Pupuk Langka, 45 Ribu Hektar Lahan Siap Tanam di Tigalingga Gagal
TanamSidikalang (SIB)
Sekitar 45 ribu hektar lahan pertanian di tiga kecamatan di Kabupaten
Dairi yaitu Tigalingga, Tanah Pinem dan Gunung Sitember sejak
beberapa bulan ini menjadi lahan kosong dan tidak produktif meski sudah
ditraktor. Para petani tidak kunjung menanam karena khawatir sia-sia
akibat pupuk tidak ada.
Hal itu mengemuka dalam pertemuan anggota DPR RI Bomer Pasaribu dengan
para petani dari berbagai kecamatan di Dairi, Sabtu (26/7) di ruang
rapat kantor bupati di Sidikalang. Pertemuan dihadiri Plt Sekdakab
Dairi Ir Arsenius Marbun, Ketua DPRD Leonard Samosir BA, sejumlah kadis
termasuk Kadis Pertanian Ir Martumpal Tinambunan, Kadis Kehutanan Ir
Tahan L Tobing para asisten, camat dan undangan lainnya.
Petani menuturkan, hal yang paling menyulitkan saat ini adalah masalah
pupuk. Sudah harganya mahal, pupuknya juga tidak ada. Kami sampai
menunda tanam karena pupuk tidak ada, begitulah situasinya, ujar
Sihombing seorang petani dari Sumbul.
Kadis Pertanian Dairi mengatakan, pada 2008 ini diperkirakan terjadi
penurunan produksi padi dan jagung (dua komoditas utama) di Dairi
sejumlah 10 hingga 15 persen. “Ini akibat kelangkaan pupuk tadi. Petani
jadi tidak menanam lagi, ini tentu berdampak pada hasil panen yang
pasti menurun jumlahnya,’ paparnya.
Camat Tigalingga Adil Tarigan SSos meminta perhatian yang optimal dari
pihak DPR RI soal kelangkaan pupuk itu. “Saya sampai merinding
menyaksikan lahan di daerah saya tidak kunjung ditanami padahal sudah
ditraktor. Petani tidak berani menanam karena tidak ada pupuk, jadi
kami berharap pertemuan ini bisa menghasilkan hal yang riil bagi para
petani, terutama di Tigalingga sekitarnya,” ujar Tarigan. Tigalingga,
Tanah Pinem dan Gunung Sitember dikenal sebagai daerah penghasil jagung.
Plt Sekdakab Dairi mengatakan, kondisi tersebut antara lain disebabkan
jatah pupuk yang diberikan jauh dibawah jumlah yang diajukan. ‘Kita
ajukan 14 ribu ton, tapi yang disetujui atau realisasinya hanya 7.800
ton, ini tentu menyebabkan kelangkaan itu,’ ujarnya.
Bomer mengaku terkejut dan prihatin atas kondisi itu. “Kalau sudah
sampai menunda menanam, ini sungguh menyedihkan. Ini memang antara lain
akibat perbedaan jumlah kebutuhan pupuk dengan jatah yang disediakan.
Ini harus kita atasi, sebab menurunnya produksi padi dan jagung sudah
tentu akan mengganggu ketahanan pangan nasional,” katanya. (T14/m)
Best Regarts
www.dausmedia.cjb.net