MJJ: Yang saya pernah dengar dan baca, bahwa koperasi yang akhirnya menjadi tangguh adalah yang diinisiasi oleh para anggotanya yang punya 'common problem', yang melihat bahwa 'persatuan' adalah cara mereka keluar dari permasalahan mereka seperti yang terjadi pada pekebun anggur di Perancis pada abad 18(?) Setelah bersatu dalam suatu koperasi mereka berangsung mampu menstabilkan pemasaran anggur mereka.
Gerakan koperasi di Indonesia praktis adalah "top-down" yang akhirnya cenderung melenceng menjadi komoditas politik. Lihat saja jajaran lembaga koperasi yang disampaikan oleh senina PS, semuanya adalah olahan pemerintah. Saya duga ini terkait dengan posisi Muh Hatta sebagai Wakil Presiden ketika 'memperkenalkan' koperasi di Indonesia. Kalau tadinya dikabar-baikkan dari dari grass root, katakan umpamanya oleh pelopor di pesantren2 dan diakonia karitatif gerejawi, mungkin agak lain ceritanya. Pada masa Suharto, pendekatan Top-Down semangkin mengental, hampir semua lembaga2 koperasi yang namanya dijejer senina PS berasal dari era ini. Pada waktu itu lah koperasi diberi fasilitas dengan memonopoli penyaluran SAPROTAN maupun sarana melaut disamping sebagai pengumpul hasil panen untuk dijual ke BULOG. Saya masih melihat beberapa runtuhan Gudang penyimpanan dan lantai penjemuran di beberapa desa di Karo yang saya lewati beberapa waktu lalu. Para nelayan pun di regulasikan supaya mendarat di TPI-TPI (tempat pelelangan) yang dilola oleh Koperasi, KUD Model lagi. Tidak sulit melihat kenapa mereka gagal. Penyalahgunaan wewenang dan korupsi merajalela dikalangan pengurus. Ketua memiliki kekuasaan mutlak, karena rata2 badan pengawasnya direkrut oleh Ketua itu sendiri. Jangan harap ada 'ideologi' di kalangan pengurus. Begitu program dari pemerintah berkurang (anggaran rielnya, bersama dengan sunatan2nya) maka mulailah Koperasi dan semua sarana gudang dan penjemuran jadi semraut. Akronim KUD jadi diplesetkan Kapan Uang Datang. Ngomong2, ada yang saya tahu mantan pengurus koperasi yang setelah KUDnya bangkrut berusaha sebagai tengkulak dan sampai sekarang usahanya yang sudah diwariskan sama anaknya berfungsi dengan baik sebagi penyangga dari kepentingan petani dan masyarakat di kelurahannya. Boleh saja kita merasa kesal pada tengkulak ini, tapi kalau menurut saya ada EKONOMInya kenapa beliau bertahan di kelurahan itu. Eak... adi la tandai ku tengkulak kuja nari rakyat lawes? Where do we go from here? Sentabi, Bp Nona Sampaguita ----- Original Message ---- From: Advent Tambun <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Thursday, August 7, 2008 8:25:16 AM Subject: Re: [tanahkaro] 1951: Cooperatives Gain in New Indonesia Ada salah satu trik yang mungkin bisa diterpkan, contoh, subsidi pupuk hanya diberikan melalui kelompok petani ( kooperasi) di tempat masing-masing. subsidi solar untuk kapal ikan hanya bisa disalurkan lewat kooperasi pelaut..... atau pelatihan tertentu hanya diberikan kepada kelompok petani atau etc. mjj adv. ----- Original Message ---- From: cpatriawgmail <[EMAIL PROTECTED] com> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com Sent: Wednesday, August 6, 2008 10:28:38 AM Subject: [tanahkaro] 1951: Cooperatives Gain in New Indonesia --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "Edi Tarigan (aka Mosokul)" <[EMAIL PROTECTED] .> wrote: > > Mjj Carlos ras kita kerina, > > Kan memang terbukti koperasi itu adalah alat yang handal untuk > memajukan masyarakat.. . ;) Contohnya sudah beberapa kali disampaikan > melalui email2 saya terdahulu. Email terakhir yg kukirim, memberikan > informasi tentang koperasi di Thailand... negara yang dekat dgn > negara kita... supaya contohnya tidak jauh2 amat gitu maksudku... :) > > Mudah2an ada "pemimpin" atau "calon pemimpin" kita yang mempunya > perspektif yg sama dan melihat bahwa koperasi bisa menjadi solusi utk > mengangkat kesejahteraan masyarakat Indonesia... Kalau ada "pemimpin" > yang membawa ide dan solusi ini dalam pemilihan tahun depan, perlu > juga rasanya didukung. > mantan pemimpin sudah ada , dan calon pemimpin pembawa 'revivalism' kepada kopeasi juga sudah ada cuman saya susah bilangnya ke milis ini karena nanti dikira sektarian. Berikut ada artikel dari New York Times tahun 1951 bagaimana Indonesia dulu banget gencar sekali dengan program Koperasi. Mungkin bisa diduga-duga kenapa terus koperasi kendor setelah Hatta resigned :-) :-) ============ ========= ========= ======== http://select. nytimes.com/ gst/abstract. html?res= F70715FF3B591B7B 93C2A8178BD95F45 8585F9&oref= login New York Times, Published Oct 10, 1951 Cooperatives Gain in New Indonesia Fast-Growing Movement Held Important in Combating Red Moves to Disrupt Economy JAKARTA, Indonesia, Oct. 9-- A fast-growing cooperative movement is becoming increasingly important in Indonesia's efforts to obtain social stability and improve living conditions. The cooperatives are viewed as a significant factor in countering communist moves to disrupt economy and foment strige and popular discontent. The Government is utilizing Economic Cooperation Administration aid to help develop cooperatives. WHile E.C.A. counterparts funds will go to establish a system of cooperative banks, other E.C.A. funds will finance study and trips by 24 Indonesian cooperative officials to USA and other countries. Meanwhile, a US expert is working here to hep the movement expand. Indonesia cooperatives are flourishing mostly in rural areas. At present day they are devoted mainly to providing credit for farmers and small traders. The grip of money lenders who charge rates up to 500 percent a year is bein broken in many villages. Four thousand cooveratives with roughly a million members now are functioning. The rate of growth is indicated by the fact that 3,000 have come into existence since Indonesia gained independence less than two years ago. Credit groups have build a total capital to the equivalent of more than $3,000,000 of which only a fraction has come from the government. In the last year, the Government has setup 19 schools to train cooperative organizer. 2000 students residing in primitive dormitories have gone through a month of thorough courses. So tough is the training that one third of the students have flunked. The movement's leader are planning on 1,000,000 more members in the next year or two and will extend the schools to train 6,000 additional entrants. Six government-appointe d aides will leave Friday to study cooperatives in USA. Among them are two men who will become heads of the cooperative bank system. The creator of Indonesia cooperative movement is vice President MOHAMMED HATTA who started the enterprise many years ago on patterns that he had studied in Denmark and other European countries. Most of the countries cooperatives were wiped out during the Japaneese war but their revival and expansion has become a major Government endeavor. The traditional communal character of Indonesia rural society lends itself to modern cooperatives. The movement appeals to the Indonesian as a way of escaping the toils of the Chinese money lenders and middlemen who control most of the lending of small capital. New York Times, Published Oct 10, 1951 ============ ========= ========= ========= ========= =
