KOPERASI - waktu sekolah nai .... megiken teori tentang koperasi, ku pikirlah BAGUS kali. Dan mestinya memang bagus. NAMUN pada kenyataannya SDM dan budaya KKN yg sudah mendarah daging di republik ini menjadikan KOPERASI hanya sebuah fatamorgana belaka. Mungkin klo dibuat statistik yg betul, koperasi yg betul2 jalan itu hanya 1-5% dari yang ada. Tapi kebanyakan ya itu tadi, klo ga dananya dipake u/ kepentingan orang terdekat pelaksana Koperasi; ya dikorupsilah dan tau2 koperasi dinyatakan bangkrut. Dan lagi2 yg disalahkan warga yang tidak disiplin u/ mengembalikan pinjaman. apalagi coba? Ujung2nya rakyat yg dijadikan kambing hitam. MEMBOSANKAN bukan?
Ga ngerti juga salahnya di mana? Institusi? SDM? ato sistem kontrol yang lemah? entahlah.... tapi belakangan ada dengar di Bekasi ini macam BPR yg membantu kaum lemah lepas dari jeratan para rentenir; tapi aku sendiri belum mendengar/mencari tau pola macam apa yang diterapkan. Menurut propagandanya di radio sepertinya sukses siy, tapi blum tau lah kenyataannya spt apa. Memang siy klo apapun disikapi dengan apatis dan pesimisme ya susah juga. Tapi bagaimana lagi? Keadaan saat ini memang telah membunuh banyak harapan, dan ujung2nya membuat setiap orang menjadi EGOIS dan sibuk mencari serpi dgn segala cara demi memenuhi kebutuhan diri sendiri. lompat sitik rananta ei ... EMAKANA salut man impal Edy surbakti ningku ei ... hare geneeeeeee.........orang2 mah sibuk nambahi isi gajut2 i bank, sementara dia? apa yg dia lakukan? Sebaliknya!Kerikenna ka si lit na demi budaya Karo .. eak nggo kampanye lalapei .. Nina bapa i rumah .. adi colok cakapken, ola lompat ku api. Aku nggo lompat2 ei nake, lanai fokus ... emaka nta ku suah lebe ... ntah lit kari kai2 je si man dayanken ku tiga hahahaha .... me nggo pantas kel tempa ka ku teh ku suah ... HAPPY MONDAY!!! ----- Original Message ---- From: MU Ginting <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Sunday, August 3, 2008 3:16:47 PM Subject: [tanahkaro] Re: kembangkan tengkulak Merandal kuakap e Edi, enggo tambahindu sada pemikiren bas soal tengkulak ndai. KOPERASI. Tapi sada sirusur nai nari jadi pemikiren man bangku, perdalanen koperasi enda lalap denga kuidah bagi si lenga 'meyakinkan' , atau ja kin mungkin lepakna perkembangan koperasi enda? Sada si mekatep kubegi emkap budaya KKN ndai, payo kin enda ndia? Bujur MUG --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "Edi Tarigan (aka Mosokul)" <[EMAIL PROTECTED] .> wrote: Re: kembangkan tengkulak Kata JK di dalam hatinya... "Lumayaaannn. .. dapat massa pendukung".. . Tentunya para tengkulak punya duit utk bisa mendukung JK dalam gerakan politiknya. Sisi lain, soal tengkulak, selama sang tengkulak bekerja utk kepentingan pribadinya masing2, para nelayan tidak akan terbantu banyak. Pertanyaannya: mungkin enggak para tengkulak melakukan bisnisnya utk membantu para nelayan? Ini perlu diteliti, walaupun secara naluri akan sangat kecil kemungkinannya. Daripada tengkulak, lebih baik rasanya mengembangkan koperasi yang punya kapabilitas akses ke pasar. Milik nelayan, bertindak utk kepentingan nelayan dan untuk keuntungan nelayan. Solusi utk membangun negara kita sebenarnya terletak pada bagaimana mengembangkan pertanian, peternakan, perikanan dan pariwisata. Enggak perlu yang canggih-canggih kali. Enggak perlu terlalu mengharapkan investasi dari luar negeri yg umumnya membuat kita jadi lebih tercucuk hidung (spt kerbau). Kalau ada calon pemimpin yang menyatakan akan fokus pada hal di atas, maka perlu dipertimbangkan utk dipilih. Sentabi, saya bukan ahli politik. Cuma sekedar berbagi saja apa yg dirasakan berdasarkan naluri dan pengamatan. Best Regards, Edi Natanael Tarigan_____ _________ _________ _________ __ SAP Project Manager Project Odyssey - Friesland Foods Hellas Office: +302105589300 (Greece) Mobile: +306948111369 (Greece), +628121004532 (Indonesia) --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, MU Ginting <[EMAIL PROTECTED] ..> wrote: > > Wapres Dukung Pengembangan Tengkulak > Jakarta, (Analisa) > Wakil Presiden M Jusuf Kalla mendukung pengembangan tengkulak agar bisa diatur lebih baik karena selama ini membantu masyarakat nelayan dalam memperoleh modal tanpa birokratis. > "Jangan salah, tengkulak itu pedagang menengah, itu sama dengan grosir hanya kedengarannya jelek. Dan tidak semua tengkulak itu jelek," kata Wapres M Jusuf Kalla kepada wartawan usai sholat Jumat di Jakarta. > Menurut Wapres, tengkulak yang disebut juga punggawa, sudah hidup sejak puluhan tahun dan sampai sekarang masih tetap bertahan. Karena itu, lebih baik dikembangkan dan diatur supaya lebih baik. > "Tengkulak itu realita yang hidup, kita berikan rivalitas dengan servis yang lebih baik. Ditandingkan dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR). KUR yang berikan persaingan," kata Wapres. > Ketika ditanyakan bunga yang diberikan oleh tengkulak cukup tinggi, Wapres mengatakan sebenarnya tengkulak tidak mengambil untung dari bunga, tetapi dari penjualan. > Dan kelebihan tengkulak, tambah Wapres, bisa memberikan modal bagi nelayan pada saat melaut tanpa birokratis. > "Dan itu resikonya tinggi sekali. Siapa yang jamin kalau gagal, hanya kita perlu atur yang lebih baik," kata Wapres. > Sementara menurut Ketua DPP Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sumyaryo Sumiskun, tengkulak bukan lagi menjadi momok atau musuh yang harus dijauhi tetapi sebagai mitra bisnis. > "Selama ini tidak ada lembaga yang bisa menggantikan tengkulak yang tidak birokratis sehingga kita harus merangkulnya, " kata Sumyaryo. > Menurut Sumyaryo saat ini malah sudah berdiri Asosiasi Punggawa (tengkulak) yang dipimpin oleh M Salim yang juga merupakan bupati Rembang. > Untuk itu, tambah Sumyaryo, Wapres meminta HNSI bisa menjalin kerjasama dengan semua pemangku kepentingan masyarakat nelayan seperti asosiasi punggawa, pengusaha perikanan dan sebagainya. > "Nanti dalam Munas HNSI akan kita bicarakan mengenai kerjasama dengan Asosiasi Punggawa ini," kata Sumyaryo. > Menurut Sumyaryo dari data Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) tercatat jumlah nelayan tangkap Indonesia sebanyak 2,6 juta orang dan nelayan budi daya sebanyak 1,2 juta orang. > Sementara untuk produksi satu kilogram ikan diperlukan biaya sebesar Rp2000. (Ant)
