Ketika Joey Bangun menelpon mengabarkan bahwa dia terpilih untuk memerankan 
Pengulu Jenggi Kemawar, Petrus Barus hanya tertawa, "Kam engga salah pilih 
orang ni?". Dengan enteng Joey menjawab, "Kalau aku salah pilih, mana mungkin 
aku nelpon kam Kila."
"Kalau gitu kam ajari aku supaya bisa seperti Pengulu itu ya," kata Petrus 
Barus lagi. "Itu sudah tugasku Kila. Tenang aja kam!" tandas Joey Bangun 
menutup pembicaraan melalui telepon.
Hari itu awal Juni. Saat terbaring di rumah sakit PGI Cikini, seorang saudara 
datang menjenguk Joey Bangun. Dia katakan bahwa dia dapat kabar kalau Pawang 
Ternalem jadi dipentaskan Oktober nanti. Dengan heran Joey bertanya, "Dari 
siapa?". "Dari Petrus Barus," kata saudara itu.
Mendapat inspirasi dari nama itu Joey langsung tahu bahwa dia sudah mendapatkan 
pemeran tokoh Pengulu Jenggi Kemawar. Mencari tokoh ini memang sedikit 
problema. Selain harus berumur diatas 45 tahun, sangat jarang ada lelaki Karo 
yang sudah berumur mau bermain drama. Tapi ketika ditawarkan untuk memerankan 
peran itu, tidak sedikitpun terdengar keraguan dari seorang Petrus Barus.
"Yang saya suka adalah semangatnya. Apalagi ketika dia berbicara tentang Pawang 
Ternalem. Saat acara HMKI di Senayan, dia mengajak saya untuk membuat Pawang 
Ternalem untuk PIARA KA/KR Klasis Jakarta. Saat itu saya hanya tertawa. Kila 
Petrus sama sekali tidak tahu kalau saya juga sedang menyiapkan pertunjukan 
itu," kata Joey Bangun.
Selain itu, alasan Joey Bangun memilih Petrus Barus adalah saat acara temu 
Seniman Karo yang diselenggarakan oleh Yayasan Bengkel Seni beberapa waktu 
lalu. Gerak-gerik Petrus tidak lepas dari perhatian Joey. "Yang membuat saya 
yakin, dimana-mana dia berusaha menarik perhatian. Bukankah untuk menjadi 
seorang pengulu harus begitu?"
Di organisasi Yayasan Bengkel Seni Petrus Barus menjabat sebagai Sekretaris 
Umum. Dia juga berprofesi sebagai Manager beberapa artis dan penyanyi.
Pengulu Jenggi Kemawar sendiri adalah ayah dari Beru Patimar. Dia bermerga 
Sitepu dari Kineppen. Dalam kisah Pawang Ternalem dia sangat menderita dan 
sedih melihat putrinya tidak kunjung sembuh. Dia membuat sayembara barang siapa 
yang bisa memanjat pohon Tualang Si Mande Angin dan mengambil madunya dia bisa 
mempersunting Beru Patimar. Tidak seorang Pawangpun berhasil memanjat pohon 
itu. Sampai Pawang Ternalem tiba di kuta itu.
Adegan yang menjanjikan menjadi pemikat tokoh pengulu disini saat negoisasi 
dengan Pawang Ternalem. Saat itu Beru Patimar menolak untuk menikah dengan 
Pawang Ternalem karena lelaki itu berwajah jelek. Pengulu bernegoisasi dengan 
Dara senina Pawang Ternalem agar Pawang Ternalem mau mengobati Beru Patimar 
dengan madu Tualang Si Mande Angin. Saat itu juga Pengulu membujuk Beru Patimar 
agar mau menerima Pawang Ternalem karena dia sudah berjanji seperti sayembara 
yang telah dibuatnya.
"Alasan saya paling kuat memilih Petrus Barus adalah sosoknya mirip dengan 
Opon Sitepu Pengulu Jenggi Kemawar sekarang. Karakternya mirip. Cara bicaranya 
juga. Mungkin ketika sang pengulu datang nanti ke Jakarta menonton pertunjukan 
ini, mungkin dia akan melihat dirinya sendiri di panggung...ha..ha..ha.." tutup 
Joey Bangun dengan gelak tawa. 


      

Kirim email ke