Gubernur Aceh Diisukan Terkena Stroke
Kepala Biro Hukmas: Itu Berita Bohong
Banda Aceh, (Analisa)
Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Irwandi Yusuf diisukan terkena
serangan stroke saat memimpin suatu Rapat Koordinasi Pimpinan Daerah
(Rakorpimda), Kamis (7/8) pagi, dan disebut-sebut sempat tak sadarkan diri
sehingga rapat tersebut terpaksa dipimpin Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar.
Tak ayal, berita dilansir oleh sebuah situs website terkemuka tersebut membuat
kalangan wartawan dan sebagian warga Kota Banda Aceh pada hari itu, menjadi
bingung. Apalagi dikabarkan Irwandi terpaksa dilarikan ke sebuah rumah sakit
terkemuka di Singapura dengan sebuah pesawat khusus untuk mendapatkan
pertolongan secepatnya.
Mendapatkan informasi yang berkembang sangat cepat terutama setelah ditulis
oleh website tadi, para wartawan baik media cetak maupun media elektronik
langsung meluncur menuju Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang
Bintang, Aceh Besar karena sang gubernur hendak diberangkatkan untuk berobat ke
luar negeri.
Namun, sesampainya para jurnalis di bandara tersebut, informasi yang didapatkan
justru sangat berbeda sekali dari isu yang berkembang sebelumnya.
Sejumlah staf di bagian protokoler Kantor Gubernur NAD serta orang-orang dekat
Irwandi Yusuf yang berada di bandara yang baru saja mengantarkannya
menyebutkan, Gubernur Aceh justru dalam keadaan sehat-sehat saja.
"Ketika berangkat dari Kantor Gubernur tadi, Irwandi malah mengemudikan mobil
sendiri, kondisi fisiknya juga terlihat sehat dan berjalan dengan gagah," ujar
mereka.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh sejumlah warga lainnya yang berada di
Bandara SIM, yang kebetulan sempat melihat kedatangan Irwandi.
"Menurut penglihatan kami, gubernur sehat-sehat saja dan tadi sempat meninjau
pembangunan bandara bersama beberapa petugas dari Angkasapura," jelas warga
tadi.
Membantah
Sementara itu, Kepala Biro Hukum dan Humas Setdaprov NAD, A Hamid Zein SH
ketika dikonfirmasi wartawan terkait adanya berita yang ditulis oleh situs
website tadi yang menyebutkan Gubernur Aceh itu terkena stroke, ia langsung
membantahnya.
"Siapa bilang gubernur terkena stroke, beliau dalam keadaan sehat walafiat.
Website itu telah menyebarkan berita bohong kepada publik, seharusnya mereka
tidak asal menulis berita untuk mencari sensasi," terang Hamid Zein.
Menyangkut dengan keberangkatan Gubernur Irwandi Yusuf menuju Singapura,
menurutnya, hari itu memang jadwal Irwandi untuk melakukan medical check-up ke
sebuah rumah sakit di negara tersebut.
"Irwandi melakukan medical check-up setiap satu bulan sekali. Jadi saya minta
wartawan agar dapat meluruskan berita itu, agar masyarakat tidak resah dengan
adanya berita yang asal tulis itu," harap Hamid.
Gubernur Irwandi Yusuf berangkat ke Singapura lewat Bandara SIM sekitar pukul
11.00 WIB, dengan menggunakan pesawat carteran jenis Cassa yang disewa dari
Malaysia. Namun belum diketahui, jadwal kembali Irwandi. "Tergantung kondisi
beliau di sana," terang Hamid.
Irwandi Yusuf juga mengakui dirinya dalam beberapa hari ini mengalami pening,
sehingga harus melakukan medical chek-up yang biasa dilakukannya selama ini.
(mhd)
--
KOMENTAR
Penyelesaian internal-colonialism sungguh-sungguh tidaklah gampang. Begitu
diseluruh dunia, di Rwanda ratusan tahun internal colonialism Tutsi, satu juta
dibantai dalam waktu singkat, di Yugoslavia ratusan tahun dominasi Serbia
berakhir dengan ethnic-cleansing dan bunuh diri Milosevich. Di Soviet belasan
etnonasional muncul. Masih berlangsung di Kenya, Nigeria, Srilangka, Indonesia,
dan dalam beberapa dekade akan menuju Amerika yang sekarang sedang mengumpulkan
prasyarat yang pasti.
Di Aceh, tidak gampang bagi Iswandi Yusuf karena cita-citanya bertentangan
dengan arus sejarah nyata. Bisa mendatangkan stroke dan kematian baginya
sendiri. Mempertahankan MoU Helsinki yang tadinya dibikin tidak atas
persetujuan orang-orang Gayo, Alas dan semua etnis-etnis lain di NAD, hanya
berdasarkan sikap mati etnis Aceh dan GAM bahwa etnis-etnis lain itu semua
adalah orang Aceh (Pusat tadinya juga tidak mengerti kalau banyak etnis lain di
NAD). Sekarang Megawati PDIP ikut berkaok setuju pemekaran ALA-ABAS karena
aspirasi rakyat katanya. Bagus bu Mega, "lebih baik terlambat daripada tidak
sama sekali" kata orang Eropah.
Usaha mempertahankan hegemoni Aceh/GAM atas 11 etnis NAD dan daerahnya yang
luas (75% dari NAD), dalam diri Iswandi Yusuf bukanlah hal ringan. Dia harus
mengumpulkan dan memobilisasi 1001 alasan yang semuanya sudah ketinggalan zaman
(historis) dan tidak masuk akal bahkan baginya sendiri. Bagaimana misalnya MoU
dipertahankan kalau 11 etnis dan daerah (75%) lainnya tidak ikut didalamnya?
Sebentar lagi diantara orang Aceh sendiripun akan malu sendiri menonjolkan soal
ini, karena jelas bahwa ini adalah bentuk tidak mengakui dan tidak menghormati
existensi etnis-etnis lain, jelas adalah bentuk arogansi ratusan tahun
internal-clolonialism antar-etnis, tak ubahnya seperti sikap arogansi
internal-colonialism Tutsi di Rwanda, Serbia di Yugoslavia atau Rusia di Soviet
dan terakhir orang Kikuyu di Kenya.
"Paranoia Separatisme", kata penentang pemekaran NAD. Istilah separatisme yang
sudah jarang kita dengar di Indonesia maupun seluruh dunia. Mengapa? Itulah
perkembangan zaman, perkembangan sejarah yang sekarang justru memihak
'separatisme'. Mereka yang masih belum melihat dan belum mengerti perkembangan
pengertian istilah ini sungguh sangat jauh ketinggalan. Bukankah sudah cukup
mengherankan dan bertanya pada diri sendiri mengapa istilah itu tidak populer
lagi?
Ketika propinsi Sumatera Timur dikumandangkan hampir setengah abad lalu, bukan
main ramainya pemakaian separatisme itu. Ketika itu belum ada istilah
pemekaran. Tetapi pemisahan dari Sumut, mengelakkan hegemoni dan dominasi
Tapanuli terutama orang-orang Tapsel/Mandailing yang kemudian juga ternyata
adalah hegemonist utama Sumut sampai era reformasi. Sekarang orang
Tapsel/Mandailing malah ingin bikin propinsi sendiri (dipaksa keadaan,
perkembangan sejarah), karena telah dimulai lagi Sumtim oleh Karo, Melayu,
Simalungun, dan Batak Protap. Walaupun orang Tapsel/Mandailing masih
berdualisme seperti yang sudah sering saya postingkan, dan begitu juga Batak
yang masih mengharapkan kemungkinan menggantikan hegemoni Tapsel/Mandailing di
Sumut, tetapi bagi Karo kelihatannya tidak ada alternatif yang paling cocok
selain bikin propinsi sendiri atau persiapan menuju kesana. Dalam persiapan
Karo ini jelas masih kelihatan orang-orang Batak dan Tapsel/Mandailing bersatu
bikin usaha menghalangi. Kita melihat bagaimana bupati pendatang Amri Tambunan
memecah daerah Karo tetapi menghalangi pemekaran Delihulu dan Serdanghulu, tapi
malah mekarkan Sergai. Dalam persaingan Batak-Mandailing terdapat keserempakan
mereka menghadapi Karo. Hal ini juga terlihat di USU, mengapa Karo tidak berani
memilih calon rektor dari calon Karo. Kedua etnis Tapanuli ini (Batak dan
Mandailing) jadi bersatu menentang kemunculan/kebangkitan Karo di USU.
Jutaan korban ethnic cleansing + pemimpin-pemimpin etnis dominan jadi korban
penjara, bunuh diri atau stroke adalah konskwensi perkembangan sejarah yang tak
terelakkan, menghilangkan ratusan tahun internal-colonialism: ethnic revival
atau culurutal revival. Kebanggan kita akan Indonesia kita yang multi-etnis ini
ialah bahwa kita sudah menemukan penyelesaian logis, rasional dan terhormat:
PEMEKARAN.
Pemekaran atas dasar saling mengakui, saling menghormati dan saling menghargai
sesama etnis.
Mejuah-juah kita kerina
MUG
--
__________________________________________________________
Går det långsamt? Skaffa dig en snabbare bredbandsuppkoppling.
Sök och jämför priser hos Kelkoo.
http://www.kelkoo.se/c-100015813-bredband.html?partnerId=96914325