapi
juga hal-hal yang mejin-mesera. Akankah kita hanya memilih salah
satunya? Saya teringat pada tulisan-tulisan MU Ginting di milis
tanahkaro dan komunitaskaro dan jawab saya: Both!

Juara R. Ginting
Leiderdorp, 5 Juli 2008

* Tulisan ini dapat juga dibaca di www.sorasirulo.info


Kirim email ke