Perkembangan diskusi ini memang sangat menarik dan menambah banyak pengetahuan. Sekarang, Advent Tambun mengajak kita memikirkan kembali sistim aron (aron sidekkah). Ajakannya membuat saya teringat pada ajakan saya beberapa bulan lalu di Sora Sirulo 18 (edisi April 2008).
Bukan karena kami punya tawaran cara yang sama, tapi karena punya spirit yang sama; koperasi dalam bentuknya yang paling sederhana/dasar, yaitu memadukan modal untuk mendapat hal-hal yang tidak akan tercapai secara perorangan. Di bawah ini akan saya sertakan tulisan itu (juga dapat dibaca di http://sorasirulo.info/). Kolom Juara R. Ginting Informasi "Kali ini kita menanam cabai saja di ladang Juma Kenjahen," kata Pa Tongat kepada Nandé Tongat, sesaat setelah selesai makan malam. "Beberapa tahun belakangan ini kita menanam kool, mengapa sekarang menanam cabai?" Tanya Nandé Tongat sambil mengumpulkan piring-piring yang tadi mereka pakai makan sekeluarga. "Bengkila yang biasa melanggani kool kita tidak lagi membroker kool. Orang-orang kampung inipun, kudengar-dengar tadi siang di kedai, sepertinya banyak menanam cabai tahun ini." "Apakah harga cabai akan tinggi?" "Tak ada yang tahu pasti. Entah apa alasannya, bagiku juga tidak jelas, orang-orang di kedai Pa Mbergoh bilang sebaiknya menanam cabai tahun ini," sahut Pa Tongat sambil menggapai botol Vigour di kolong tempat tidur Tongat, tak jauh dari tikar tempat mereka makan. "Adi nuan lacina kin nindu, lacina sisuan," kata Nandé Tongat sambil melayangkan senyum menatap Pa Tongat menuang Vigour ke cangkir plastik. Mata Pa Tongat menangkap senyum itu. Pandangannya mengiringi langkah Nandé Tongat membawa piring-piring kotor ke dapur. * * * * Sebagian besar lahan Karo dapat ditanami dengan apa saja. Mengapa di sebagian daerah Karo lebih banyak tanaman-tanaman tertentu dan di daerah-daerah Karo lainnya kebanyakan tanaman lain? Ada daerah-daerah yang lebih cocok dengan tanaman tertentu. Singalorlau dan Berneh, misalnya, adalah daerah kering (curah hujan lebih rendah dari daerah Karo lainnya) sehingga lebih cocok untuk tanaman jagung daripada sayur-sayuran. Tapi, di dalam banyak kasus, bukan soal kecocokan tanah atau keadaan cuaca saja. Kebiasaan turut memainkan peran. Kampung-kampung sekitar Berastagi yang dekat dengan Gunung Sibayak, misalnya, cenderung menanam wortel, prei, daun sup, cabai, tomat, dan brokoli yang kurang diminati daerah-daerah Karo lainnya meskipun tanaman ini bisa tumbuh di tempat-tempat lain. Minat menanam jenis tanaman tertentu sering sekali dipengaruhi oleh jaringan dagang. Sebaliknya, pedagang hasil pertanian biasanya berasal dari kampung yang kebanyakan bertani apa yang dia dagangkan. Broker-broker wortel di Pasar Beratagi, misalnya, umumnya orang-orang yang berasal dari daerah penghasil wortel. Kecenderungan ini bukan hanya terkait dengan pengalaman dan pengetahuan, tapi juga dengan jaringan sosial. Bila kam berasal dari Juma Raja dan bekerja sebagai broker sayur di Pasar Berastagi, orang-orang Juma Raja merasa lebih enak menjualkan panennya kepada kam. Salah satu alasannya, saling kenal dan ada pertalian keluarga. Tidak perlu hitungan rumit karena percaya tidak akan saling menipu. * * * * Petani Karo, sedari dulu terkenal tangkas bercocoktanam. Tidak hanya tangkas menanam dan merawat tanaman serta memanen dan mengemas hasil panen dengan berbagai bahan dan peralatan yang sudah ada. Petani Karo juga telah menemukan banyak bahan dan peralatan pertanian yang tidak ada di daerah-daerah lain. Lebih jauh lagi, mereka mampu meracik pupuk atau obat-obat pertanian agar khasiatnya lebih dahsyat lagi. Akan tetapi, dalam hal menjualkan hasil panen, petani Karo masih terlalu menunggu. Untuk menjajaki harga pasar, kebanyakan hanya sampai pada tahap menanyakan orang-orang di sekelilingnya: "Kasakai lakona jaung kéna ndai?" Atau: "Uga ndai erga lacina i tiga?" Padahal, harga penjualan di pasar terdekat sangat tergantung pada kebutuhan pasar yang lebih luas. Bahkan, untuk beberapa jenis hasil pertanian, tergantung sekali pada kebutuhan pasar dunia. Koperasi dalam arti sesungguhnya bisa membawa para petani ke penguasaan pasar yang lebih luas. Namun, koperasi dalam prakteknya di Taneh Karo hampir tak ada yang betul-betul hidup sebagai koperasi, kecuali di desa Bukit (Kec. Dolatrakyat, Kab. Karo) yang sudah sejak akhir 1940an hingga sekarang sangat terbantu oleh koperasi. Entah apapun namanya, terpenting ada kerjasama diantara petani dalam usaha mendapatkan informasi pasar seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya. Lalu, bekerjasama mengolah semua informasi menjadi pengetahuan bersama dalam memilih jenis-jenis tanaman yang ditanam dan, nantinya, bersama pula menentukan harga jualnya. Bila kita sudah terbiasa bekerjasama mengolah informasi menjadi pengetahuan dalam menentukan sikap bersama, meski mulanya kecil-kecilan, kita juga akan terlatih menjual suara bersama dalam menentukan sikap politik. Tanpa harga jual yang kuat, suara kita tak didengar oleh politisi maupun pemerintah. Boleh saja berkeluhkesah, erbilang-bilang suari berngi, tapi tak seorang jua mendengarkan bilang-bilang yang tak punya harga jual atau pura-pura tidak didengar agar kita percaya bahwa suara kita tak pantas didengar. Langkah pertama, hargai informasi dan bekerjasama mengolahnya menjadi pengetahuan sendiri dalam menentukan sikap.
