Dulu waktu kasus Dukun AS, saya baru saja lulus SMA di Medan. Beritanya sangat menghebohkan. Sampai berita penggalian mayat-mayat korban dengan buldozer di perladangan tebu sekitar Binjai itu, tiap hari saya simak.
Waktu di Bandung semasa kuliah, saya nonton film Dukun AS di bioskop kelas teri di alun-alun Bandung. Bioskop tempat sarang preman dan pelacur. Karena film itu hanya diputar di bioskop itu di Bandung. Karena betul-betul niat saya memberanikan diri nonton film ini di bioskop itu. Dukun AS adalah legenda. Mirip dengan si Kanibal Sumanto di Jawa. Walau sebuah legenda, Dukun AS bukan seperti Pawang Ternalem. Jadi tidak layak diangkat dalam bentuk drama musikal. Tidak ada pesan moral yang bisa dipetik dari kisah hidupnya. Joey Bangun ----- Original Message ---- From: Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; [EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, July 11, 2008 3:48:01 AM Subject: [komunitaskaro] Tiga Peluru Tewaskan Dukun AS sumber: http://www.seputar- indonesia. com/edisicetak/ sumatera- utara/tiga- peluru-tewaskan- dukun-as- 2.html DISALATKAN Jenazah terpidana mati Ahmad Suraji alias Dukun AS disalatkan di musala RSU Deliserdang setelah dieksekusi mati sekitar pukul 21.58 WIB tadi malam. Jenazah Dukun AS selanjutnya diserahkan kepada keluarga untuk dikebumikan. LUBUKPAKAM (SINDO) –Terpidana mati kasus pembunuhan 42 wanita, Ahmad Suraji alias Dukun AS, 60, dieksekusi mati tadi malam. Dia mengembuskan napas terakhir di hadapan regu tembak Brimob Polda Sumut. Dokter forensik dari RSUD Deliserdang Aida Harahap mengatakan, Ahmad Suraji meninggal dengan tiga luka tembakan, dua di dada kiri, satu di jantung. Lokasi eksekusi tidak lebih dari waktu tempuh satu jam ke RSUD Deliserdang. “Sebab, saat tiba di ruang mayat, jenazah masih dalam keadaan hangat,”ujarnya. Tadi malam juga jenazah Dukun AS dimandikan dan disalatkan oleh Ustaz Yahya di ruang jenazah rumah sakit pemerintah tersebut. Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Bonavarte Daulat Nainggolan mengatakan, Dukun AS ditembak mati sekitar pukul 21.58 WIB tadi malam. Namun, dia tidak menyebutkan lokasi pasti eksekusi. ”Yang pasti di Deliserdang,” katanya saat dihubungi SINDO tadi malam. Setelah dieksekusi, jenazah Ahmad Suraji langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum (RSU) Deliserdang untuk diautopsi. “Kemudian, diserahkan kepada keluarga untuk dikebumikan. Sebelum proses eksekusi, kami telah memenuhi permintaan almarhum, yaitu ingin bertemu keluarganya,” ujar Nainggolan. Humas Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Kantor Wilayah I Sumut P Siagian juga membenarkan eksekusi Dukun AS. “Sesuai laporan yang disampaikan petugas LP (lembaga pemasyarakatan) ,”katanya. Jenazah Dukun AS tiba di RSU Deliserdang, Jalan MH Thamrin, Lubukpakam sekitar pukul 22.50 WIB.Instalasi jenazah itu langsung dipagari barikade polisi berpakaian lengkap. Sejumlah petugas berpakaian sipil juga tampak berada di lokasi.Mereka bahkan sudah mensterilkan lokasi sekitar 10 menit sebelum jenazah Dukun AS tiba. Hingga pukul 23.15 WIB belum terlihat kerabat Dukun AS di rumah sakit tersebut. Kediaman ibunya di Jalan Medan-Binjai Km 16, Desa Aman Damai,Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deliserdang juga kosong. Lokasi itu hanya diramaikan warga sekitar. Keramaian itu mendapat pengamanan personel Samapta Poltabes Medan dan Polsekta Sunggal. Dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) Tanjunggusta dilaporkan, lampu penjara itu dimatikan sejak pukul 19.45 WIB.Sekitar pukul 20.30 WIB Toyota Innova BK 1053 AS warna hitam melaju kencang menuju pusat Kota Medan. Mobil kedua dengan pelat nomor sama keluar dari LP Tanjunggusta sekitar pukul 21.00 WIB. Mobil yang ditengarai mengangkut enam orang ini juga bergerak ke arah yang sama dengan kendaraan pertama. ”Dalam surat isolasi dinyatakan, setiap permintaan Dukun AS harus dipenuhi. Kita telah memenuhi semua permintaannya karena memang yang dia minta juga tidak terlalu sulit untuk dipenuhi,” kata Kepala LP Tanjunggusta Ace Hendarmin kepada wartawan di LP Tanjunggusta kemarin. Dia mengungkapkan, hanya ada dua permintaan Dukun AS menjelang detik-detik eksekusi, yaitu berjumpa dengan seluruh anggota keluarganya dan minta agar barang- barangnya selama di LP diserahkan kepada teman satu selnya bernama Sapna. ”Kedua permintaan itu telah kita penuhi. Dua hari ini kita mempertemukan dia dengan keluarganya dan barang- barang dia berupa baju dan beberapa perlengkapannya selama di sel juga telah kita berikan kepada teman satu selnya bernama Sapna,” beber Ace. Begitu juga dengan permintaan makanan. Menurut Ace, Dukun AS juga sebenarnya diberi keleluasaan selama diisolasi untuk meminta makan makanan yang dia inginkan. Namun, permintaan makanan yang diinginkan terpidana mati ini juga ternyata tidak berlebihan, bahkan tergolong sederhana. Di hari pertama masa isolasi, Dukun AS hanya meminta roti dan teh manis sebagai sarapan paginya. Keesokannya, dia meminta lontong. Kemarin memasuki hari ketiga masa isolasi, dia meminta nasi biasa tapi makan bersama keluarganya. ”Semua itu juga sudah kita penuhi.Tadi dia juga makan bersama keluarganya yang datang kemari. Jadi, tidak ada kendala terkait pemenuhan permintaan terakhirnya,” ujar Ace. Selama tiga hari masa isolasi, Dukun AS senantiasa didampingi penasihat rohaninya, yaitu Alinafiah Nasution dari Yayasan Pendidikan Intensif Agama Islam (YPIAI) Medan. ”Selama tiga hari ini, pembimbing rohani terus mendampingi. Boleh dikata, selama 24 jam dia terus menerus memberikan siraman rohani untuk memberikan kesiapan mental kepada Dukun AS sebelum menjalani eksekusi,”katanya. Tidak itu saja, perkembangan kesehatan Dukun AS juga terus dipantau tim dokter LP. Sejauh ini, kondisi kesehatannya dalam keadaan stabil tanpa ada gangguan kesehatan sama sekali. ”Dia dalam keadaan sehat. Tiap hari, tim dokter LP melakukan kontrol kesehatannya, baik secara fisik maupun psikis. Kondisinya sangat bagus,” tandas Ace. Humas Departemen Hukum dan HAM (Depkumham) Kanwil I Sumut P Siagian juga terus memantau perkembangan Dukun AS selama diisolasi. ”Saya terakhir kali menjenguknya kemarin. Dia saya lihat dalam kondisi yang sehat dan tabah,”tandas Siagian. Bahkan dalam pertemuan tersebut, Dukun AS sempat mengucapkan kalau kematian adalah hal biasa yang akan dialami setiap orang. ”Mati adalah hal biasa. Cuma cara matinya saya ini aja yang berbeda. Ya, Allah sudah menggariskan saya untuk mati dengan cara seperti ini,” ujar Dukun AS sebagaimana ditirukan Siagian. Sementara itu, kemarin siang sekitar pukul 12.00 WIB, Tim Penasihat Hukum Dukun AS dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan akhirnya bertemu dengan Dukun AS di ruang isolasi LP Tanjunggusta. Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut,Tim Penasihat Hukum menyampaikan beberapa hal kepada kliennya ini. ”Kami menyampaikan kalau surat eksekusi sudah kami terima dan itu berarti eksekusinya tinggal hitungan jam. Kami juga telah menjelaskan upaya-upaya hukum yang telah kami lakukan dan permintaan maaf jika kami tidak bisa melepaskannya dari hukuman mati,”kata Adi Mansar,Ketua Tim Penasihat Hukum Dukun AS, kepada SINDO kemarin siang. Kasus pembunuhan massal yang dilakukan Dukun AS terungkap pada 27 April 1997 setelah polisi menyelidiki hilangnya seorang wanita Sri Kemala Dewi, 21. Menurut Saksi mata penarik becak,Sri Kemala Dewi berkunjung ke rumah Suraji yang dikenal sebagai dukun. Polisi lalu bergerak dan menemukan pakaian Sri Kemala Dewi di areal perkebunan tebu Sei Semayang, Kecamatan Sunggal, Deliserdang. Dukun AS ditangkap dan mengaku harus membunuh 70 wanita dan mengisap liurnya untuk menyempurnakan ilmu magis.Namun, baru tercapai 42 wanita. Ini dilakukannya sejak 1988–1997. (indra gunawan/ zailani/ m syahyan rw/ erdian w/ rahmad n lubis/ ismail siregar) Best Regarts www.dausmedia. cjb.net
