MJJ:
Koperasi secara umum hancur. Anomaly dari slogan "gotong royong" yang sering 
kita dengungkan, Kabinet Gotong Royong, nake.... "bersama kita bisa", "satu 
untuk semua, semua untuk satu", nina ka tole nari.  Saya setuju Carlos, 
kepengurusan koperasi berjalan tanpa ideologi, merefleksikan nyata sindrom  "if 
it aint nothing in it (for me), I aint doing noting for it"  Ironis, justru di 
masyarakat barat (Eropah) yang sering kita cap individualis, koperasi lebih 
mencengkram. 

Sehingga, hanya (beberapa)  syariah-based coop berjalan lumayan. Dipelopori 
oleh Muhamadiyah  dengan pembentukan BMT (Baitul  Ma Tamwil, BQ, Baitul Qiraj 
di Aceh)  di mulai di Pekalongan pada awal tahun 90an. Pada umumnya fokus 
sebagai lembaga keuangan mikro/KSP (simpan pinjam).

Dengan ideologi dan teknologi impor yang sama, Credit Union berjaya di daerah 
miskin NTT, pada umumnya sukses dengan diskrimanasi sex, hanya untuk 
perempuan.. he.. he.. he...  Asset dan keanggotaan CU Masyarakat Karo juga 
sudah mulai merambah digit, juga dimulai oleh gereja, yang saya tahu RK dan 
GBKP.  

Kembali ke laptop, "tengkulak" memiliki ideologi kapitalisme sejati. Memang 
banyak memberi konotasi jelek terhadap tengkulak maupun kapitalisme, tetapi 
saya sangat setuju dengan jusuf Kalla (walau saya tidak pernah milih Golkar, 
hanya sebagai GolKar tulen) bahwa tengkulak adalah tulang punggung jauh 
melebihi peran koperasi sebagai soko guru perekonomian. Saya tidak bisa 
membayangkan apa yang terjadi kepada ratusan petani, kalau tidak ada tengkulak 
penampung. Jruk Berastagi tidak akan pernah menghiasi super2 market dan pasar2 
buah di jakarta dan berbagai tempat di luar Sumut, dengan nama "Jeruk Medan" 
tanpa tengkukak. Apalagi kalau kita berbicara di masyarakat pesisir, 
nelayan-based economy, tengkulak tanggap karena koperasi gagal (jangan 
diputar-balikkan koperasi gagal karena tengkulak kuat).

Tengkulak lahir dari kegigihan. CV Haji Kalla bertahan menekuni pengumpulan 
coklat dan hasil pertanian Sul-sel lainnya sehingga kemudian mampu berbisnis 
mobil dan merambah yang lain. Bakri Brothers memulai dengan kopi di 
Lampung,...sampai ke Lapindo ... he he he.  Serius, tengkulak jeruk Berastagi 
yang bertahan ke Jawa hanya beberapa. Tengkulak tangguh pantas diapresiasi. 
Tengkulak musiman berguguran, biarlah mereka mencari lagi Jerusalem simbaru 
mereka masing2....  

Berbicara mengenai 'bunga', di ekonomi terbuka tingkatnya akan selalu mencari 
Jerusalem simbaru masing2, baik di Tengkulak maupun religious institution 
inspired BMT dan CU. Suku bunga efektif dari suatu LKM sejenis Grameen Bank 
pada saat sekarang ini akan melebihi 50 persen pertahun. Kalau di BMT dan CU 
mungkin sekitar 36 persen. Di tengkulak yang mengijon susah dihitung, tetapi 
satu hal yang nyata, mereka mengambil resiko yang sepadan. Sebelum memperoleh 
substitusi, walaupun belum menjadi compassionate capitalists, it's time for 
more to pay due respect to tengkulak.

Sentabi,
bp Nona Sampaguita        



----- Original Message ----
From: "Patriawan, Carlos" <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, August 4, 2008 11:29:24 AM
Subject: Re: [tanahkaro] Re: kembangkan tengkulak


2008/8/3 Kaipe_labo_mis iting <kaipe_labo_mis@ yahoo.com>:
> KOPERASI - waktu sekolah nai .... megiken teori tentang koperasi, ku
> pikirlah BAGUS kali.
> Dan mestinya memang bagus.
> NAMUN pada kenyataannya SDM dan budaya KKN yg sudah mendarah daging di
> republik ini
> menjadikan KOPERASI hanya sebuah fatamorgana belaka.
> Mungkin klo dibuat statistik yg betul, koperasi yg betul2 jalan itu hanya
> 1-5% dari yang
> ada.

sorry, kelupaan. mungkin 1-5% koperasi yang sukses itu adalah koperasi
yang punya strong "ideology".

contohnya koperasi dengan basis syariah di Indonesia itu terbukti
jalan terus dan berhasil dengan baik. saya pikir model koperasi
syariah ini sebenarnya bisa dikembangkan semua pihak.

bujur,

carlos
    


      

Kirim email ke