Di hampir semua belahan dunia ini telah ada sistem kooprasi delam bentuknya
sendiri-sendiri. Di tanah karo dari dulu telah hidup dan tumbuh dengan baik
ARON. Ini adalah kooperasi dalam bentuk sederhana dimana para anggotanya
menawarkan tenaga sebagai sumber utama kooprasi tersebut. Aron adalah kelompok
petani yang sistem kerjanya adalah bergiliran dari satu ladang ke ladang yang
lain. Sistem Aron ini tidak jauh berbeda dengan Arisan, atau San yang dikenal
di Amerika Latin. Bedanya adalah dalam bentuk modal yang ditanamkan, Aron
menanamkan tenaga sebagai modal sementara Arisan menanamkan uang sebagai modal.
Sayang, bentuk Aron ini sudah tidak familiar lagi saat ini.
Sekarang mari kita berteori sedikit dan melihat bagaimana sesungguhnya Aron itu
bisa menjadi kekuatan ekonomi pertanian ( sayang sudah keburu mati...tetapi
sesuatu yang mati bisa saja bangkit dalam bentuk yang lain). Sekali lagi, mari
kita berandai-andai....
Katakanlah Aron itu terdiri dari 10 orang anggota, dan setiap anggota memiliki
satu ladang yang membutuhkan 100 kg pupuk pertahun. Artinya mereka butuh 1 ton
pupuk pertahun. Bila mereka bergabung dan membeli pupuk sendiri-sendiri maka
dibutuhkan biaya transport 100 rb per orang, yang artinya kesepuluh orang
tersebut akan mengeluarkan 1.000.000 rupiah untuk biaya transport. Tetapi bila
mereka membeli secara bersamaan, maka jumlah satu ton tersebut akan diantar ke
tempat mereka dan dengan demikian biaya transportnya akan kurang setengah.
Artinya mereka untung rp. 500.000. Dan biasaya kalau pembelian pupuk banyak
maka akan dapat diskon 10 persen. Nah dengan demikian kelompok ARon ini akan
untung Rp. 600.000 per tahun, hanya dari pupuk saja.
Perbandingan harga
pupuk bila dibeli perorangan dan kelompok
Jumlah orang Bentuk pembelian Jumlah pupuk Harga pupuk Total harga pupuk
Keterangan
10 Sendiri 100 kg 10.000/kg 1.000.000
10 kelompok 100 kg 9.000/kg 900.000 discont sepuluh persen dari harga normal
karena membeli banyak
Biaya transport pembelian pupuk
Jumlah orang Bentuk pembelian Jumlah pupuk Biaya transport Total harga pupuk
Keterangan
10 Sendiri 100 kg 10.000 1.000.000
10 kelompok 100 kg 5.000 500.000 Biasanya kalau kita membeli jumlah besar si
pedagan bersedia mengantarkan sendiri dengan tambahan sedikit biaya transport
Jadi
Biaya pembelian
pupuk secara perorangan adalah : 2.000.000
Sedangkan,
Biaya pembelian
pupuk secara bersama adalah : 1.400.000
Jadi cost yang bisa diminimalizir ( atau untung) adalah 600.000.
Nah bila kebutuhan lain dilakukan dalam bentuk yang sama maka cost yang bisa
dinimalisir akan jauh lebih besar.
Kesimpulan:
1. Kooperasi sangat cocok dengan Indonesia dan sudah pernah ada. Sayangnya
mereka yang kemudian datang dengan konsep kooperasi eropahnya tidak
memperhatikan kekayaan CULTURAL ini dan terlalu dini mengambil kesimpulan bahwa
kooperasi tidak cocok dengan budaya kita.
Pertanyaan :
Mengapa tidak berkembang seperti di Eropa? Pertanyaan yang sama saya lontarkan
ketika dikampungku orang meruntuhkan rumah adat untuk membangun rumah batu
dengan tiang gaya Spanyol( sedangkan di Spanyol sendiri rumah-rumah tua itu
sangat mahal harganya dan dijaga) Mungkin, karena kita terlalu sibuk melihat
dunia yang jauh dari kita dan melupakan kekayaan yang kita miliki sendiri.
Mjj,
advent tambun
www.bukuspanyol.com
----- Original Message ----
From: Martin Peranginangin <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, August 8, 2008 12:18:00 AM
Subject: Re: [tanahkaro] Re: kembangkan tengkulak
Koperasi atau apaun namanya untuk memajukan masyarakat perlu didujung saya
kira. Selasa (5/8) kemarin kebetulan Pak Romanus Purba (Ketua DPRD Karo),
Makmur Ginting (Sekda) dan Firman Kaban (Kadis PU) datang bercengkrama di rmh
Bp NJ Sembiring, cerita berwacana mengembangkan pertanian di T. Karo, lalu esok
harinya bertemu ke Direktur Batan guna menjajaki kerja sama dengan Pemkab Karo.
Bagaimana upaya supaya hasil pertanian di Karo bisa lebih kompetitif. Nantikan
cerita lengkapnya di Sormid mendatang.
MP
--- On Tue, 8/5/08, Edi Tarigan (aka Mosokul) <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
From: Edi Tarigan (aka Mosokul) <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: [tanahkaro] Re: kembangkan tengkulak
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Tuesday, August 5, 2008, 7:35 AM
Mejuah-juah man banta kerina,
Koperasi itu bagus dan sangat handal utk bisa dijadikan tools untuk
memajukan masyarakat. Memang pelaksanaannya di Indonesia sejak dulu
tidak seindah konsepnya. Kurasa itu karena memang karena manusia
pelaksana-nya. Seperti biasanya berbagai hal yg "dicoba" di
implementasikan di Indonesia, sering sekali tidak berhasil bukan
karena hal apa2 tapi karena pelaksana/manusia nya.
Resiko terbesar dalam sebuah rencana utk melaksanakan sesuatu
adalah "manusia" nya. Justru "manusia" nya yang paling perlu
ditangani.
Kembali ke koperasi, seperti yg sudah pernah disebutkan dalam email2
saya terdahulu, dalam beberapa industri, perusahaan yg terbesar
sebenarnya adalah koperasi. Contohnya: Fonterra di New Zealand,
perusahaan ini adalah koperasi yg besar yg kepemilikannya dipegang
oleh peternak plus para investor di pasar saham. Sebegitu besarnya
sampai mereka go public.
Ada contoh satu lagi perusahaan besar di Belanda yg merger
(Frieslandfoods - Campina), kebetulan saya dikontrak oleh perusahaan
ini, juga sebenarnya adalah koperasi yg dimiliki oleh 17ribu petani.
Beritanya bisa dibaca disini:
http://www.foodinte rnational. net/articles/ news/988/ merger-planned- for-
friesland-foods- and-campina. html
Saya tidak mau berdebat bahwa koperasi itu tidak cocok di Indonesia,
atau lain sebagainya.
Saya juga tidak mau menganalisa lebih jauh mengapa koperasi itu gagal
di Indonesia atau mencari tahu apa yg salah dalam implementasinya
terdahulu...
Tapi yg terlihat adalah bahwa koperasi kalau dikelola dengan baik
bisa menjadi alat untuk memajukan para petani. Melihat ukuran
Indonesia yg besar dan kompleks, tentu saja perlu dimulai dari
lingkungan industri yg kecil dulu. Jangan besar2, karena kita bukan
superman. Perlu strategi, taktis, pendekatan, pilot, metodologi,
change management dlsb.
Sibarem lebe, sekedar berpendapat. Tapi kalau ada yang mau
menuangkannya ke dalam pelaksanaan, boleh juga kita turun runding
lebih jauh lagi.
BTW, mengenai JK, kalau beliau yakin bisa mengembangkan tengkulak utk
memajukan masyarakat banyak, menaikkan taraf kesejahteraan dan
memutar roda perekonomian dgn lebih baik, yah itu terserah beliau...
I would agree to disagree... :)
Best Regards,
Edi Natanael Tarigan_____ _________ _________ _________ __
SAP Project Manager
Project Odyssey - Friesland Foods Hellas
Office: +302105589300 (Greece)
Mobile: +306948111369 (Greece), +628121004532 (Indonesia)
--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "MU Ginting" <[EMAIL PROTECTED] ..> wrote:
>
> Merandal kuakap e Edi, enggo tambahindu sada pemikiren bas soal
> tengkulak ndai. KOPERASI.
> Tapi sada sirusur nai nari jadi pemikiren man bangku, perdalanen
> koperasi enda lalap denga kuidah bagi si lenga 'meyakinkan' , atau
ja
> kin mungkin lepakna perkembangan koperasi enda? Sada si mekatep