"kesatuan dari segi-segi bertentangan"
 
Enggo kira-kira 15 kali presiden berkunjung ku Sumut, tapi piga kali atau enggo 
kin pernah ku Karo? Engkai maka bage? Lit kin je kontradiksi, perjuangan atau 
pertentangan? Atau perjuangan segi-segi bertentangan dalam satu kesatuan, Sumut 
sebagai satu kesatuan atau presiden dan Sumut sebagai satu kesatuan dalam 
konteks Indonesia? SBY takut sama Karo atau takut sama etnis-etnis lain? Atau 
tidak memandang Karo karena lebih memandang etnis-etnis lain? Atau menjaga 
imagenya untuk seluruh Indonesia dalam rangka pemilu presiden? Atau ini semua  
hanya omong kosong saja, karena bukan itu persoalannya. 
 Erbage-bage banci ibahan penungkunen salu dasar ’kesatuan dari segi-segi 
bertentangan’ adah ndai. Tapi apai kin sitengteng? 
Gelah enggo sitteh janah siakui kemutlakan ras kerelatifan fenomena hal-ihwal 
adah ndai, lit nge kemungkinen erbahan analisa perkembangan persoalenna bagi 
sindeher atau lebih ndeher ku kebenaran. Enda me maksudku sebagai penggunaan 
dialektika bas praktek, ertina labo ngenca teori. Kai kin gunana teori adi la 
mbantu praktek. Teori bas praktek nari nge rehna, janah ibas giliranna kari 
ipake ka membantu praktek. "Tidak ada yang tetap selain perubahan itu sendiri", 
pernah ipostingken Edi Tarigan ku milista. Maka perubahen nge ngenca si lit, 
ertina proses (perubahen) si la erngadi-ngadi. Kontradiksi, pertentangan atau 
perjuangan segi-segi bertentangan adah ndai, e me si mutlak. E me si erbahan 
gerakan, tenaga penggerak perubahan, e me si mendorong maju hal-ihwal dan pada 
gilirannya mendorong perkembangan dan mendatangkan kemajuan. 
 Carlos Patriawan ningetken sitik soal perang bas postingna "There is no Real 
Progress without discussion, debate, conflict or wars". Enggo melala buktina 
uga war enda terjadi i dunia, terbesar perang dunia (2 x). Si inget denga uga 
pesatna perkembangan, terutama i Eropah enca perang dunia II. Si ienget denga 
uga tambah pesatna perkembangan ekonomi Jepang sangana perang Vietnam ngelawan 
USA, bagepe i USA uga cepatna tercipta senjata-senjata baru pembunuh manusia. 
Bom-bom yang bisa mencari persembunyian dibawah tanah dsb. Kehebatan 
perkembangan teknik demi kemanusiaan dan untuk membunuh manusia sebanyak 
mungkin, secara massal. 'there is no real progress without war', enda enggo 
terjadi pada zamannya dan masih sekarang juga.  Enda kutulis huruf tebal pada 
zamannya, nginget perkembangen si gundari "kemungkinan adanya jawaban baru", 
bagi sipernah terpostingken ku milista. Adi perang enda pernah erbahan 'real 
progress' terpaksa ka kin enda siterusken bas
 era sigundari enda? Tapi discussion, debate, conflict terpaksa denga nge lit 
atau iterusken, sebab enda me dalan ngikuti ras ngalo-ngalo kemutlakan adah 
ndai, ertina ngadapi perjuangan segi-segi bertentangan. 
 Bagi sinimpang ndai bas soal pariwisata nari, maksudku gelah muat jelasna 
perukurenta ngalo-ngalo kehadiran SBY atau ketidakhadiran SBY di Karo, dalam 
rangka pesta buah atau apa saja acara lainnya. Sipenting ijenda ateku ngataken 
sikapta ngadapi SBY, dari segi kontradiksi alias perjuangan antara segi-segi 
bertentangan hal-ihwal, sepenuhnya diluar penafsiran emosional. Jenda me 
bantuan dialektika adah ndai bas praktek. Teori dalam praktek. 
 Kalak Karo la ikut bas PDT, kai soalna atau kai kontradiksina, ja soal 
perjuangan segi-segi bertentangan ije, enggo ka ndai kusingetken sitik sebabna 
'gubsu sebagai Melayu' (message nr 25429 milis tanahkaro). Kota Parapat daerah 
Simalungun, tapi labo ndai mbue je budaya Simalungun. Engkai? Enda sada 
kontradiksi tersendiri ka nge je,  siperlu ka pendalamen tersendiri. Tapi SBY 
ras gubsu 'Melayu' Samsyul hadir. Gendang Melayu lit je, la lit gendang Jawa, 
enda kebutuhan praktis pendekatan ke kekuasaan (terdekat). Uga kehadiran dua 
kalak enda bas Pesta Buah/Bunga Berastagi? Mbelin kang kontradiksina man dua 
kalak enda, hadir atau tidak hadir . . . to be or . . .. Tapi biarlah mereka 
menilai dan menyelesaikan kontradiksinya sendiri, kita kalak Karo melihat dan 
meneletinya dari segi kontradiksi, perjuangan dari segi-segi bertentangan 
hal-ihwal. Sangat jelas!
 Bukit Lawang, Berastagi, Danau Toba, 3 daerah pariwisata nasional dan 
internasional. Ketiganya dalam satu kesatuan berkontradiksi. Pekerja/guide 
pariwisata ketiga daerah ini tentu memahami sungguh kontradiksi dan kesatuan 
mereka. Turis-turis tidak memahami atau bukan itu yang penting bagi mereka. 
Kelebihan Berastagi ialah lebih dekat ke Medan, sejuk dan nyaman untuk 
istirahat melepaskan lelah. Danau Toba lebih jauh dari Medan. Budaya daerahnya 
juga berlainan, mana yang lebih menarik bagi turis. Kontradiksi. Tapi mengapa 
tidak difokuskan pikiran supaya turis-turis bisa menyinggahi ketiga tempat 
sekali gus? Route Bukit Lawang – Berastagi – Danau Toba – Siantar – Medan lagi 
atau yang lebih panjang ke Sumbar Bukit Tinggi – Singkarak (turis mancanegara). 
Bukankah suasananya akan saling menguntungkan? Disini soal pertandingan dan 
kerjasama. Ini salah satu seginya, atau seginya yang terpenting?. 
Dengan pengetahuan bahwa semua adalah proses perubahan dan dengan mengetahui 
bagaimana hal-ihwal berubah (kontradiksi), maka kita sepertinya mendapat 
kekuatan dan kegairahan yang besar untuk mengikuti dan mengambil langkah 
penyelesaian yang lebih tepat dan lebih memuaskan. Dan yang paling 
menggembirakan ialah bahwa kita mengerti apa yang terjadi, yang tersurat maupun 
yang tidak tersurat. Sangat indah.
 
Enda ka lebe sitik
Bujur ras mejuah-juah
MUG
 
 
--- In [email protected], Alexander Firdaust <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 
Sumber: 
http://wwww.waspada.co.id/Berita/Medan/PDT-dan-pesta-buah-even-tarik-wisatawan.html

MEDAN - Pesta Danau Toba di Parapat dan pesta buah di Berastagi, diharapkan 
menjadi event tetap meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Sumatera 
Utara. Hal ini mengingat di Indonesia hanya di Berastagi yang selalu ada pesta 
buah. 

Hal tersebut menjadi harapan masyarakat Karo meningkatkan ekonomi rakyat, kata 
Ir M. Subur Sembiring, Humas pada pesta tersebut, saat menyambut kedatangan 
Menhut MS, Kaban di Vip room Bandara Polonia Medan, Minggu (20/7).

Pesta buah dan mejuah-juah di Berastagi akan berlangsung pada 28 hingga 30 Juli 
2008. Sembiring yang didampingi Big Solon Sihombing mengharapkan kedatangan 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada puncak acara pesta buah dan mejuah-juah 
pada 29 Juli 2008.

Bahkan Sembiring menegaskan, saat Gubsu H. Syamsul Arifin beberapa hari lalu 
menutup Pesta Danau Toba di Parapat tercetus komentar, bahwa Pesta Danau Toba 
(PDT) dan Pesta Buah di Berastagi menjadi event tetap untuk memacu arus 
kunjungan wisatawan ke Sumut.

Menurut Sembiring, buah-buahan yang berkualitas seperti markisa berasal dari 
Berastagi. “Jadi ke depan masih memungkinkan dikembangkan terus menjadi 
komoditi ekspor.”

Pesta buah akan berlangsung di Open Stage Berastagi, sementara pertemuan SBY 
dengan para tokoh adat, bupati/walikota se-Sumut diharapkan akan berlangsung di 
Hotel Sinabung kota dingin itu. [win]


Best Regarts

www.dausmedia.cjb.net
 
 
 


      __________________________________________________________
Ta semester! - sök efter resor hos Kelkoo.
Jämför pris på flygbiljetter och hotellrum här:
http://www.kelkoo.se/c-169901-resor-biljetter.html?partnerId=96914052

Kirim email ke