Sumber:
http://blogberita.net/2008/07/15/pejabat-jakarta-ke-medan-minta-cewek-sma/
Beberapa PNS Pemko Medan mengatakan, setiap ada rombongan pejabat
Jakarta yang datang, pasti ada yang meminta disediakan perempuan etnis
tertentu. Untuk “ditiduri” oleh para koruptor yang juga “penjahat
kelamin” itu.
Pekan lalu koran harian Sumut Pos menulis artikel berjudul Cerita di Balik
Pejabat yang Suka ‘Bonus’ Wanita, tentang [oknum] pejabat Jakarta yang sering
mencari “perempuan” saat datang ke Medan, seperti dikutip Blog Berita berikut
ini.
Minta yang muda, hot, dan berkelas. Transaksi biasanya berlangsung
cepat, karena petugas penghubung pejabat pusat dan petugas penghubung
dari Kota Medan sudah tahu sama tahu. Jadi tinggal jemput si wanita dan
langsung diantar ke hotel tempat pejabat bersangkutan menginap.
Cerita seputar urusan teman tidur itu didapatkan wartawan koran ini
dari sejumlah PNS Pemko Medan yang sering dapat tugas menjadi ‘petugas
penghubung’. Namun hanya dua orang yang mau terbuka. “Biasanya memang
ada yang minta, kita langsung paham. Nggak perlu dibilang detail, kita
udah ngerti. Tinggal ‘koordinasi’ dengan orang-orang kita, malam sesuai
waktu yang diminta, ceweknya langsung diantar ke hotel,” ujar PNS Pemko
Medan itu.
Dia bilang, biasanya setiap ada rombongan pejabat dari Jakarta, dua
atau tiga orang pasti ada saja yang minta disediakan wanita. “Kita
nggak tahu pasti, apakah si pejabat yang meminta atau malah anak
buahnya, tapi yang jelas kita tinggal kontak langganan kita yang
menyediakan wanita itu. Seleranya sudah pasti. Mereka pasti minta yang
muda, di bawah 20-an tahun. Lagipula langganan kita itu hanya
menyediakan wanita di bawah usia 20-an tahun,” tukasnya.
Wanita-wanita yang disediakan seperti apa? “Pokoknya
masih muda. Rata-rata usia anak SMA. Kalau mau, saya bisa kenalkan
dengan bosnya,’’ ujarnya.
Dia mengatakan, tak semua pejabat Jakarta yang minta layanan gratis.
Sebagian ada juga yang mengerti atau memberikan bayaran. “Kita tinggal
mencarikan saja, semua biaya mereka yang tanggung sendiri. Padahal,
dana taktis untuk itu sudah disediakan. Kalau begini kita yang untung.
Soal dana taktis dari mana jangan ditanya. Yang pasti bukan uang
kantong saya,” tambahnya.
‘Eksekusi’ di hotel mana? Pertanyaan itu dijawab lelaki muda ini
dengan menunjuk lurus ke arah selatan, sebuah hotel berbintang di dekat
kantor pemerintahan. “Kalau saya yang mencarikan, biasanya dibawa ke
hotel itu. Di hotel itu tempatnya memang lebih aman. Kalau pejabat
sudah pasti tahulah,” tuturnya.
Sementara itu, seorang PNS lainnya dari Sekretariat Pemko Medan juga
mengakui ada segelintir pejabat yang minta disediakan wanita.
“Jarang-jaranglah yang minta disediakan. Tapi memang kadang-kadang ada.
Tapi semuanya sudah diatur. Kita tinggal meminta
agar si pejabat itu tinggal meluncur ke hotel itu. Beberapa kali saya
diminta menyediakan wanita, semua yang bayar mereka sendiri,” tambahnya.
Ada informasi sekelompok wanita yang tergabung dalam sebuah even
jadi langganan pejabat? “Nggak, nggak ada. Mana ada mereka yang seperti
itu. Semuanya bisa kita jamin bersih. Informasi yang selama ini
menyebut kalau mereka simpanan pejabat, itu juga tidak benar. Tapi dulu
memang ada, tapi cuma satu orang. Itu pun paling cuma dipegang-pegang
aja sama bos-bos,” pungkasnya.
Putih, bersih, menawan, tubuh semampai adalah sederetan
kriteria yang wajib dimiliki seorang “perempuan” dalam tanda kutip.
“Kalau bisa agak genit, jadi bikin tambah penasaran,” kata Raul [bukan
nama sebenarnya], seorang penghubung dan informan yang bisa mencarikan
wanita-wanita “teman tidur” bagi pejabat.
Meskipun bukan seorang pejabat pemerintahan, namun Raul mewakili
dari sekian banyak pria yang doyan perempuan dalam tanda kutip
tersebut. Pria bertubuh tegap ini, sehari-hari mangkal di warkop yang
jaraknya tak jauh dari sebuah hotel berbintang empat. Coba tanya apa
pekerjaannya, “Mencari peluang dan kesempatan, siapa tahu ada yang
ingin dibantu untuk dicarikan ‘teman semalam suntuk’,” ujarnya sembari
terkekeh.
Tak disangka, para pelanggan Raul rupanya bukan orang-orang
sembarangan, boleh dibilang orang-orang yang berasal dari kelas
menengah ke atas. Termasuk pejabat? “Belum pernah ada pejabat yang
langsung meminta sama Saya. Tapi itu biasanya, ditangani secara
profesional. Paling-paling saya hanya dijadikan informan saja, untuk
memberitahu ‘di mana yang bagus dan tidak bagus’,” ungkapnya.
Namun, sambung pria berpenampilan parlente ini, kalaupun ada pejabat
yang minta dicarikan biasanya tidak pernah ketahuan gerak-geriknya.
“Tiba-tiba sudah berada di lobi hotel saja, dan biasanya tidak pernah
sendirian, pasti beramai-ramai. Nanti sudah ada saja perempuan yang
menghampiri,’’ sambungnya. Namun jangan salah sangka, perempuan ini pun
bukan perempuan sembarangan. Tingkahnya bak wanita karir. Penampilannya
pun jauh dari gambaran perempuan “begituan”. Begitu pun cara bicara
perempuan tersebut, malah lebih persis seperti manajer perusahaan.
Sehingga seolah-olah seperti pertemuan pejabat dengan kliennya untuk
membicarakan program, proyek, atau rapat tertentu.
Rata-rata perempuan yang disukai para pelanggan Raul adalah cewek dari etnis
tertentu. [Sumut Pos/tim]
Best Regarts
www.dausmedia.cjb.net