--- In [email protected], "Si Laga Man" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:

> Kebudayaan Karo bukan hanya merangkul hal-hal mehamat-mehaga, tapi
> juga hal-hal yang mejin-mesera. Akankah kita hanya memilih salah
> satunya? Saya teringat pada tulisan-tulisan MU Ginting di milis
> tanahkaro dan komunitaskaro dan jawab saya: Both!
> 

Membaca tulisen ini saya jadi teringat dengan sepenggal cerita 
perlanja sira engkahe dijaman doeloe.  

Tiba di Jahe, garam belum dibeli, kebetulan ada pesta dengan acara 
ronggeng dan gendang.
Si perlanja yang tak memaparas (tak tampan) pada awalnya kurang 
tertarik karena dia tidak mendengar musik lima sedalanen.  Tapi 
setelah sang bintang panggung yang anggun cantik rupawan muncul di 
panggung, menari dan bernyanyi, lama-lama si perlanja menjadi 
tertarik. Ketika dia diminta menari dengan si bintang, diapun 
akhirnya hanyut dalam menari ria dengan sibintang panggung dan 
penontonpun puas
Pada akhir acara tari, si perlanja ikut berdendang sambil menari 
bersama sibintang panggung: 

Tak tum bong, tak tum bong..
Suara gendang bergendang-gendang..
Biarlah habis gonje juluku sayang..
Asal nona ronggeng kubawa nangkeng.

Sekedar selingan, saya hanya ingin mengatakan pendapat bahwa budaya 
adalah budaya, yang mehamat-mehaga, yang mejin-mesera adalah pelaku-
pelaku budaya termasuk cita rasanya. 
Seperti dalam penggalan cerita diatas, sibintang panggung yang 
rupawan dan perlanja sira adalah pelaku budaya, sementara acara 
gendang dan tari itu secara keseluruhan adalah bagian dari budaya. 
Didalamnya terkadang ada perpaduan sicantik dan si jelek yang 
ternyata menjadi menarik. Yang jelas bagi si perlanja sira diatas 
semuanya akan menjadi indah bila si nona ronggeng dapat dibawanya 
nangkeng.

Salam budaya


Kirim email ke