FYI saja, untuk yang suka sejarah..ada seminar mengenai penodongan
Bung Karno dan hilangnya supriyadi.
bujur,
MCPS
--------
Teman-teman,
mohon bantuan Anda menyebarluaskan kabar istimewa ini ke teman-teman
pencinta sejarah dan politik.
Penerbit Galangpress akan menghadirkan diskusi istimewa buku terbaru
"Mereka Menodong Bung Karno" di Semarang, Sabtu, 9 Agustus 2008.
Jangan lewatkan kesempatan ini. Soekardjo Wilardjito, penulis buku
ini, akan hadir membongkar semua yang ia tahu tentang penodongan bagi
Bung Karno saat hendak menandatangani Supersemar. Mantan pengawal
Presiden Bung Karno ini akan membeberkan rahasia besar pengambilalihan
paksa kekuasaan Republik oleh Soeharto:
Buku kedua yang akan kami hadirkan adalah "Mencari Supriyadi" dengan
penulis Dr Baskara T Wardaya (sejarawan, Direktur Pusat Sejarah dan
Etika Politik Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta).
pukul 11.00-13.00 diskusi di Knowledge Forum Semarang
pukul 14.00-18.00 diskusi di TB Gramedia Pandanaran
Akan hadir sebagai pembicara, selain para penulis, adalah Andaryoko
Wisnuprabu (pelaku sejarah) dan, sedang dalam konfirmasi, Dr George
Junus Aditjondro.
Kapan di Jogja? Sabtu, 16 Agustus 2008 pukul 14.00 di TB Gramedia
Sudirman. Dengan pembicara yang sama.
salam dahsyat,
AA Kunto A
Penerbit Galangpress Group
www.galangpress.com
Pada tahun 1945, Kota Blitar menjadi pusat pemberontakan tentara PETA
yang dipimpin oleh Sodancho Supriyadi, melawan tentara Jepang. Untuk
mengenang jasa beliau, dibangunlah sebuah monumen yang terletak di
depan bekas markas PETA (depan TMP Raden Wijaya). Selain di sana, juga
dibangun sebuah patung setengah dada Supriyadi yang terletak di depan
Pendapa Kabupaten Blitar.
Di berbagai buku sejarah, diungkapkan bahwa beliau adalah seorang
pahlawan yang sangat mempunyai andil dalam perjuangan kemerdekaan
Indonesia. Tapi, benarkah Supriyadi telah wafat? Atau dia menghilang
secara misterius pasca gagalnya pemberontakan tentara PETA? Lalu
bagaimana dengan monumennya?
Supriyadi tidak gugur. Ia tetap hidup dan berkiprah sampai sekarang.
Itu yang diungkapkan dalam buku ini. Benarkah demikian? Ya. Semuanya
diungkap dalam buku teranyar dari Penerbit Galangpress. Anda ingin
tahu misteri hilangnya Supriyadi? Bacalah dan dengarkan tuturan sang
pelaku sejarah
Bacalah bukunya dan hadiri pula diskusi buku ini pada Kamis, 7 Agustus
2008, pkl 16.00 di TB. Gramedia Jl. Pandanaran Semarang. Dengan
pembicara langsung dari penulis Baskara T. Wardaya SJ. (yang juga
menulis buku laris Bung Karno Menggugat dan Supersemar), dan Andaryoko
Wisnuprabu (pelaku sejarah).
Ungkaplah misteri hilangnya Supriyadi, dan dengarkan tuturannya
Salam dahsyat,
Redaksi Galangpress
www.galangpress.com
Judul: MENCARI SUPRIYADI
Penulis: Baskara T. Wardaya SJ.
Harga: Rp 66.000
Blitar, 1945. Pada bulan Februari tahun itu sesuatu yang luar-biasa
terjadi di sana: para sukarelawan Pembela Tanah Air (PETA) melakukan
pemberontakan berdarah. Mereka melancarkan serangan militer terhadap
tentara Dai Nippon. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Tetapi
pemberontakan gagal. Meskipun demikian pemberontakan yang dipimpin
oleh Shodancho Supriyadi yang gagah berani itu telah menjadi sumber
inspirasi bagi perlawanan terhadap penjajah.
Masalahnya, di mana Supriyadi setelah pemberontakan itu? Kalau dia
gugur atau tertangkap, mengapa tak ada bukti atau saksi mata? Tetapi
kalau ternyata dia selamat dan hidup, mengapa tak seorangpun tahu di
mana dia berada? Anehnya, Presiden Soekarno menunjuk Supriyadi sebagai
Menteri Keamanan Rakyat dan kemudian Panglima TKR (Tentara Keamanan
Rakyat). Apakah itu berarti bahwa sebenarnya Supriyadi tetap hidup dan
terus berjuang tetapi tanpa kita sadari?
Buku Anda ini bermaksud menawarkan kemungkinan jawaban. Bahan yang
dipakai adalah bahan sejarah lisan. Sumbernya seorang mantan pejuang
kemerdekaan yang konon mengetahui di mana Supriyadi berada. Menurut
dia Supriyadi tidak gugur. Ia tetap hidup dan berkiprah sampai
sekarang. Sampai sekarang? Betul. Begitulah menurut dia. Lewat buku
ini Anda diundang untuk menemui dia dan mendengarkan tuturannya.
2008/8/1 Info Galangpress <[EMAIL PROTECTED]>
Soekardjo Wilardjito yang sebelumnya dituduh menyebarkan kabar
bohong dalam peristiwa Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) kini
bernapas lega. Pasalnya, Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan kasasi
yang diajukan jaksa penuntut umum (JPU).
Dengan tidak diterimanya permohonan kasasi JPU, maka apa yang
dilihat dan dialami Wilardjito pada 10 Maret 1966 dini hari tentang
adanya upaya paksa 4 jenderal terhadap Soekarno untuk menandatangani
Supersemar tidaklah bohong yang menyebabkan keonaran.
Inilah kesaksian langsung dari Wilardjito, Sang Pengawal
Presiden... yang tertulis dalam buku teranyar dari Penerbit
Galangpress Group.
Salam,
Redaksi Galangpress Group
www.galangpress.com
MEREKA MENODONG BUNG KARNO
Penulis : Soekardjo Wilardjito
ISBN : 978-602-8174-06
Ukuran : 15 x 23 cm
Tebal : 354 halaman
Harga : Rp 59.000,-
Dinihari, tanggal 11 Maret 1966 merupakan saat-saat yang
menggetarkan bagi Soekardjo Wilardjito. Waktu itu ia menyaksikan
sendiri satu sekuel sejarah kelam bangsa ini. Empat jenderal mendadak
mengunjungi Istana Bogor, mereka adalah Jenderal M. Yusuf, Amir
Machmud, Basoeki Rachmat, dan M. Panggabean. Mereka meminta Presiden
Sukarno untuk menandatangani sebuah surat yang sangat penting.
Dalam memoarnya ia menulis: Hanya mengenakan baju piyama, Bung
Karno menemui keempat jenderal tersebut. Lantas Jenderal M. Yusuf
menyodorkan sebuah surat dalam map warna merah jambu. Setelah membaca
surat tersebut, dengan nada terkejut, Bung Karno spontan berkata:
"Lho, diktumnya kok diktum militer, bukan diktum kepresidenan!"
Mendengar kata Presiden seperti itu, secara refleks aku yang
berada di ruangan tersebut tak kalah terkejutnya. Surat itu tidak
terdapat lambang Garuda Pancasila dan Kop surat tersebut bukan
berbunyi Presiden Republik Indonesia, melainkan kop di kiri atas,
Markas Besar Angkatan Darat (Mabad). "Untuk merubah, waktunya sudah
sangat sempit. Tanda tangani sajalah, Paduka. Bismillah," sahut
Basoeki Rachmat, yang diikuti oleh M. Panggabean mencabut pisol FN 46
dari sarungnya.
Secepat kilat aku juga mencabut pistol. "Jangan! Jangan! Ya sudah
kalau mandat ini harus kutandatangani, tetapi nanti kalau masyarakat
sudah aman dan tertib, supaya mandat ini dikmbalikan kepadaku."
Keempat jenderal itu lantas mengundurkan diri. "Mungkin aku akan
meninggalkan istana, hati-hatilah engkau," kata Bung Karno kepadaku.
Dan benar itu menjadi malam terakhirku berjumpa dengan Bung Karno
Buku ini banyak mnguak tabir sejarah yang selama ini terpendam.
Berikut kisah pilu dan menghancurkan dari penulisnya yang notabenenya
seorang eks tapol Orde Baru. Luar biasa, di hari senjanya ia masih
mampu merekam kisah hidupnya dan terus menuliskannya menjadi jejak
sejarah yang tak pernah kering.