Sumber:
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/sumatera-utara/100-ha-padi-gagal-panen-2.html
Kecewa karena bibit padi bantuan pemerintah tidak
berbuah, ratusan petani Desa Batukarang,Kecamatan Payung,Kabupaten
Karo, kemarin membabat tanaman padi dengan mesin rumput.
Mereka merasa tertipu oleh
pemerintah pusat yang menyalurkan benih padi melalui Dinas Pertanian
Kabupaten Karo beberapa waktu lalu. Saat ini usia tanaman padi mereka
mamasuki empat bulan, namun tetap tidak mengeluarkan bulir padi.
Menurut sejumlah warga, kekecewaan bertambah karena saat penyaluran
bibit bantuan pemerintah tersebut, petani harus membayar Rp5.000 untuk
satu sak bibit padi seberat 5 kg.
”Aksi ini kami lakukan
sebagai ungkapan rasa kekecewaan kepada pemerintah yang memberikan
bibit padi yang kualitasnya tidak baik sehingga menimbulkan kerugian
yang cukup besar kepada petani,”kata Andreas Ginting, salah seorang
petani Desa Batu karang kemarin.
Menurutnya, selama masa tanam
musim kali ini, petani sudah mengeluarkan biaya yang cukup besar hingga
mencapai Rp10 juta per hektare (ha). Uang tersebut digunakan untuk
biaya produksi mulai dari masa tanam hingga menjelang panen. Pada musim
kali ini,petani diperkirakan merugi karena dalam 1 ha hanya mendapatkan
hasil sekitar 1 ton dengan harga jual Rp3 juta.Padahal, jika dalam
keadaan normal,setiap hectare tanaman padi bisa menghasilkan 8 ton.
”Petani
dalam setiap hektarenya ratarata mengalami kerugian sekitar Rp7
juta,”kata Andreas. Pada saat umur padi berumur dua bulan, Andreas
sudah curiga melihat perkembangan daun padi yang keropos. Selain itu,
tanaman padi yang dikeluarkan oleh salah satu penyalur bibit padi
berjenis IR 64 ini juga dinilai lamban berkembang dibandingkan
menggunakan bibit lainnya.
”Pada saat itu kami sudah
melaporkan hal tersebut kepada petugas di Dinas Pertanian yang ada di
Kabupaten Karo, tapitidakmendapattanggapan yang serius,”ungkap Andreas.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo Sidharta Pinem yang dihubungi
wartawan melalui telepon selulernya membenarkan adanya menyalurkan
bibit padi varietas IR 64 di Januari lalu. Namun, dia membantah jika
bibit yang disalurkan ke Desa Batukarang tersebut palsu.
Menurutnya,
bibit padi IR 64 sebanyak 10 ton diberikan secara cuma-Cuma, dananya
bersumber dari perubahan anggaran belanja daerah (PABD). Dia
menambahkan, bibit padi IR 64 yang disadurkan kepada petani sebelumnya
dalam kondisi baik dan saat itu langsung diserahkan kepada masyarakat
petani setelah dilakukan sosialisasi sebelumnya.
Kerusakan
padi petani Desa Batukarang diduga akibat serangan hama daun yang
biasanya membuat tanaman menjadi gagal panen. Meskipun
demikian,pihaknya akan melakukan penelitian lebih lanjut terhadap
tanaman padi di desa yang gagal panen tersebut.
Best Regarts
www.dausmedia.cjb.net